Budi Pekerti yang Luntur: Kita Kehilangan Moral, atau Kehilangan Keberanian?

24 Februari 2026 โ€ข 10 Menit Membaca

Kita sering banget denger ucapan kalau "budi pekerti bangsa ini makin luntur". Kalimat ini rasanya udah jadi semacam kaset rusak yang diputar di setiap pergantian generasi. Tapi, jujur , kali ini rasanya ada yang beda sangat. Kita hidup di zaman di mana simbol moral itu dipajang di mana-manaโ€”di bio media sosial, di spanduk jalanan, sampai di caption fotoโ€”tapi kok prakteknya malah kerasa makin tipis ya? ๐Ÿค”

Ilustrasi Budi Pekerti

Paradoks inilah yang mau kita kupas bareng-bareng di sini. Bukan cuma buat ngeratapin keadaan atau sekadar nostalgia "zaman dulu lebih enak", tapi buat cari tahu: apa sih yang sebenernya terjadi sama kompas moral kita?

Apa Sih Sebenernya Budi Pekerti Itu? ๐Ÿง

Sebelum kejauhan, kita harus sepakat dulu soal definisinya. Budi pekerti itu bukan cuma soal bilang 'permisi' pas lewat depan orang tua atau sekadar tahu tata krama di meja makan. Itu mah kulitnya doang. Budi pekerti yang hakiki adalah integritas moral dalam tindakan nyata. Artinya apa? Ada kecocokan alias konsistensi antara nilai yang kita yakini di dalam hati dengan perilaku yang kita tunjukkan di ruang publik.

Kalau kita pakai standar ini, ya tidak heran kalau banyak dari kita merasa gelisah. Kita melihat lanskap publik kita yang sekarang penuh dengan polarisasi yang tajam sangat. Ujaran kebencian bahkan sudah jadi komoditas politik yang laku keras. Hoaks? Wah, itu mah nyebarnya lebih cepet daripada klarifikasinya sendiri. ๐Ÿƒ๐Ÿ’จ

"Seseorang bisa terlihat sangat religius secara simbolik, rajin ibadah, dan bicaranya santun, tapi di saat yang sama dia bisa sangat permisif terhadap penyalahgunaan wewenang cuma gara-gara pelakunya 'satu golongan'. Ini bukan lagi soal krisis sopan santun, ini namanya krisis integritas."

Religiusitas vs Etika Publik ๐Ÿ›๏ธ

Indonesia itu unik. Kita dikenal sebagai negara yang sangat religius. Rumah ibadah tidak pernah sepi, acara keagamaan selalu megah, dan identitas iman itu kuat sangat nempel di tiap individu. Tapi, kenapa ya tingginya tingkat religiusitas ini tidak otomatis membuat etika publik kita jadi kokoh juga?. ๐Ÿšฉ

Persoalannya, kita sering banget salah kaprah menyamakan moral dengan ritual. Padahal, moral publik itu menuntut lebih dari sekadar rajin ritual. Dia butuh keberanian membuat jujur, tanggung jawab penuh atas tindakan, dan konsistensi membuat tidak 'main mata' sama aturan. Kita mungkin hafal di luar kepala nilai-nilai Pancasila, tapi pertanyaannya: apakah sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" itu sudah jadi habitus atau kebiasaan hidup? Atau jangan-jangan cuma jadi hiasan di buku cetak sekolah ?. ๐Ÿ“•

Algoritma: Musuh Baru Budi Pekerti? ๐Ÿ“ฑ

Yang sebenernya luntur itu bukan ajaran moralnyaโ€”karena ajaran itu masih ada dan tetap diajarin di sekolah atau tempat ibadah. Yang melemah itu adalah budaya malu dan keberanian sosial. Dulu, reputasi kita di mata komunitas atau tetangga itu jadi kontrol etis yang kuat sangat. Orang malu kalau berbuat salah karena bakal ditegur lingkungan.

Sekarang? Dunia digital lewat algoritmanya justru sering ngasih hadiah (insentif) buat hal-hal yang ekstrem. Konten yang isinya marah-marah, maki-maki, atau yang sensasional jauh lebih cepet viral dibanding argumen yang kalem dan rasional. Dalam ekosistem yang kayak gini, integritas akhirnya kalah pamor sama pencitraan atau impresi.

Tantangan Pendidikan & Agency Moral ๐ŸŽ“

Dunia pendidikan kita juga punya tantangan besar. Selama ini, pendidikan moral sering sangat cuma jadi hafalan normatif. Kita diajarin apa yang benar dan salah secara teoritis, tapi jarang banget diajak diskusi soal dilema moral nyata. Contohnya: gimana kalau ada konflik kepentingan? Gimana caranya punya keberanian buat melawan arus mayoritas kalau mayoritas itu salah? ๐ŸŒŠ

Akibatnya, banyak orang tumbuh jadi pribadi yang saleh secara personal (baik buat dirinya sendiri), tapi pasif secara sosial. Di sinilah pentingnya agency moral. Budi pekerti itu butuh nyali buat bersuara pas ada ketidakadilan. Tanpa keberanian buat bertindak, moralitas itu cuma jadi dekorasi yang tidak ada gunanya.

Faktor Perut dan Teladan dari Atas ๐Ÿž

Kita juga harus realistis. tidak bisa cuma nyalahin individu. Ada faktor struktural kayak ketimpangan ekonomi dan ketidakpastian kerja. Pas orang merasa tidak aman secara ekonomi, mereka cenderung jadi pragmatis. Nilai idealis sering kegeser sama urusan bertahan hidup. Makanya, seruan moral bakal kedengeran kosong kalau sistemnya sendiri tidak diperbaiki.

Belum lagi soal teladan dari para elite. Pas tokoh yang harusnya jadi kompas moral malah kena skandal, masyarakat jadi kehilangan arah. Pesan etika jadi basi karena cuma dianggap retorika belaka. ๐Ÿ“‰

Kesimpulan: Redefini Budi Pekerti Abad 21 ๐ŸŒŸ

Jadi, apakah budi pekerti kita luntur? Mungkin lebih tepatnya kita lagi ada di tengah transformasi sosial yang gede sangat, tapi belum dibarengi sama pembaruan etika yang pas. Kita butuh definisi baru buat budi pekerti di abad ke-21:

Tanpa etika publik yang kuat, demokrasi kita bakal rapuh. Tanpa integritas kolektif, hukum cuma bakal jadi mainan orang berkuasa. Budi pekerti itu bukan warisan yang turun otomatis, dia harus dilatih, dipraktekkan, dan dijaga setiap hari.

Pertanyaan buat kita semua:
Apakah kita masih punya keberanian buat negakin kebenaran pas hal itu tidak populer, tidak bakal viral, dan tidak nguntungin posisi kita?

Kalau kita masih ragu jawabnya, berarti masalahnya bukan di teknologi atau generasi muda. Masalahnya ada di diri kita sendiri yang lebih hobi ngeluh soal moralitas orang lain daripada berani jadi contoh nyata dari moralitas itu sendiri. Mari kita mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, sekarang juga! ๐Ÿ’ชโœจ