Jadi, Apa Sih "Tajdid" Itu Sebenarnya?
Sering sangat kan kita mendengar Muhammadiyah lekat dengan julukan sebagai "gerakan tajdid". Tapi, coba kita kupas sedikit, apa sih sebenarnya makna inti dari kata "tajdid" itu?. Apakah cuma sekadar "memperbarui" sesuatu yang sudah lama dan usang?
Ternyata, maknanya jauh lebih dalam dan filosofis dari itu. Ini bukan sekadar ganti casing smartphone biar kelihatan baru, tapi lebih ke soal upgrade sistem operasi dari akar-akarnya, sekaligus membersihkan perangkat lunak berbahaya yang membuat sistem tersebut menjadi kurang optimal.
Secara simpel namun mendalam, Tajdid adalah gerakan buat memurnikan ajaran Islam sekaligus mengembangkan peradaban.
Dari definisi tadi, kita bisa menangkap bahwa ada dua kerja besar yang berjalan secara beriringan: pertama, kembali murni secara spiritual; dan kedua, maju serta adaptif dalam pusaran peradaban yang terus berlari. Yuk, kita kupas satu per satu maksud dari dua pilar utama ini.

๐งผ Pilar Pertama: Pemurnian (Purifikasi)
Tahapan awal ini difokuskan pada peninjauan metodologis guna mengembalikan kemurnian nilai dasar berdasarkan rujukan orisinal. Dalam istilah akademis, langkah ini sering disebut dengan purifikasi atau tajrid.
Tujuannya Buat Apa?
Tujuannya sangat esensial: mengembalikan ajaran Islam ke bentuknya yang paling murni, paling orisinal, dan tidak tercemar oleh budaya yang bertentangan, sesuai dengan sumber aslinya yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah al-Maqbulah (Sunnah yang sahih dan dapat diterima secara periwayatan).
Terus, Apa Sih yang Sebenarnya Dibersihkan?
Dalam konteks dakwah Muhammadiyah, proses pembersihan ini sangat populer dikenal dengan kampanye "Penghapusan Praktik Tak Berdasar". Eits, ini bukan penyakit paru-paru lho ya! TBC di sini adalah singkatan dari:
- Takhayul: Ini adalah sikap percaya sama hal-hal gaib, mistis, atau hal supranatural yang tidak dalam sejumlah kajian dilaporkan berpotensi secara empiris sama sekali dalam Islam. Contoh sederhananya: percaya ramalan bintang, menetapkan hari yang dihindari secara takhayul untuk menikah, atau meyakini bahwa pohon besar dan keris bisa memberikan berkah keselamatan.
- Bid'ah: Suatu tindakan mengada-ada atau menciptakan amalan baru dalam urusan ritual ibadah murni (mahdhah, seperti tata cara shalat atau puasa) yang tidak pernah dicontohkan atau diajarkan oleh Rasulullah SAW.
- Churafat (Khurafat): Bagian ini merujuk pada cerita-cerita mitos, legenda masa lalu, atau cerita yang belum teruji kebenarannya yang pelan-pelan dipercaya sebagai bagian dari ajaran agama, padahal sama sekali tidak ada kebenarannya.

Kenapa pemberantasan ini menjadi sangat krusial? Biar kita beribadah murni karena ketaatan kepada Allah SWT, bukan karena ikut-ikutan tradisi nenek moyang atau karena dihantui rasa takut oleh hal-hal mistis yang tak berdasar. Inilah makna sejati dari "Murni secara spiritual".
๐ Pilar Kedua: Pengembangan (Dinamisasi & Modernisasi)
Nah, kalau pilar pertama tadi mengajak kita "melihat ke belakang" untuk meluruskan niat dan tata cara beribadah, pilar kedua ini adalah mesin penggerak untuk "melihat ke depan". Pilar ini sering didefinisikan sebagai dinamisasi atau modernisasi.
Tujuannya Buat Apa?
Visi utamanya adalah memastikan ajaran Islam tetap relevan, terus beradaptasi, dan mampu memberikan solusi konkret buat segala tantangan zaman modern. Islam itu bukan agama yang kaku, jumud, apalagi ketinggalan zaman. Sebaliknya, Islam harus menjadi motor penggerak utama kemajuan peradaban kemanusiaan.
Apa yang Dikembangkan?
Harus digarisbawahi, yang dikembangkan di sini bukanlah urusan ibadah mahdhah (ritual ibadah khusus seperti tata cara shalat subuh), karena hal tersebut sudah baku, final, dan murni dari wahyu. Wilayah yang dikembangkan secara dinamis adalah aspek Muamalah Duniawiyah (segala urusan sosial, ekonomi, kesehatan, dan kemasyarakatan).
Di wilayah inilah gerakan tajdid membuka pintu Ijtihad selebar-lebarnya. Ijtihad adalah proses pengerahan akal budi secara maksimal oleh para ahlinya untuk mencari landasan dan solusi hukum atas masalah-masalah kontemporer yang di zaman Nabi Muhammad SAW belum pernah ada (seperti bayi tabung, rekayasa genetika, hingga etika *artificial intelligence).
Contoh Gampangnya Gimana Sih?
Di sinilah letak revolusioner dan kerennya visi KH Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah. Zaman dahulu, konsep "menolong fakir miskin" mungkin pemahamannya masih sebatas memberikan sedekah uang receh di pinggir jalan. Lewat gerakan tajdid, Muhammadiyah melakukan ijtihad dan "memperbarui" cara pandang tersebut dengan aksi institusional:
- ๐ซ Pendidikan: Tidak cuma mengajar ngaji di surau, tapi mendirikan sekolah dan universitas modern. Kurikulum ilmu agama dan ilmu umum (seperti sains, teknologi, dan kedokteran) diajarkan secara terintegrasi.
- ๐ฅ Kesehatan: Mendirikan rumah sakit modern (seperti jaringan PKU Muhammadiyah) sebagai bentuk nyata dan terlembaga dari teologi Al-Ma'un (surat yang memerintahkan kita untuk menolong orang miskin dan anak yatim).
- โค๏ธ Sosial & Filantropi: Membangun sistem panti asuhan yang profesional. Anak-anak yang kurang beruntung tidak cuma dikasih makan untuk hari ini, tapi dididik, dibimbing karakternya, dan disekolahkan hingga mandiri.
Langkah-langkah strategis inilah yang dimaksud dengan "Maju dan adaptif dalam peradaban". Kita sama sekali tidak mengubah rukun ibadahnya, tetapi kita merevolusi cara dan alat kita dalam beramal sosial agar dampaknya jauh lebih efektif, sistematis, dan dirasakan luas oleh masyarakat.
๐ก Kesimpulan: Esensi Islam Berkemajuan
Sampai di sini, sudah makin paham kan alur berpikirnya? Muhammadiyah secara konsisten disebut sebagai gerakan tajdid karena mereka sukses melakukan kedua pilar tersebut secara seimbang dan proporsional:
- Sangat Puritan dan berhati-hati dalam menjaga kemurnian urusan aqidah dan ibadah ritual (Pilar 1).
- Sangat Progresif, terbuka, dan dinamis dalam merespons urusan muamalah dan kemajuan peradaban (Pilar 2).
Perpaduan harmonis dari dua pilar inilah yang pada akhirnya melahirkan "ruh" dan corak dari Islam Berkemajuan. Sebuah pandangan keislaman yang akarnya kuat menghujam ke sumber yang murni (Al-Qur'an dan As-Sunnah), namun rantingnya terus menjulang tinggi dan rimbun, senantiasa memberikan solusi modern bagi kemanusiaan dan peradaban zaman.