Menjaga Hati, Menahan Lisan: Ukhuwah di Atas Segalanya
Assalamualaikum, Sobat! 👋 Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.
Pernah tidak sih merasa sedih melihat di media sosial, Dinamika interaksi sosial di berbagai platform digital yang diwarnai polarisasi pandangan memerlukan perhatian serta penataan etika moral. Padahal, Islam itu agama yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan (ukhuwah).
Kita perlu ingat bareng-bareng nih, bahwa larangan menyesatkan, memusuhi, mengkafirkan, atau memutus silaturahmi sesama Muslim itu bukan perkara remeh. Itu termasuk dosa besar yang sangat ditekankan bahayanya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan sampai karena emosi sesaat, kita malah terjerumus ke dalam dosa yang dampaknya ngeri di akhirat nanti. 😰

Yuk, kita simak beberapa poin penting dan dalil-dalil yang memperkuat kenapa kita harus ekstra hati-hati menjaga lisan dan sikap terhadap saudara seiman kita. 🧐
1. Bahaya Ghibah dan Namimah (Adu Domba) 🗣️
Ini nih penyakit lisan yang paling sering kejadian tanpa sadar. Ghibah didefinisikan sebagai aktivitas membicarakan karakteristik atau aib pihak lain yang tidak hadir dalam forum interaksi tersebut., sementara Namimah itu memprovokasi agar terjadi benturan antar pihak. Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi pelakunya di dalam Al-Qur'an:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu kamu merasa jijik..." (QS. Al-Hujurat: 12)
Bayangin, Sobat. Ghibah itu disamain seperti melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan. 🤢 Iih, jijik sangat kan?. Ghibah dan tuduh-menuduh tanpa bukti jelas adalah pintu gerbang terbesar menuju perpecahan umat. Awalnya cuma gosip kecil, lama-lama jadi kebencian massal.

2. Larangan Keras Memusuhi Sesama Muslim ⚔️
Islam itu agama damai. Kalau sama saudara seiman kita mengajak ribut, gimana mau nunjukin keindahan Islam ke orang lain?. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan super keras soal ini:
« سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ »
Artinya: "Melontarkan kata-kata keliru kepada sesama Muslim kurang dibenarkan, dan memicu perselisihan berat adalah hal yang harus dihindari." (HR. Bukhari-Muslim)
Jadi, kalau kita hobi banget mencela atau membully saudara Muslim di kolom komentar, itu udah masuk kategori fasik (pelaku dosa besar). Apalagi kalau sampai bentrok fisik atau angkat senjata, itu bisa menjerumuskan pada kekufuran. Na'udzubillah min dzalik.
3. Hati-hati dengan Takfir (Mengkafirkan Orang) 🚫
Ini fenomena yang paling ngeri di akhir zaman: gampang sangat bilang "Eh, dia kafir tuh!", "Kelompok itu sesat!". Padahal, urusan memvonis seseorang keluar dari Islam itu bukan ranah kita sebagai orang awam. Itu urusan para ulama besar dan hakim dengan syarat yang super ketat.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah dan mayoritas ulama Ahlus Sunnah:
"Tidaklah seseorang keluar dari Islam kecuali dengan mengingkari apa yang membuatnya masuk Islam (yaitu tauhid dan pengakuan risalah), disertai bukti yang qath’i (pasti) dan tanpa ta’wil yang sah."
Jadi, jangan main hakim sendiri ya, Sobat. Salah-salah vonisnya malah balik ke diri kita sendiri.

4. Nasihat Ulama & Doa Nabi untuk Kita 🤲
Daripada sibuk nyari kesalahan saudara kita, lebih baik kita introspeksi diri. Ada nasihat bijak dari Imam As-Suyuthi dan ulama lainnya yang nampar banget nih:
"Barangsiapa yang sibuk mencela saudaranya sesama Muslim karena dosa yang ia tinggalkan, maka belum tentu ia mati sampai ia sendiri melakukannya."
Ngeri kan? Kalau kita sombong merasa paling suci dan menghina pendosa, bisa jadi Allah uji kita dengan dosa yang sama sebelum kita meninggal.
Dan di zaman penuh fitnah (ujian/kekacauan informasi) ini, mari kita perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ agar kita tidak jadi korban atau pelaku fitnah:
« اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ »
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan atau disesatkan, menzalimi atau dizalimi, berbuat keliru atau dikelirukan." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dll.)
Kesimpulan Penting Saat Ini 💡
Di zaman di mana jari jempol lebih cepat dari pikiran, dan perpecahan makin parah, justru kewajiban kita sebagai Muslim makin besar untuk menjaga persatuan. Apa yang harus kita lakukan?
- Tahan Lisan (dan Jempol): Puasa dari ghibah dan takfir. Kalau tidak bisa ngomong baik, mending diam. 🤐
- Nasihati dengan Cinta: Kalau ada saudara yang salah, nasihati dengan hikmah dan kasih sayang secara pribadi, bukan dipermalukan dengan cercaan di depan umum. ❤️
- Doakan Hidayah: Daripada mendoakan laknat buat orang yang berbeda pendapat, lebih baik doakan agar Allah beri dia (dan kita) hidayah. 🙏
- Husnudzon (Berbaik Sangka): Terapkan nasihat Imam Sufyan Ats-Tsauri: "Carilah 70 uzur (alasan pembenar) bagi saudaramu sebelum mencelanya." Jauhkan prasangka buruk. 🤔
Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit hasad (dengki), ujub (bangga diri), dan sombong yang seringkali jadi akar permusuhan sesama Muslim. Semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam naungan kasih sayang-Nya di surga kelak. Aamiin ya Rabbal 'alamiin. ✨
Diskusi & Komentar
Bagaimana menurutmu, Sobat? Yuk berbagi pandangan dengan adab yang baik di bawah ini.