Pernah merasa doa kok kayaknya mantul lagi ke bumi? Mungkin kita kurang "pemanasan". Sebagaimana tata krama menghadiri agenda formal penting, persiapan penampilan dan sikap batin menjadi prioritas utama. Nah, apalagi mau minta sama yang punya alam semesta.

Cari waktu "Prime Time"-nya doa. Ada yang tahunan (Ramadhan), mingguan (Jumat), sampai harian (waktu sahur/sepertiga malam). Di saat orang lain tidur, itu waktu paling eksklusif buat curhat.
Manfaatkan "jalur cepat" saat turun hujan, lagi puasa, atau jeda antara Azan dan Iqamah. Itu waktu-waktu di mana pintu langit lagi open house.

Angkat tanganmu tinggi-tinggi seolah sedang menerima pemberian. Setelah selesai, usap wajah sebagai tanda syukur ilmu dan berkah sudah turun.
Prinsip penyampaian doa tidak mensyaratkan rima yang kompleks atau penyusunan kalimat artifisial yang di luar pemahaman personal artinya. Pakai bahasa jujur dari hati saja, itu jauh lebih bergetar.
Gak usah teriak-teriak. Doa itu percakapan rahasia. Semakin lembut suaramu, biasanya semakin jujur isinya.

Diharapkan memfokuskan konsentrasi penuh tanpa teralihkan oleh urusan administratif finansial atau domestik harian. Pastikan saat lisan bicara, hati juga ikut "menandatangani" permohonan tersebut.
Jangan langsung "to the point" minta rezeki. Puji dulu Sang Pemberi, sapa kekasih-Nya (Nabi Muhammad SAW). Ini tata krama dasar dalam langit.
Berdoalah seolah-olah kamu sudah memegang kunci jawabannya. Tuhan itu sesuai persangkaan hamba-Nya. Kalau kamu ragu, gimana langit mau bantu?
Ulangi doamu 3 kali. Jangan hari ini doa, besok protes kok belum dikabulin. Sabar itu bagian dari doa itu sendiri.
Puncaknya Adab Batin. Imam Al-Ghazali bilang ini yang paling penting. Sebelum minta, bersihkan dulu "wadah"-nya dengan tobat. Balikin hak orang yang pernah kita ambil. Hati yang bersih adalah magnet sangat kuat buat doa.

"Doa bukan cuma soal hasil, tapi soal proses mendekatnya seorang hamba pada Tuhannya."