Gen Z Diejek Gak Bisa Ngitung: Beneran Tolol atau Otaknya Emang Lebih Canggih? 🧠💻

Apa yang Bikin Jagat Maya Heboh? 📱

Kalau kamu sering scroll media sosial akhir-akhir ini, pasti pernah ketemu sama video berformat "tes matematika dadakan" yang biasa dilakukan di tempat umum. Konten semacam ini seolah selalu jadi ajang yang paling gurih membuat ngetawain anak-anak Gen Z. Saat mereka terekam kamera sedang gagap ngitung 7 x 8, atau terlihat kebingungan waktu dikasih soal penambahan dan pengurangan dasar, kolom komentar langsung meledak.

Ilustrasi pemikiran Gen Z di era digital

Berbagai makian langsung penuh berjejal di sana: "Generasi kurang kompeten!" atau "Generasi malas yang cuma bisa main HP!" Tapi, tunggu dulu. Mari kita telaah lagi fenomena ini lebih dalam. Benarkah mereka sebodoh itu? Saya pribadi sama sekali tidak setuju dengan vonis tersebut.

Mengapa Kita Dulu "Terlihat" Jago Berhitung? 📏

Coba kita flashback sebentar. Kita (generasi yang lebih tua) dulu jago ngitung luar kepala sebenarnya bukan karena kita secara bawaan genetik terlahir lebih pinter, melainkan karena kita "disiksa" oleh sistem. Ingat tidak? Dulu kita sering disuruh berdiri di depan kelas, ditodong guru pertanyaan tentang tabel perkalian. Gak bisa jawab? Cetar! Telapak tangan atau betis kita dihajar pakai penggaris kayu panjang.

Malu? Pastinya. Sakit? Apalagi. Itu sebabnya otak kita memaksakan diri dan terpaksa belajar menghitung secara presisi di luar kepala. Tuntutan zamannya pada masa itu memang begitu, karena kalkulator dianggap barang mewah atau dilarang dibawa ke sekolah.

Sekarang? Metode pelajaran kayak gitu sudah dianggap fosil. Sekolah (yang sudah agak modern) merasa hafalan mati seperti itu tidak relevan lagi. Sama halnya dengan tulisan tangan anak sekarang yang sering diejek kayak cakar ayam. Mereka bukan tidak mampu nulis rapi, tapi mereka tumbuh mekar di era di mana kedua jempol lebih sering menari di atas layar HP daripada jari telunjuk yang menjepit pulpen tinta.

Siapa yang Sering Mengeluh dan Di Mana Biasanya Terjadi? 🏢

Bukan cuma netizen di kolom komentar, fenomena ini juga menjalar ke dunia profesional. Ada juga banyak HRD yang curhat di medsos, ngeluh panjang lebar soal kelakuan pelamar kerja dari Gen Z. Saat diwawancara, anak-anak muda ini tanpa ragu bilang kalau mereka gak mau dateng ke kantor tiap hari dan request agar di hari-hari tertentu mereka diizinkan kerja dari rumah (WFH).

Buat para HRD dari generasi lama, ini dianggap sebagai indikasi malas, tidak disiplin, dan mau kerja seenaknya sendiri.

Padahal, coba kita pikir pakai logika dasar. Ini adalah cara pikir yang sangat logis dan berorientasi pada efisiensi. Kalau tujuan akhir dari sebuah pekerjaan adalah "hasil kerja yang beres", buat apa membuang energi dan waktu dua jam menembus kemacetan di jalanan, cuma buat duduk di depan komputer di kursi yang sama di gedung kantor? Hasil kerja bisa dipantau secara digital kapan saja di mana saja.

Bagaimana Neurosains Menjelaskan Hal Ini? 🧬

Kesimpulannya sebenarnya menohok: Kita mengejek mereka karena mereka tidak jago di hal-hal yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi di dunia nyata saat ini. Termasuk keharusan memamerkan kehadiran fisik di zaman yang sudah serba cloud dan digital.

Kalau kita bedah masalah ini menggunakan kacamata neurosains, ini sebenarnya adalah tanda bahwa otak mereka sangat cerdas dalam mengelola energi. Neokorteks manusia itu adalah organ yang sangat pelit energi; dia tidak akan sudi mempertahankan sirkuit kemampuan yang sudah bisa dikerjakan dengan mudah oleh teknologi. Otak kita punya prinsip yang namanya neuroplasticity: apa yang tidak dipakai secara rutin, bakal dipangkas (pruning).

Jadi, mereka memindahkan beban memori ke gadget supaya otak punya ruang (RAM) yang lebih luas buat berpikir strategis, adaptif, dan kreatif. Mereka bukan kurang kompeten; otak mereka cuma lagi melakukan efisiensi besar-besaran agar kapasitasnya tidak habis buat mikirin hal-hal receh yang solusinya sudah ada di ujung jari.

Kapan Kita Berhenti Terjebak Nostalgia Masa Lalu? ⏳

Menyebut anak sekarang bodoh karena tulisan jelek atau tidak bisa ngitung cepat itu ibarat ngejek chef bintang lima karena dia tidak bisa nyambel manual pake cobek batu. Padahal memang jauh lebih cepat, efisien, dan konsisten pakai blender listrik, kan?

Kita sering terjebak bangga sama "penderitaan" masa lalu yang menuntut segalanya harus serba manual, padahal itu murni cuma masalah tuntutan zaman yang sudah lewat masanya. Kita merasa superior karena bisa ngitung di luar kepala, padahal di dunia profesional, itu adalah tugas receh sebuah software spreadsheet atau kalkulator. Anak muda sekarang justru sudah bebas dari beban kognitif jadul itu.

By the way, saya tidak pernah percaya bahwa perilaku kompleks dan kecerdasan manusia bisa dengan gampangnya dikelompokkan cuma berdasarkan label stempel "Gen Z", "Millennial", atau "Boomer". Sejujurnya, itu adalah cara paling malas buat memahami pola pikir manusia, karena terlalu menyederhanakan masalah.

Intelegensia tidak bisa dikotak-kotakkan pakai batas tahun lahir; pelabelan generasi itu aslinya cuma alat pemasaran sosiologis biar iklan lebih gampang dijual ke demografi tertentu. Jadi, pertanyaannya sekarang: siapa sebenarnya yang ketinggalan zaman? Kita yang masih bangga jago di hal-hal yang sudah digantikan kepingan chip silikon, atau mereka yang sedang fokus mengendalikan instrumen masa depan?

Mari kita berhenti merasa pintar hanya karena kita bisa melakukan hal-hal yang mesin lakukan jauh lebih baik dari kita. Karena pada akhirnya, dunia ini tidak butuh tulisan tangan yang bagus atau perdebatan label generasi tiada akhir. Dunia butuh otak yang luwes dan bisa bikin perubahan nyata! 🚀

Tentang Penulis

Artikel opini ini ditulis oleh Fakhrul Rijal yang rutin menuangkan pemikirannya di blog Layar Kosong dari Balikpapan. Tulisan ini bertujuan untuk meruntuhkan stigma sosial dan memberikan perspektif baru secara mendalam, santai, namun tetap berbasis pada logika berpikir dan common sense.