Deretan 'Breakthrough' Teknologi yang (Sebenarnya) Nggak Penting
Beberapa teknologi seperti restoran hits: antre panjang, foto instagramable, tapi rasanya biasa saja. Bedanya, teknologi ini harganya jauh lebih mahal, dan kekecewaannya lebih dalam.
Dunia teknologi punya kebiasaan unik: mengklaim setiap produk baru sebagai "revolusioner". Setiap peluncuran selalu dibungkus dengan narasi besar tentang perubahan peradaban, "next big thing", dan masa depan yang lebih cerah. Tapi setelah hype mereda, yang tersisa sering kali adalah produk yang harganya selangit, fungsinya setengah hati, dan penggunanya lebih banyak digunakan sebagai paperweight daripada alat yang benar-benar berguna.
Fenomena ini bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dengan maraknya kecerdasan buatan dan metaverse, jumlah produk "breakthrough" yang sebenarnya breakdown semakin meningkat. Investasi besar, tim dari perusahaan ternama, dan janji-janji manis sering kali berakhir dengan produk yang tidak pernah benar-benar siap pakai.

Inilah daftar beberapa kandidat terkuat untuk gelar "terobosan yang sebenarnya tidak penting". Dari AI hardware yang gagal total, robot yang lebih mirip mainan mahal, hingga headset yang menjadi simbol pemborosan uang. Mari kita bedah satu per satu.
AI Hardware: Ketika Gadget Pintar Malah Jadi Pajangan Mahal
AI Hardware mungkin adalah kategori yang paling hype dan paling cepat mengecewakan. Ada tiga produk yang menjadi representasi sempurna dari fenomena ini.
Humane Ai Pin (699 USD)
Dibesut oleh mantan eksekutif Apple, didukung pendanaan 2,3 miliar dollar, dan mendapat dukungan dari Sam Altman (CEO OpenAI), Ai Pin menjanjikan era baru tanpa layar. Cukup dengan proyeksi laser di telapak tangan, Anda bisa mengakses semua informasi. Konsepnya terdengar futuristik.
Realitanya? Baterai hanya bertahan beberapa jam, perangkat panas luar biasa, pengenalan suara sering gagal, dan proyeksi di luar ruangan sama sekali tidak terbaca. Marques Brownlee, salah satu reviewer teknologi terbesar, menyebutnya sebagai "produk terburuk yang pernah saya review". Akhirnya, perusahaan diakuisisi oleh HP dengan harga "obral" 1,16 miliar dollar dan produk dihentikan.
Rabbit R1 (199 USD)
Perangkat mungil berwarna oranye yang menjadi bintang di CES 2024. Rabbit R1 menjanjikan bisa memesan makanan, memanggil taksi, dan melakukan berbagai tugas lainnya hanya dengan perintah suara, tanpa perlu mengotak-atik layar ponsel. Sistem operasinya disebut "Rabbit OS".
Setelah dirilis, ternyata Rabbit OS hanyalah sebuah aplikasi Android yang dibungkus dengan antarmuka khusus. Tidak ada yang benar-benar "revolusioner". Banyak fitur yang dijanjikan tidak berfungsi dengan baik, dan pada akhirnya, sebagian besar tugas tetap harus diselesaikan melalui ponsel. Lagi-lagi, perangkat yang mencari masalah yang tidak ada.
AI Key (89 USD)
Dongle USB-C kecil yang dicolokkan ke iPhone, mengklaim bisa "mengontrol aplikasi dengan suara". AI Key akan meniru input layar sentuh berdasarkan perintah suara. Masalahnya? Keamanan dan privasi diragukan, dan dengan ChatGPT serta Claude yang sudah tersedia di ponsel, siapa yang mau repot-repot mencolokkan dongle khusus? Sebuah solusi yang mencari masalah, atau dalam bahasa pasar: gimmick.
Robot Rumah Tangga: Mimpi Punya Asisten, Kenyataan Punya Mainan Mahal
Bayangkan memiliki robot yang bisa melipat pakaian, membersihkan rumah, dan menemani Anda. Konsep ini sudah ada dalam imajinasi manusia selama puluhan tahun. Dua produk berikut berusaha mewujudkannya, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan.
NEO Robot (20.000 USD)
1X Technologies, perusahaan di balik NEO, menjanjikan robot humanoid yang bisa membantu pekerjaan rumah tangga. Dengan harga 20.000 dollar, robot ini diklaim akan merevolusi cara kita berinteraksi dengan rumah. Berita dari pengujian oleh Wall Street Journal cukup mengejutkan: NEO membutuhkan dua menit untuk melipat satu sweter, dan gagal memecahkan kacang kenari. Bahkan, robot ini dioperasikan oleh manusia menggunakan VR headset untuk melakukan tugas-tugas tersebut.
Dua puluh ribu dollar untuk "bayangan" yang dikendalikan manusia? Ini bukan robot, ini telepresence dengan harga yang sangat mahal.
Ropet (Harga belum diumumkan)
Di CES 2025, Ropet memperkenalkan diri sebagai "robot pendamping AI". Bentuknya bulat, tidak bisa berjalan, dan hanya bisa duduk diam. Fungsinya? Mengobrol, membuat ekspresi untuk menghibur, dan memiliki fitur pemanas agar terasa "hangat" saat disentuh. Pada dasarnya, ini adalah boneka elektronik dengan pemanas.
