Wasiat Sang Ayah: Pesan Menyentuh untuk Calon Menantu di Hari Pernikahan
Momen melepaskan seorang putri untuk dipinang bukanlah hal yang mudah bagi seorang ayah. Di balik senyum bahagia di pelaminan, terselip pesan mendalam tentang hakikat penerimaan, kesabaran, dan tanggung jawab membangun rumah tangga sesuai syariat.
Suasana akad nikah selalu menjadi momen yang mendebarkan sekaligus mengharukan. Tepat di hadapan calon menantu, penghulu, dan para hadirin yang memenuhi ruangan, seorang ayah menatap lekat pria yang akan segera mengambil alih tanggung jawabnya. Bukan dengan ancaman atau kebanggaan berlebihan, melainkan dengan sebuah kejujuran yang menggetarkan hati. Ia berwasiat tentang putrinya, tentang ketidaksempurnaan, dan tentang janji suci yang sebentar lagi akan diucapkan.

Banyak yang beranggapan bahwa pernikahan adalah penyatuan dua insan yang sempurna. Namun, realitasnya, pernikahan adalah tempat bersatunya dua ketidaksempurnaan yang saling memaklumi. Sang ayah, dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas, menyampaikan wasiat yang mungkin akan terus terngiang di telinga sang menantu sepanjang hidupnya.
Memahami Hakikat Ketidaksempurnaan Pasangan
Di keheningan majelis akad, sang ayah berucap, "Anak perempuanku banyak kurangnya. Dia bukanlah wanita yang sempurna." Sebuah pengakuan yang sangat jujur dari sosok pelindung pertama bagi seorang wanita. Sebagai orang tua, sang ayah dan istrinya telah mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk mendidik serta membesarkan putri mereka dengan kasih sayang. Namun, sekeras apa pun usaha tersebut, fitrah manusia tidak akan pernah luput dari kelemahan.
Sang ayah melanjutkan wasiatnya dengan mengingatkan sebuah prinsip penting dalam Islam mengenai penciptaan wanita. Ia menyatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini bukanlah sebuah penghinaan atau indikasi kecacatan, melainkan sebuah kiasan mendalam dari lisan baginda Nabi Muhammad mengenai tabiat, kelembutan perasaan, dan karakter unik seorang wanita.
Lelaki diingatkan bahwa ia tidak akan pernah bisa meluruskan tulang rusuk yang bengkok tersebut dengan cara yang keras, karena jika dipaksa, ia akan patah. Patahnya adalah perceraian. Namun, jika dibiarkan begitu saja, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, sudah menjadi ketentuan alamiah bahwa seorang suami harus memiliki ruang yang luas di hatinya untuk memaklumi setiap kekurangan istrinya, sembari terus membimbingnya dengan kelembutan tiada henti.
Pesan Al-Qur'an dalam Membina Rumah Tangga
Bukan sekadar wejangan kosong, sang ayah melandaskan wasiatnya pada firman Allah yang tertuang di dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat An-Nisa Ayat 19. Ayat ini merupakan fondasi emas bagi setiap laki-laki yang bergelar suami dalam memperlakukan istrinya.
Pergaulilah dengan Cara yang Ma'ruf
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِAyat di atas memiliki arti: "Pergaulilah istrimu dengan cara yang ma'ruf (patut)." Pesan ini menuntut seorang suami untuk berinteraksi dengan kelembutan, tutur kata yang baik, dan sikap yang memuliakan. Ketika seorang ayah menyerahkan putrinya, ia menitipkan harapan besar agar menantunya senantiasa memandang kelebihan sang istri dan tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk bertindak semena-mena.
Menghadapi Kekurangan dengan Sabar
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّAllah Maha Mengetahui tabiat ciptaan-Nya. Lanjutan ayat tersebut yang bermakna "Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka..." menyadarkan kita bahwa di tengah perjalanan rumah tangga, pasti akan tiba masa di mana suami menemukan sikap, kebiasaan, atau sifat istri yang tidak ia sukai. Hal tersebut sangat wajar karena rutinitas yang berjalan bertahun-tahun akan membuka tabir karakter asli masing-masing pihak.
Dalam kondisi ketidaknyamanan inilah kedewasaan seorang suami diuji. Sang ayah sadar betul bahwa akan ada hari di mana menantunya merasa lelah atau kesal. Namun, jalan keluarnya bukanlah dengan amarah atau kebencian.
Kebaikan yang Tersembunyi di Balik Ketidaknyamanan
فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًاSebagai pamungkas penawar hati, pedoman Ilahi menutupnya dengan kalimat yang indah: "...(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
Bisa jadi di balik masakan istri yang terkadang kurang pas bumbunya, terdapat doa tulus yang menjaga kesehatan keluarga. Bisa jadi di balik sifatnya yang terkadang terlalu perasa, terdapat kelembutan hati yang kelak akan mendidik anak-anak mereka menjadi generasi yang penyayang. Selalu ada kebaikan yang tidak kasat mata jika suami mau bersabar.
Harapan, Sabar, dan Sebuah Pertanyaan Menggugah
Setelah menjabarkan hakikat kehidupan rumah tangga berbekal tuntunan agama, sang ayah melempar satu pertanyaan retoris yang menyayat hati kepada calon menantunya. "Apakah kemudian, ketika engkau menemukan kekurangan anak perempuanku yang membuatmu tidak nyaman, engkau akan datang mengembalikannya kepadaku?"
Pertanyaan ini bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan sebuah ikatan janji tak tertulis. Sang ayah memohon kelapangan dada menantunya. "Aku berharap engkau bersabar," pungkas sang ayah, merangkum seluruh kecemasan dan cintanya ke dalam satu permintaan sederhana namun amat berat untuk dijalankan.
Sebagai penutup dari prosesi penyerahan tanggung jawab tersebut, sang ayah menitipkan sebuah amanat agung yang menggetarkan relung jiwa siapa saja yang mendengarnya:
"Ketika ia keliru, bimbinglah dengan kasih sayang. Ketika ia lelah, jadilah tempatnya bersandar. Kami melepaskannya ke dalam penjagaanmu bukan karena tugas kami telah selesai, melainkan karena kami percaya bahwa engkau adalah laki-laki terbaik yang dipilihkan Allah untuk menuntunnya menuju surga. Jagalah ia, sebagaimana kami menjaganya selama ini."
Mendengar wasiat dan amanat penutup seperti ini, mustahil rasanya jika hadirin yang berada di sana tidak ikut terbawa suasana. Saya pribadi pun yang membayangkan momen tersebut ikut brebes mili (menitikkan air mata haru). Kelak, setiap dari kita yang memiliki anak perempuan akan berada di posisi sang ayah. Kita akan menikahkan putri kecil yang dulu senantiasa kita gendong, menyerahkan kunci masa depannya kepada seorang pria asing yang berjanji di atas nama Sang Pencipta.
Semoga setiap mempelai yang mengikat janji suci senantiasa mendapatkan rida dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga keduanya dianugerahi kesabaran yang tak bertepi dalam mengarungi ibadah terpanjang di dunia yang bernama pernikahan.