
Belakangan ini media sosial ramai dengan tagar #KrisisOjol. Banyak pelanggan mengeluh karena pesanan ojek online (ojol) tidak segera diambil oleh driver, bahkan untuk layanan priority atau premium sekalipun. Situasi ini makin terasa ketika pelanggan memesan makanan menjelang waktu berbuka puasa, di mana orderan sering kali tidak diambil atau bahkan dibatalkan oleh driver.
Fenomena ini memunculkan banyak komentar dari netizen. Sebagian menyalahkan driver karena dianggap “pilih-pilih orderan” atau “malas mengambil pesanan kecil.” Namun jika dilihat lebih dalam, masalah ini sebenarnya jauh lebih kompleks. Ada berbagai faktor ekonomi, sistem platform, hingga kondisi pasar tenaga kerja yang memengaruhi situasi ini.
Artikel ini akan membahas secara lengkap penyebab krisis ojol, perubahan ekosistem kerja driver, serta dampaknya bagi pelanggan dan pekerja di Indonesia.
Istilah #KrisisOjol merujuk pada kondisi ketika:
Fenomena ini biasanya muncul dalam beberapa situasi tertentu, misalnya:
Namun dalam beberapa waktu terakhir, kondisi ini mulai terasa lebih sering terjadi, bahkan di waktu normal.





Salah satu penyebab utama adalah pembagian pendapatan antara driver dan perusahaan aplikasi (aplikator).
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Ongkir yang dibayar customer | Rp20.000 |
| Diterima driver | Rp12.000 – Rp15.000 |
| Potongan aplikasi | Rp5.000 – Rp8.000 |
Padahal driver harus menanggung sendiri:
Jika dihitung secara sederhana, pendapatan bersih driver sering kali jauh lebih kecil daripada yang terlihat di aplikasi. Pada masa awal kemunculan ojol, perusahaan sering melakukan strategi “bakar uang”, di mana driver mendapatkan insentif besar. Namun saat ini strategi tersebut sudah hampir tidak ada. Akibatnya, banyak driver merasa bahwa pendapatan tidak lagi sebanding dengan usaha yang dilakukan.
Pada momen tertentu, terutama bulan Ramadan, permintaan layanan delivery meningkat drastis. Contohnya:
Ketika terlalu banyak order masuk dalam waktu bersamaan, sistem menjadi overload, sementara jumlah driver terbatas. Akibatnya:



Beberapa tahun lalu, profesi ojol sempat dianggap sangat menjanjikan. Banyak cerita tentang driver yang bisa menghasilkan Rp500 ribu – Rp1 juta per hari. Namun kondisi tersebut sekarang sudah jarang terjadi. Sebbagian komunitas mengidentifikasi adanya fluktuasi margin pendapatan harian serta penyesuaian parameter perolehan insentif oleh pihak pengelola., bonus semakin kecil. Akibatnya banyak driver yang beralih pekerjaan, menjadikan ojol hanya pekerjaan sampingan, atau berhenti sama sekali. Penurunan jumlah driver ini tentu berdampak langsung pada ketersediaan layanan bagi pelanggan.
Saat ini banyak driver memilih bekerja dengan prinsip “kerja cerdas, bukan kerja keras.” Artinya, driver akan mempertimbangkan beberapa faktor sebelum menerima order: jarak pickup, kemacetan, parkir di mall atau apartemen, risiko parkir liar, potongan biaya parkir.
| Detail Order | Nilai |
|---|---|
| Ongkir order | Rp8.000 |
| Parkir apartemen | Rp3.000 |
| Sisa untuk driver | Rp5.000 |
Dengan kondisi seperti ini, banyak driver memilih melewatkan order tersebut.
Di beberapa layanan ride-hailing global, biasanya ada sistem surge pricing, yaitu kenaikan tarif otomatis saat permintaan meningkat. Namun beberapa driver mengeluhkan bahwa tarif tetap sama meskipun hujan, macet, atau saat order melonjak. Contohnya: driver berjarak 5 km dari restoran, ongkir tetap sekitar Rp7.000. Situasi ini membuat driver merasa tidak ada insentif tambahan untuk mengambil order sulit.
Masalah ojol juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar kerja di Indonesia. Di negara dengan lapangan kerja formal yang memadai, pekerjaan seperti ride-hailing biasanya hanya menjadi pekerjaan sampingan, pekerjaan mahasiswa, atau pekerjaan fleksibel. Namun di Indonesia, banyak orang menjadikannya pekerjaan utama. Hal ini terjadi karena jumlah angkatan kerja besar, lapangan kerja terbatas, persaingan kerja tinggi. Akibatnya sektor informal seperti ojol menjadi penyangga ekonomi bagi jutaan pekerja.
Driver ojol biasanya memiliki status mitra, bukan karyawan. Artinya mereka tidak mendapatkan beberapa perlindungan kerja seperti gaji tetap, jaminan kesehatan perusahaan, tunjangan hari raya, jaminan pensiun. Dalam kondisi pasar tenaga kerja yang penuh persaingan, posisi mitra seperti ini sering dianggap kurang kuat secara hukum maupun ekonomi.
Bagi pelanggan, kondisi ini juga membawa beberapa perubahan:
Pesanan makanan bisa memakan waktu lebih lama untuk mendapatkan driver.
Terdapat disparitas persepsi nilai ekonomi antara nominal biaya pengiriman yang dialokasikan konsumen dengan margin pendapatan bersih yang diterima pramudi online.
Pada jam sibuk, kemungkinan tidak mendapatkan driver meningkat.
Misalnya untuk kondisi darurat, jarak jauh, ketika tidak bisa keluar rumah.
Jika memungkinkan, pesan makanan sebelum jam sibuk atau setelah waktu makan utama.
Tip bisa membantu meningkatkan minat driver menerima pesanan.
Industri ride-hailing di Indonesia kemungkinan akan terus berubah. Beberapa tren yang mulai terlihat antara lain sistem langganan prioritas, algoritma distribusi order baru, peningkatan biaya operasional. Kemungkinan ke depan akan ada penyesuaian antara tarif, kesejahteraan driver, dan biaya bagi konsumen. Jika tidak ada keseimbangan, konflik antara driver, perusahaan aplikasi, dan pelanggan bisa terus terjadi.
Fenomena #KrisisOjol bukan sekadar masalah driver yang malas mengambil pesanan. Realitasnya jauh lebih kompleks dan melibatkan banyak faktor: potongan aplikasi yang besar, tarif yang stagnan, jumlah driver yang berkurang, lonjakan permintaan di jam tertentu, kondisi pasar tenaga kerja.
Pada akhirnya, sistem ojol adalah ekosistem yang melibatkan tiga pihak utama: perusahaan aplikasi, driver, dan konsumen. Jika salah satu pihak merasa dirugikan secara terus-menerus, keseimbangan sistem akan terganggu. Karena itu, solusi jangka panjang kemungkinan membutuhkan perbaikan sistem tarif, perlindungan pekerja, dan kebijakan pemerintah agar industri ini tetap berkelanjutan bagi semua pihak.
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan analisa terhadap driver ojol, kajian laporan keuangan aplikator, serta data BPS.