Dakwah & Pemikiran • 2025

Bergabung dengan Muhammadiyah: Apakah Berarti Keluar dari Manhaj Salaf?

Belakangan ini sering muncul perdebatan panas (yang sebenarnya tidak perlu) soal label "Salafi" dan "Ormas". Ada anggapan kalau sudah ber-Muhammadiyah, maka keanggotaannya di Manhaj Salaf otomatis "hangus". Benarkah begitu? Atau jangan-jangan kita cuma kurang ngopi sambil baca sejarah?

Mari kita luruskan dulu: Manhaj Salaf pada hakikatnya bukan identitas organisasi, yayasan, apalagi partai. Ia adalah metodologi beragama, cara memahami Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman generasi terbaik umat ini: para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Bukan Soal Kartu Anggota

Standard keberadaan seseorang di atas manhaj salaf tidak ditentukan oleh kartu anggota (KTA), melainkan oleh komitmen ilmiah terhadap dalil. Bergabung dengan Muhammadiyah tidak serta-merta mengeluarkan seseorang dari manhaj salaf. Kenapa? Karena Muhammadiyah adalah organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial; bukan mazhab aqidah baru, bukan pula manhaj yang mengklaim kemaksuman.

Muhammadiyah adalah wasilah (sarana) dakwah, bukan tujuan beragama itu sendiri. Loyalitas utama kita tetap kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada logo organisasi.

DNA Tajdid Ahmad Dahlan

Secara historis, K.H. Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaharu yang semangatnya adalah Tajdid, pemurnian ajaran Islam. Beliau tidak suka dengan TBC (Tahayul, Bid’ah, Khurafat). Gagasan beliau memiliki irisan kuat dengan orientasi salafi secara metodologis: seruan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta penolakan terhadap taklid buta.

Spirit ini sejalan dengan tokoh-tokoh besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, hingga para pembaharu seperti Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Muhammad Rasyid Ridho. Jadi, secara prinsip, banyak titik temu antara Muhammadiyah dan manhaj salaf dalam penegasan otoritas dalil.

Kaidah Menilai Seseorang

Manhaj salaf memiliki kaidah yang jelas dalam menilai individu:

“Penilaian terhadap seseorang dilihat dari keseluruhan ucapan dan perbuatannya, bukan semata afiliasinya.”

Artinya, kamu tetap berada di atas manhaj salaf apabila aqidahmu lurus, ibadahmu sesuai sunnah, dan loyalitasmu kepada dalil, WALAUPUN kamu memiliki KTA Muhammadiyah, mengajar di kampus Muhammadiyah, atau aktif di struktur organisasinya.

Muhammadiyah dan Salaf

Hizbiyyah Berkedok Independensi

Ingat, tidak ber-ormas pun tidak otomatis menjamin kemurnian manhaj. Jika seseorang menjadikan ustadznya, yayasannya, atau bahkan "tongkrongan" pengajiannya sebagai standard kebenaran mutlak, lalu mudah mengeluarkan orang lain dari manhaj cuma karena beda pengajian, maka itulah Hizbiyyah yang sebenarnya. Itu justru bertentangan dengan Manhaj Salaf yang ilmiah.

  • Manhaj itu cara jalan, Ormas itu kendaraannya.
  • Tetap mendahulukan Naql (dalil) di atas Akal.
  • Siap meninggalkan pendapat kelompok bila bertentangan dengan sunnah.
  • Muhammadiyah tidak pernah melarang warganya berideologi Salaf.

Kesimpulan

Persoalan mendasarnya bukan di mana kamu berorganisasi, melainkan bagaimana cara kamu beragama. Manhaj salaf adalah metode, bukan ormas yang punya "petugas pintu" untuk memasukkan atau mengeluarkan orang. Kalau masih ribut soal ini, mungkin yang perlu dirapikan bukan masalah manhajnya, tapi cara kita menggunakan akal sehat.