Tafsir Al-Quran
Semoga selalu dalam lindungan Allah... Hari ini aku ingin ngajak kamu ngobrolin dua ayat dari surat terpanjang di Al-Quran, yaitu Al-Baqarah ayat 11 dan 12. Dua ayat ini singkat tapi dalem sekali maknanya. Sering sekali kita lihat di dunia nyata—orang yang merusak tapi ngaku paling bener, bahkan merasa lagi memperbaiki keadaan. Nah, Al-Quran sudah kasih warning sejak 14 abad lalu. Yuk, kita bedah pelan-pelan.
"Mereka melakukan perbuatan yang merusak, seperti membela pihak non-Muslim dalam konteks sejarah dan memerangi kaum mukminin, tetapi menganggapnya sebagai kebaikan. Mereka bahkan mendirikan pusat aktivitas kemasyarakatan dengan orientasi yang kurang selaras dengan prinsip dasar persatuan (masjid dhirar) dan mengklaimnya sebagai perbaikan." — Tafsir Kemenag.
What (Apa): Ayat ini berisi teguran Allah buat orang-orang munafik yang suka bikin kerusakan di muka bumi, tapi pas ditegur mereka malah ngegas: "Kami ini justru orang yang melakukan perbaikan!" Astagfirullah, kebalik, ya?
Who (Siapa): Ayat ini turun terkait orang munafik di Madinah, tapi pelajarannya buat semua orang beriman sampai kiamat. Siapa pun yang punya sifat seperti itu—merasa paling bener padahal merusak—maka ayat ini bicara tentang kita.
When (Kapan): Relevan setiap saat. Apalagi di era media sosial sekarang, banyak sekali konten "perbaikan" tapi isinya provokasi, fitnah, dan perpecahan. Waspada, guys!
Where (Di mana): Kerusakan bisa di mana saja: di lingkungan rumah, tempat kerja, bahkan di masjid. Bumi ini tempat kita jadi khalifah, jangan sampai kita jadi agen kerusakan tanpa sadar.
Why (Mengapa): Karena Allah ingin kita punya mata hati yang tajam. Jangan sampai kita tertipu oleh retorika "perbaikan" yang justru merusak tatanan sosial dan agama. Penting sekali buat kita agar selalu introspeksi: udah benar belum niat dan cara kita?
How (Bagaimana): Caranya dengan kembali ke Al-Quran dan Sunnah. Tidak cukup cuma lihat luarnya. Kita perlu timbangan syariat untuk menilai baik-buruknya sebuah tindakan.
Wa iżā qīla lahum lā tufsidụ fil-arḍi qālū innamā naḥnu muṣliḥụn
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.'" (QS. Al-Baqarah: 11)
Alā innahum humul-mufsidụna wa lākil lā yasy'urụn
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (QS. Al-Baqarah: 12)
Menurut Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini menggambarkan respons khas orang munafik. Saat dinasihati agar tidak membuat kerusakan, mereka langsung pasang kuda-kuda: "Kami ini orang baik, kami sedang mengadakan perbaikan." Duh, sadar atau etidak, mereka itu sudah menipu diri sendiri. Mereka menganggap tindakan mereka—misalnya membela orang pihak non-Muslim dalam konteks sejarah, menyebar fitnah, atau memicu konflik—sebagai sesuatu yang positif. Mereka merasa sebagai agen perubahan, padahal mereka sedang mengobok-obok fondasi masyarakat.
Renunganku: Aku jadi ingat beberapa tahun lalu, ada seseorang di lingkunganku yang sering mengkritik kebijakan masjid. Katanya dia ingin "memperbaiki" agar lebih modern. Tapi caranya dengan menyebar isu dan memecah belah jamaah. Akhirnya masjid jadi sepi, orang-orang malas datang. Dia merasa sudah berjasa, padahal dia merusak ukhuwah. Nah, itu contoh nyata. Kadang kita juga tidak sadar, ya, saat "niat baik" justru melukai orang lain.