Pertanyaan besar: untuk apa? Jika Anda kesepian, ada banyak aplikasi chatbot gratis. Jika Anda butuh kehangatan, selimut listrik jauh lebih murah. Ropet adalah contoh sempurna dari teknologi yang menjawab pertanyaan yang bahkan tidak pernah diajukan.
Apple Vision Pro: Masa Depan yang Terlalu Mahal dan Terlalu Berat
Ketika Apple meluncurkan Vision Pro, Tim Cook menyebutnya sebagai awal dari "era komputasi spasial". Headset dengan harga 3.499 dollar ini diharapkan menjadi "iPhone berikutnya" yang akan mengubah cara kita bekerja, bermain, dan berkomunikasi.
Setelah lebih dari satu tahun beredar, nyatanya Vision Pro lebih sering menjadi paperweight termahal di dunia. Pengguna mengeluhkan beberapa masalah kritis:
- Berat (650 gram) membuat kepala pegal setelah 20-30 menit pemakaian.
- Baterai eksternal hanya bertahan 2-2,5 jam, membuatnya tidak praktis untuk penggunaan di luar ruangan atau perjalanan.
- Proses booting yang lama, tidak instan seperti perangkat Apple pada umumnya.
- Harga yang selangit, dengan aksesori opsional membuat totalnya mendekati 4.000 dollar.
Banyak pengguna yang menyebut Vision Pro sebagai "produk yang tidak akan saya rekomendasikan kecuali Anda punya uang berlebihan". Apple, perusahaan yang dikenal dengan produk yang polished, sepertinya lupa bahwa kenyamanan adalah bagian penting dari pengalaman pengguna.
Honorable Mentions: Gagal-Gagal Lain yang Patut Dicatat
Selain kategori utama, ada beberapa produk dan tren yang juga layak masuk dalam daftar ini. Meskipun tidak seheboh yang lain, mereka tetap menjadi contoh klasik dari "hype over substance".
Cincin Pintar (Smart Ring)
Produk ini sudah ada sejak hampir satu dekade lalu, tetapi hingga kini masih belum menemukan kegunaan yang benar-benar meyakinkan. Cincin pintar mengukur detak jantung, pola tidur, dan aktivitas fisik — hal yang sudah dilakukan oleh jam tangan pintar dengan lebih baik dan lebih nyaman. Namun, dengan pemasaran yang agresif dan label "wearable AI", cincin pintar berhasil menarik perhatian dan penjualan yang cukup signifikan. Ini adalah bukti bahwa branding bisa mengalahkan fungsionalitas.
Builder.ai: Startup AI yang Terlalu Cepat Terbakar
Builder.ai adalah startup yang mendapat suntikan dana besar dari Microsoft. Mereka menjanjikan platform pembuatan aplikasi yang mudah, didukung oleh AI. Sayangnya, klaim "AI-driven" mereka lebih banyak hype daripada kemampuan teknis yang sesungguhnya. Perusahaan akhirnya dilikuidasi karena kurangnya produk yang substansial dan terlalu banyak "emosi" dalam pemasaran.
Cluely: AI untuk Menipu
Cluely adalah alat yang secara terang-terangan dirancang untuk membantu pengguna mencontek dalam wawancara kerja. Dengan memproses pertanyaan secara real-time dan memberikan jawaban yang dioptimalkan, alat ini adalah mimpi buruk bagi perekrut. Ironisnya, startup ini mendapatkan pendanaan dari investor yang seharusnya lebih selektif. Ini adalah contoh puncak dari teknologi yang tidak penting: alat yang solusinya adalah menciptakan masalah baru bagi orang lain.
Mengapa Kita Terus Terjebak?
Jika sudah banyak produk yang gagal memenuhi janji, mengapa setiap peluncuran baru selalu mendapat perhatian dan pendanaan? Jawabannya terletak pada psikologi pasar dan takut ketinggalan (FOMO). Investor, konsumen, dan bahkan media sama-sama terperangkap dalam siklus di mana hype lebih berharga daripada substansi.
Selain itu, ada efek bandwagon yang kuat. Ketika sebuah perusahaan besar atau tokoh terkenal mendukung sebuah produk, orang cenderung mengikuti tanpa banyak bertanya. Padahal, sejarah teknologi penuh dengan produk yang didukung oleh orang-orang hebat tetapi akhirnya gagal total.
"Kata 'revolusioner' sudah terlalu sering disalahgunakan sehingga kehilangan maknanya. Sekarang, itu lebih sering berarti 'kami belum tahu apakah ini berguna, tapi tolong beli'."
Pelajaran penting dari semua ini adalah: jangan percaya pada klaim besar tanpa bukti yang kuat. Biarkan produk itu berbicara sendiri melalui ulasan independen, pengujian dunia nyata, dan — yang terpenting — kegunaan sehari-hari. Jika sebuah produk benar-benar bermanfaat, ia tidak perlu dijual dengan narasi "mengubah dunia". Ia akan cukup baik untuk dijual dengan narasi yang jauh lebih sederhana: "ini berguna".