Kisah Nabi Luth ‘Alaihissalam bukan sekadar cerita tentang sebuah kaum yang dibinasakan. Di dalamnya ada pelajaran tentang keberanian berdakwah, beratnya menjaga iman di lingkungan yang rusak, adab terhadap tamu, serta pentingnya tidak menantang peringatan Allah. Ini kisah yang keras, tapi hikmahnya justru sangat lembut bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

Nabi Luth berasal dari Babylon, wilayah Iraq, tanah kelahiran bapa saudaranya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Ketika Nabi Ibrahim berhijrah bersama keluarganya dari Iraq menuju Syria dan Palestin, Nabi Luth turut berada dalam perjalanan tersebut. Dari perjalanan besar inilah Allah kemudian memberi Nabi Luth sebuah amanah yang sangat berat: pergi ke kota Sodom dan menyeru penduduknya agar bertaubat serta kembali kepada jalan Allah.
Tugas itu bukan tugas yang ringan. Nabi Luth tidak diutus kepada masyarakat yang sedang baik-baik saja lalu cuma butuh “sedikit motivasi pagi”. Beliau diutus kepada kaum yang sudah tenggelam dalam kerusakan akhlak, ketidakjujuran, pelanggaran adab, dan pembangkangan terbuka terhadap peringatan Allah. Jadi sejak awal, misi dakwah Nabi Luth memang berat. Beratnya bukan main, bukan sekadar beda pendapat di kolom komentar.
Kota Sodom dan masyarakat yang kehilangan arah
Kota Sodom disebut berada di kawasan yang berkaitan dengan sempadan Jordan dan Palestin, dekat wilayah yang kemudian dikenal dengan Laut Mati atau The Dead Sea. Pada masa itu, kawasan tersebut digambarkan sebagai tanah rata dan menjadi tempat singgah para pengembara serta pedagang. Secara lahiriah, Sodom tampak hidup dan ramai. Namun, keramaian kota tidak selalu berarti sehatnya jiwa masyarakatnya.
Di balik kehidupan kota yang ramai, Sodom dikenal dengan kerusakan moral, ketidakjujuran, dan kemungkaran yang meluas. Al-Qur’an menggambarkan kaum Nabi Luth sebagai kaum yang melampaui batas. Dalam bingkai iman, masalah mereka bukan hanya satu jenis pelanggaran, melainkan rangkaian pembangkangan: menolak nasihat, meremehkan peringatan, mengganggu orang yang datang, dan menormalisasi perbuatan yang dilarang dalam ajaran Allah.
Catatan adab: pembahasan kisah ini diarahkan untuk mengambil hikmah dari Al-Qur’an dan tradisi kisah para nabi. Fokusnya adalah iman, taubat, adab, dan larangan melampaui batas; bukan untuk merendahkan manusia atau membuka ruang caci-maki kepada siapa pun.
Dalam riwayat kisah Nabi Luth, kaum tersebut dikenal melakukan berbagai tindakan buruk, termasuk merampas hak orang lain, melakukan kekerasan, dan melakukan pelanggaran fitrah yang ditegur keras dalam Al-Qur’an. Mereka juga tidak malu mempertontonkan kerusakan itu di ruang publik. Ketika nasihat sudah dianggap gangguan, biasanya tanda bahaya rohani sudah menyala terang. Sayangnya, kaum Sodom memilih mematikan alarm itu.
Dakwah Nabi Luth yang terus ditolak
Nabi Luth kemudian berhijrah dan menetap di Kota Sodom. Di sana, beliau berkali-kali mengajak kaumnya untuk bertaubat, meninggalkan kemungkaran, dan kembali kepada fitrah yang diridhai Allah. Dakwah beliau bukan dakwah yang penuh kebencian, melainkan seruan agar manusia kembali kepada kebaikan sebelum datang hukuman yang tidak bisa ditolak.
Namun, kaum Nabi Luth justru membenci dakwah tersebut. Mereka tidak suka ditegur, tidak mau diingatkan, dan merasa terganggu ketika Nabi Luth menyeru mereka agar berhenti dari perbuatan buruk. Bahkan, mereka sampai menyuruh beliau diam dan mengancam akan mengusir Nabi Luth beserta keluarganya dari kota Sodom apabila beliau terus berdakwah.