Dalam tafsir yang lebih dalam, Allah menyebutkan bahwa mereka selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakan buruk. Mereka bahkan mungkin tampak alim, rajin sedekah, atau aktif di organisasi. Tapi kalau hatinya sudah tertutup, semua "amal" bisa menjadi bumerang karena diniatkan untuk merusak.
Allah membantah dengan tegas: "Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." Kata "ala" (ingatlah) berfungsi sebagai peringatan keras. Jangan sampai kita termasuk golongan yang buta hati. Mereka tidak sadar karena kesombongan dan kebodohan. Mereka sudah merasa paling benar, sehingga tidak pernah melakukan introspeksi.
Ini yang bikin sedih. Seseorang bisa terus menerus berbuat kerusakan sepanjang hidupnya, dan wafat dalam keadaan mengira dirinya baik. Na'udzubillah. Makanya kita perlu terus memohon petunjuk kepada Allah agar diberi hati yang bersih dan kemampuan membedakan yang haq dan batil.
Kerusakan tidak cuma soal polusi atau penebangan hutan. Dalam ayat ini, maknanya lebih luas: kekufuran, perbuatan yang dipandang melanggar nilai agama, menyebar fitnah, memicu konflik, dan semua bentuk penyimpangan dari aturan Allah. Bahkan ada ayat lain yang mengaitkan kerusakan dengan dosa manusia (QS. Ar-Rum: 41). Dan lihatlah QS. Maryam: 90-91, hampir-hampir langit pecah karena ucapan yang dipandang menyimpang dari tauhid. Artinya, dampak kerusakan moral itu sangat dahsyat, sampai alam semesta bisa terguncang secara metaforik.
Dosa dan kerusakan alam itu berkaitan. Ketika manusia jauh dari Allah, ekosistem sosial dan alam ikut hancur. Jadi, kalau kita liho banjir di mana-mana, konflik sosial merajalela, coba cek lagi: mungkin ini akibat ulah tangan-tangan kita sendiri.
Yang paling serem adalah saat seseorang sudah membalikkan fakta: kerusakan dianggap perbaikan, dan kebaikan malah dianggap kerusakan. Ini penyakit hati level dewa. Contoh gampang: ada orang yang mengingatkan agar tidak gibah, eh dia balik melakukan eskalasi keamanan terhadap: "Kamu ini menghalangi kebebasan berekspresi, kamu anti kritik!" Padahal yang dia lakukan adalah membela gibah yang jelas dilarang. Nauzubillah.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-A'raf: 99, "Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiadalah yang merasa aman dari makar Allah, kecuali orang-orang yang merugi." Merasa aman dari azab, karena menganggap semua perbuatannya baik, adalah puncak kesombongan.
Para ulama sering mengaitkan ayat ini dengan ahlul bid'ah (pelaku bid'ah). Mereka melakukan amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah, tapi menganggapnya sebagai bentuk ibadah dan perbaikan. Padahal Nabi sudah bersabda, "Setiap bid'ah itu sesat." Mereka tidak sadar bahwa mereka justru merusak kemurnian agama. Mirip sekali dengan perilaku munafik dalam ayat ini: melakukan kesalahan, tapi merasa di atas jalan yang benar.
Gengs, aku nulis ini bukan untuk menghakimi orang lain. Justru untuk mengingatkan diriku sendiri, dan siapa tahu bermanfaat buat kamu. Kadang tanpa sadar kita bisa terperosok ke jurang kemunafikan. Misalnya, kita ingin "memperbaiki" pasangan dengan cara kasar, atau ingin "menasehati" teman tapi malah mempermalukannya di depan umum. Niat kita mungkin baik, tapi cara yang merusak akan tetap tercatat sebagai kerusakan.
Mari kita belajar dari Al-Baqarah ayat 11-12. Jadilah hamba Allah yang benar-benar membawa perbaikan (ishlah), bukan hanya klaim. Dan yang paling penting, jangan sampai kita menjadi orang yang tidak menyadari bahwa diri kita adalah perusak. Semoga Allah melindungi kita dari sifat munafik dan menutup mata hati. Aamiin.