Sepanjang sejarah manusia, Allah ﷻ mengutus para nabi dan rasul untuk membawa petunjuk berupa cahaya kebenaran. Tentu saja, menyampaikan kebenaran di tengah masyarakat yang sudah lama tenggelam dalam kesesatan bukanlah tugas yang mudah. Mereka kerap didustakan, diintimidasi, bahkan diancam keselamatannya.
Untuk menguatkan risalah kerasulan mereka sekaligus mematahkan keangkuhan kaum penentang, Allah ﷻ membekali manusia-manusia pilihan ini dengan mukjizat. Sebuah peristiwa luar biasa yang secara akal manusia mustahil terjadi.
Satu hal penting yang harus kita luruskan sejak awal: mukjizat bukanlah kekuatan magis atau sakti mandraguna dari pribadi para nabi. Mereka tidak memilikinya secara mandiri. Semua keajaiban itu murni terjadi atas kehendak dan izin Allah ﷻ sepenuhnya.

Mari kita selami sepuluh mukjizat monumental dalam sejarah para nabi. Temukan bagaimana setiap peristiwanya meruntuhkan logika manusia dan membuktikan bahwa bagi Allah, semuanya adalah mungkin.
1. Tiga Keajaiban Besar Nabi Musa عليه السلام
Saat diutus kembali ke Mesir untuk menghadapi Fir'aun yang zalim dan mengaku sebagai tuhan, Nabi Musa عليه السلام dibekali berbagai tanda kekuasaan Allah. Tantangan yang dihadapi beliau sangat berat karena masyarakat Mesir kala itu sangat mengagungkan ilmu sihir.
Tongkat Menjadi Ular Raksasa
Di hadapan singgasana Fir'aun dan ribuan penonton, Nabi Musa melemparkan tongkat kayunya. Tongkat yang biasanya hanya dipakai untuk menggembala domba itu tiba-tiba bergerak gesit, berubah menjadi ular yang sesungguhnya.
Bahkan, saat para penyihir istana melemparkan tali-temali mereka yang tampak seperti ular (sihir ilusi), ular dari tongkat Nabi Musa melahap habis semua tali tersebut. Para penyihir yang merupakan pakar ilusi langsung menyadari bahwa ini bukan sihir, melainkan kekuasaan Tuhan semesta alam. Mereka pun spontan bersujud dan beriman.
Tangan Memancarkan Cahaya
Selain tongkat, Nabi Musa juga diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam celah bajunya. Ketika ditarik keluar, tangannya memancarkan cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan.
Ini bukan penyakit kulit seperti kusta atau vitiligo. Ini adalah cahaya murni tanpa cacat sedikit pun yang ditunjukkan sebagai bukti nyata akan kerasulan beliau.
Membelah Lautan Menjadi Jalan Darat
Ini adalah titik klimaks dari pengejaran Fir'aun. Nabi Musa dan Bani Israil terjebak. Di depan mereka terhampar Laut Merah yang dalam, sementara dari belakang, pasukan Fir'aun bersenjata lengkap siap membantai mereka. Secara hitungan logis manusia, riwayat mereka sudah tamat.
Namun, Allah ﷻ memerintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya. Laut itu terbelah dahsyat, membentuk lorong jalan yang kering kerontang di dasarnya. Bani Israil menyeberang dengan selamat, sedangkan Fir'aun dan pasukannya yang angkuh ditenggelamkan saat laut kembali menyatu.
Referensi ayat tentang Nabi Musa
Peristiwa tongkat menjadi ular:
“Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ketika Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, dia berbalik melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. (QS. An-Naml: 10)
Peristiwa tangan bercahaya:
“Masukkanlah tanganmu ke dalam celah bajumu, niscaya tanganmu keluar putih bercahaya tanpa cacat.” (QS. An-Naml: 12)
Peristiwa membelah laut:
“Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu... (QS. Asy-Syu'ara: 63)
2. Api yang Tunduk Kepada Nabi Ibrahim عليه السلام
Nabi Ibrahim عليه السلام menghadapi kemarahan luar biasa dari kaumnya setelah beliau menghancurkan berhala-berhala pujaan mereka. Raja Namrud dan rakyatnya sepakat untuk memberikan hukuman paling mengerikan: membakar Ibrahim hidup-hidup di tengah alun-alun.