Nabi Luth bersumpah kepada Allah bahwa beliau tidak terlibat dan tidak akan ikut dalam perbuatan kaumnya. Sumpah itu membuat mereka semakin tersinggung. Bagi kaum yang sudah terbiasa membalik ukuran baik dan buruk, orang yang menjaga diri sering dianggap sok suci. Padahal kadang yang mereka benci bukan kesombongan orang saleh, tetapi cermin yang membuat kerusakan mereka terlihat jelas.
Meski diancam, Nabi Luth tidak berhenti. Beliau terus mengingatkan, “Takutlah kepada hukuman Tuhan.” Namun, ketika hati sudah keras, peringatan justru dijadikan bahan tantangan. Mereka menantang Nabi Luth agar membawa hukuman Allah jika memang beliau benar. Tantangan seperti ini bukan keberanian, melainkan kebodohan yang sedang merasa gagah.
Tiga malaikat datang membawa keputusan Allah
Ketika pembangkangan kaum Sodom telah mencapai puncaknya, Allah mengutus tiga malaikat dalam rupa pemuda yang sangat tampan. Sebelum menuju Kota Sodom, para malaikat itu lebih dulu datang ke rumah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.
Nabi Ibrahim tidak mengenali siapa tiga pemuda tersebut. Namun, karena beliau sangat memuliakan tamu, Nabi Ibrahim menyajikan makanan terbaik dari sapi yang disembelihnya. Ketika makanan dihidangkan, para tamu itu tidak menyentuhnya. Nabi Ibrahim mulai merasa heran dan khawatir.
Para tamu itu kemudian berkata agar Nabi Ibrahim tidak takut. Mereka menjelaskan bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah. Mereka membawa kabar gembira bahwa Sarah, istri Nabi Ibrahim, akan dikaruniai seorang anak, yaitu Nabi Ishak ‘Alaihissalam. Selain itu, mereka juga memberitahu bahwa mereka akan menuju Sodom untuk melaksanakan perintah Allah terhadap kaum Nabi Luth.
Nabi Ibrahim merasa resah karena memikirkan Nabi Luth, anak saudaranya, yang berada di tengah kaum tersebut. Kegelisahan Nabi Ibrahim menunjukkan kelembutan hati seorang nabi. Beliau peduli kepada keluarga dan orang beriman, namun keputusan Allah tetap berjalan dengan ilmu dan keadilan-Nya.
Para tamu Nabi Luth dan ujian yang makin berat
Dari jauh, anak perempuan Nabi Luth melihat tiga pemuda tampan memasuki kota. Ia segera pulang dan memberitahu ayahnya. Nabi Luth kemudian menemui para pemuda tersebut dan mencoba membujuk mereka agar tidak masuk lebih jauh ke dalam kota. Kekhawatiran beliau sangat beralasan, sebab beliau tahu bagaimana buruknya perilaku sebagian penduduk Sodom terhadap orang asing.
Namun, para pemuda itu tetap melanjutkan perjalanan. Akhirnya Nabi Luth membawa mereka ke rumahnya secara sembunyi-sembunyi demi menjaga keselamatan mereka. Di sinilah tampak adab Nabi Luth terhadap tamu. Di tengah tekanan masyarakat yang rusak, beliau tetap berusaha melindungi orang yang datang ke rumahnya.
Istri Nabi Luth tidak beriman kepada dakwah suaminya. Ketika melihat para pemuda itu berada di rumah Nabi Luth, ia memberitahu orang ramai. Tidak lama kemudian, para lelaki dari kaum itu datang beramai-ramai ke rumah Nabi Luth dan mengetuk pintu.
Nabi Luth berkata agar mereka tidak mempermalukan beliau di hadapan para tamunya. Kaumnya menjawab dengan keras kepala, sebagaimana tergambar dalam Surah Hud ayat 79. Nabi Luth kemudian berkata bahwa seandainya beliau memiliki kekuatan atau pendukung yang kuat, tentu beliau akan menghadapi mereka, sebagaimana disebut dalam Surah Hud ayat 80.
Pada saat itulah tiga pemuda tersebut membuka jati diri mereka. Mereka bukan manusia biasa, melainkan malaikat yang diutus oleh Allah. Mereka menenangkan Nabi Luth dan memberitahu bahwa kaumnya tidak akan mampu menyentuh beliau. Para malaikat memerintahkan Nabi Luth agar membawa keluarganya keluar dari kota pada malam hari, dan tidak seorang pun menoleh ke belakang, kecuali istrinya yang termasuk orang yang tertinggal dalam kebinasaan. Ini disebut dalam Surah Hud ayat 81.
