
Inti: Mengambil anggaran pendidikan untuk membeli motor listrik adalah langkah kontroversial. Di satu sisi program MBG baik, di sisi lain guru dan sekolah jangan sampai dikorbankan.
Beredar klaim bahwa sepertiga anggaran pendidikan dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis. Meskipun angka pastinya masih simpang siur, yang jelas Badan Gizi Nasional (BGN) menggunakan dana dari fungsi pendidikan untuk membiayai operasional MBG, termasuk pengadaan ribuan motor listrik. Padahal, fungsi pendidikan menurut UUD 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan untuk memberi makan (meskipun gizi juga penting, tetapi harusnya dari anggaran kesehatan atau perlindungan sosial). Akibatnya, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang menjadi urat nadi sekolah negeri dan swasta terancam berkurang. Banyak sekolah sudah mengeluh karena BOS kerap telat atau dipotong. Jika dipotong lagi untuk MBG, bisa-bisa kegiatan belajar mengajar terganggu.
BGN membeli 21.801 unit motor listrik untuk mendistribusikan makanan bergizi ke sekolah-sekolah. Diskusi di ruang digital menyoroti kalkulasi nilai aset pengadaan unit transportasi operasional tersebut dibandingkan dengan spesifikasi teknis standarnya. BGN kemudian membantah dan mengatakan harga setelah negosiasi lebih rendah, namun tidak menyebutkan angka berpotensi. ICW dan berbagai pihak meminta transparansi rincian harga. Karena ini uang rakyat, publik berhak tahu apakah terjadi inefisiensi anggaran atau tidak. Penjelasan ini bersifat informasi umum dan perlu disesuaikan dengan ketentuan terbaru atau konsultasi profesional. Apalagi pembelian dilakukan di tengah instruksi presiden tentang efisiensi belanja negara. Ironis: di satu sisi dipotong-potong, di sisi lain ada pengadaan barang yang memerlukan transparansi anggaran lebih lanjut.
Sembari heboh motor listrik, nasib guru honorer di Indonesia masih memprihatinkan. Ratusan ribu guru digaji di bawah UMR, bahkan banyak yang hanya Rp 400.000 per bulan. Mereka mengajar dengan penuh dedikasi, tapi negara tak mampu memberi upah layak. Sementara itu, ribuan motor listrik dengan harga selangit dibeli dari anggaran yang seharusnya bisa dipakai untuk menggaji mereka. Bayangkan, dengan Rp 58 juta per motor, bisa untuk menggaji 145 guru honorer selama satu bulan (asumsi Rp400rb). Atau bisa untuk membangun ruang kelas baru, membeli buku, atau alat peraga. Ini menunjukkan ketimpangan prioritas yang sangat menyedihkan.
Menyadari polemik, pemerintah mulai mengkaji pengurangan hari operasional MBG dari 6 atau 7 hari menjadi 5 hari dalam sepekan. Langkah ini diperkirakan bisa menghemat anggaran negara hingga Rp 40 triliun per tahun. Dengan penghematan itu, tidak perlu lagi menguras anggaran pendidikan. Artinya, motor listrik pun bisa tetap dibeli tanpa mengganggu dana BOS dan gaji guru. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan final. Yang jelas, publik menuntut pemerintah untuk lebih transparan dan memprioritaskan kebutuhan dasar pendidikan daripada gengsi program. Pernyataan ini sebaiknya dibaca sebagai opini yang perlu diuji dengan data dan konteks kebijakan yang lengkap.
Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta BGN membuka data lengkap tentang pengadaan motor listrik: spesifikasi, harga per unit, pemenang tender, dan mekanisme penganggarannya. Karena ini menyangkut dana publik yang bersumber dari anggaran pendidikan, rakyat berhak tahu. Penjelasan ini bersifat informasi umum dan perlu disesuaikan dengan ketentuan terbaru atau konsultasi profesional. Jika tidak ada transparansi, publik akan terus curiga ada praktik penyalahgunaan wewenang atau setidaknya inefisiensi. Apalagi sejarah pengadaan barang di Indonesia sering kali sarat dengan inefisiensi dan pemborosan anggaran. Jangan sampai program MBG yang mulia tercoreng karena tindakan pihak tak bertanggung jawab.
Jika dana BOS benar-benar dipotong untuk MBG, maka sekolah akan kekurangan uang untuk membayar listrik, air, perawatan WC, alat tulis, dan kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa sekolah bahkan menggunakan BOS untuk membayar guru honorer. Jika BOS berkurang, tenaga pendidik honorer bisa diberhentikan atau gajinya semakin tidak menentu. Ini ironi: program yang bertujuan meningkatkan gizi anak, namun memiliki risiko terhadap efektivitas pembelajaran karena guru yang mengajar tidak fokus karena masalah ekonomi. Penyelarasan alokasi anggaran penunjang gizi serta dana operasional dasar instansi pendidikan mutlak dikelola secara berimbang guna menjaga efektivitas pembelajaran. Ini bukan solusi holistik.
Program Makan Bergizi Gratis itu bagus, tetapi tidak boleh dengan cara mengorbankan anggaran pendidikan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa. Guru yang sejahtera akan mendidik generasi yang cerdas dan sehat. Sebaliknya, anak yang kenyang tapi tidak mendapat pendidikan berkualitas hanya akan menjadi generasi yang tidak kompetitif. Pemerintah sebaiknya segera meluruskan kebijakan ini: jadikan MBG sebagai program lintas sektor dengan anggaran sendiri, bukan dengan memakan jatah BOS dan kesejahteraan guru. Rakyat mengawasi. ICW mengawasi. Dan sejarah akan mencatat siapa yang mengutamakan kepentingan rakyat atau justru sebaliknya.