Api besar dinyalakan. Saking panasnya, mereka harus menggunakan alat pelempar (manjanik) dari jarak jauh untuk melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api. Namun, di saat kritis itu, Allah ﷻ membatalkan sifat alamiah api yang membakar.
Tuhan semesta alam memerintahkan api itu untuk menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Ingat, Allah tidak menghilangkan apinya; apinya tetap menyala besar, namun suhunya berubah menjadi kesejukan yang melindungi sang kekasih Allah (Khalilullah).
3. Besi Takluk di Tangan Nabi Dawud عليه السلام
Kita tahu bahwa untuk melunakkan dan membentuk besi, manusia membutuhkan tungku peleburan dengan suhu ribuan derajat celcius. Namun, aturan fisika ini tidak berlaku bagi Nabi Dawud عليه السلام.
Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan bahwa Allah ﷻ melunakkan besi untuknya seolah-olah besi itu seperti lilin atau tanah liat di tangannya. Dari kemampuan inilah beliau membuat baju pelindung perang (zirah) berbentuk anyaman rantai yang sangat kuat, fleksibel, dan inovatif pada zamannya. Ini merupakan karunia khusus, bukan sekadar skill pertukangan biasa.
4. Menghidupkan yang Mati Lewat Tangan Nabi Isa عليه السلام
Kematian adalah garis akhir takdir manusia di dunia. Tidak ada teknologi atau dokter paling genius sekalipun yang bisa mengembalikan roh ke dalam jasad yang sudah terbujur kaku. Namun, untuk membungkam Bani Israil yang saat itu sangat maju dalam ilmu pengobatan, Allah memberikan mukjizat luar biasa kepada Nabi Isa عليه السلام.
Nabi Isa mampu menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit kusta, hingga menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan dikubur. Namun, Al-Qur'an memberi penegasan yang diulang berkali-kali tentang peristiwa ini: "Bii-idznillah" (dengan izin Allah).
Nabi Isa tidak melakukan itu dengan kekuatan ketuhanannya sendiri, melainkan mutlak karena Allah ﷻ yang menghendakinya sebagai bukti kebenaran wahyu.
5. Kekuasaan Spektakuler Nabi Sulaiman عليه السلام
Mewarisi kerajaan dari ayahnya (Nabi Dawud), Nabi Sulaiman عليه السلام diberikan kekuasaan duniawi yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun setelahnya. Kerajaannya meliputi manusia, jin, hingga hewan.
Memahami Bahasa Alam dan Hewan
Suatu ketika, saat melakukan perjalanan dengan pasukan raksasanya, Nabi Sulaiman melewati sebuah lembah semut. Ia mendengar instruksi seekor semut yang memerintahkan kawanannya untuk bersembunyi agar tidak terinjak tanpa sengaja oleh pasukan kerajaan.
Mendengar bahasa makhluk sekecil itu, Sulaiman tidak lantas menjadi arogan. Beliau justru tersenyum dan berdoa memohon kepada Allah agar terus diilhami rasa syukur atas nikmat yang melimpah ruah tersebut.
Angin Sebagai Kendaraan Cepat
Jika hari ini kita bangga dengan pesawat jet super cepat, Nabi Sulaiman telah lebih dulu difasilitasi oleh Allah dengan transportasi yang menembus batas kewajaran. Allah menundukkan angin untuk beliau. Perjalanan yang normalnya memakan waktu satu bulan berkuda, bisa ditempuh Nabi Sulaiman hanya dalam setengah hari perjalanan (waktu pagi atau sore).