Azab yang datang setelah peringatan diabaikan
Salah seorang malaikat yang datang adalah Jibril. Dalam kisah ini, Jibril membuka pintu rumah Nabi Luth dan dengan kuasa Allah kaum yang mengepung rumah itu dibuat tidak berdaya. Mereka menjadi buta dan gagal melaksanakan niat buruk mereka. Setelah itu, Nabi Luth membawa keluarganya keluar dari Sodom pada malam hari sesuai perintah Allah.
Setelah Nabi Luth dan orang yang diselamatkan pergi, datanglah ketetapan Allah atas kaum Sodom. Azab itu digambarkan bertahap dan sangat dahsyat. Peringatan yang dulu mereka tantang akhirnya benar-benar tiba. Pada titik ini, tidak ada lagi ruang untuk debat, alasan, atau gaya sok kuat. Kalau azab sudah turun, manusia tidak sedang berada di panggung keberanian, melainkan di hadapan kekuasaan Allah.
Keesokan paginya, datang bunyi amat dahsyat yang disebut As-Saihah. Suara ini mengguncang tanah dan menjadi bagian dari hukuman yang menimpa kaum yang membangkang.
Dengan izin Allah, Jibril mengangkat kota tersebut lalu membaliknya. Gambaran ini menunjukkan betapa rapuhnya kekuatan manusia ketika berhadapan dengan ketetapan Allah.
Allah menurunkan batu-batu yang menghujani kota Sodom, sebagaimana disebut dalam Surah Hud ayat 82. Dalam ayat berikutnya, Surah Hud ayat 83, batu-batu itu disebut bertanda di sisi Tuhan.
Maka hilanglah sebuah kaum beserta kotanya dari bumi Allah akibat terus-menerus menantang peringatan-Nya. Dalam narasi kisah ini, kawasan Laut Mati kemudian dipahami sebagai salah satu pengingat bagi manusia tentang apa yang terjadi kepada kaum Nabi Luth. Bukan untuk dijadikan bahan sensasi, melainkan tanda agar manusia tidak merasa aman ketika terus membangkang.
Nabi Luth setelah Sodom
Setelah peristiwa itu, Nabi Luth pergi menemui bapa saudaranya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Namun, Nabi Ibrahim telah mengetahui kabar tersebut dari para malaikat. Pertemuan ini menjadi penutup yang mengharukan: dua nabi, dua jalan dakwah, dan satu keyakinan yang sama kepada keputusan Allah.
Nabi Luth kemudian meneruskan hidupnya dengan berdakwah kepada manusia agar beriman kepada Allah. Kisah beliau mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu disambut tepuk tangan. Kadang ia dibalas penolakan, ancaman, bahkan pengkhianatan dari orang terdekat. Namun, ukuran kebenaran bukan ditentukan oleh banyaknya orang yang setuju, melainkan oleh petunjuk Allah.
Hikmah yang bisa dibawa pulang
Kisah Nabi Luth mengingatkan kita bahwa kemajuan kota, keramaian pasar, dan kehidupan sosial yang tampak hidup tidak otomatis membuat suatu masyarakat menjadi baik. Jika kejujuran hilang, adab rusak, tamu tidak dihormati, nasihat dianggap musuh, dan dosa dipamerkan tanpa malu, maka masyarakat sedang berada di jalur yang berbahaya.
Namun kisah ini juga membawa pesan yang hangat: jalan pulang selalu ada bagi yang mau mencari ampunan dan kebaikan. Selama seseorang belum menutup pintu hatinya, taubat masih mungkin. Yang berbahaya bukan hanya salah langkah, tetapi merasa bangga dengan kesalahan lalu menolak setiap peringatan.
Maka pelajaran besarnya sederhana, tapi tidak ringan: jaga iman, jaga adab, hormati nasihat, jangan menantang peringatan Allah, dan jangan merasa terlalu kuat untuk diperbaiki. Karena manusia yang paling aman bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang cepat kembali ketika sadar dirinya mulai menjauh.
#RamadahanTales oleh Saudari Sharifah Syazreen Al-Idrus. Sebuah pengingat hangat: ujian bisa berat, tapi jalan pulang selalu ada bagi yang mencari ampunan dan kebaikan.