Doa syukur Nabi Sulaiman
Ketika mendengar semut berbicara, Nabi Sulaiman tersenyum lalu berdoa:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml: 19)
6. Cahaya Harapan dari Nabi Yunus dan Ayyub
Tidak semua mukjizat berupa penundukan alam semesta atau menghancurkan musuh. Ada mukjizat yang sangat personal, yang menjadi simbol harapan bagi siapa saja yang sedang hancur lebur secara fisik maupun mental.
Selamat dari Kegelapan Berlapis (Nabi Yunus عليه السلام)
Nabi Yunus pernah ditelan oleh ikan paus raksasa. Ia terperangkap hidup-hidup di dalam tiga kegelapan: kegelapan malam, kegelapan dasar lautan, dan kegelapan perut ikan. Tidak ada sinyal darurat, tidak ada oksigen yang cukup, tidak ada tim SAR yang bisa menolongnya.
Di dasar keputusasaan itu, beliau menyadari kesalahannya lalu melangitkan doa tasbih yang amat masyhur: "Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin." Allah mendengar rintihannya dan memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya dengan selamat.
Kesembuhan Setelah Ujian Panjang (Nabi Ayyub عليه السلام)
Nabi Ayyub diuji dengan habisnya harta, meninggalnya anak-anak, dan penyakit parah yang menempel bertahun-tahun di sekujur tubuhnya hingga ia dijauhi masyarakat. Setelah sekian lama bersabar, beliau memanjatkan doa yang sangat santun: "Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
Allah ﷻ mengabulkan doanya, memerintahkannya menghentakkan kaki ke tanah hingga memancar air sejuk. Air itulah yang menjadi syariat kesembuhannya dari luar dan dalam, sekaligus Allah kembalikan keluarga dan kekayaannya berlipat ganda.
Pesan Paling Penting untuk Kehidupan Kita
Mari kita tarik garis besar dari kesepuluh peristiwa spektakuler di atas. Semua keajaiban tersebut mengerucut pada satu pesan mutlak yang tak terbantahkan:
Tidak ada satu pun peristiwa di alam semesta ini yang terjadi di luar izin dan kekuasaan Allah ﷻ.
Mukjizat para nabi tidak seharusnya hanya membuat kita bertepuk tangan kagum seperti sedang menonton film fiksi ilmiah. Ia hadir di dalam kitab suci agar kita semakin mengenal kebesaran Tuhan kita.
Coba renungkan sejenak kondisi kita saat ini. Jika Allah ﷻ mampu membelah kedalaman Laut Merah untuk menyelamatkan Musa... Jika Allah ﷻ mampu membekukan panasnya api untuk melindungi Ibrahim... Jika Allah ﷻ mampu menyelamatkan Yunus dari dasar samudra yang gelap gulita...
Maka, jangan pernah menganggap masalah finansialmu, penyakitmu, atau kehancuran mentalmu terlalu besar bagi Allah ﷻ.
Bisa jadi hari ini kamu sedang merasa tenggelam di "laut" tumpukan utang. Bisa jadi kamu sedang terbakar dalam "api" fitnah di tempat kerja. Bisa jadi kamu sedang meringkuk menangis di "kegelapan" kamar karena kesepian dan depresi berat.
Tetapi percayalah, sebagaimana Allah ﷻ mendengar dan menolong hamba-hamba pilihan-Nya pada zaman dahulu, Dia adalah Tuhan yang sama, yang mendengarkan keluh kesahmu hari ini.
Tugas kita hanyalah merawat iman, terus berdoa, memaksimalkan ikhtiar, bersabar hingga titik darah penghabisan, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah ﷻ. Sebab, sesuatu yang mustahil di mata kita sebagai manusia yang lemah, hanyalah perkara remeh dan mudah bagi Sang Pencipta.