Al-Qur'an Memerintahkan Luzūmul Jamā'ah? Sebuah Keajaiban Menjaga Persatuan Umat, Kebenaran, dan Peradaban

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran: 103)

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)

Pernahkah Anda memperhatikan satu hal yang sangat menarik? Banyak orang mengira bahwa persatuan dalam Islam berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Padahal, para sahabat Rasulullah ﷺ sendiri berbeda pendapat dalam banyak persoalan ijtihad. Namun mereka tetap saling menghormati, tetap saling mencintai, dan tetap menjadi satu umat.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Luzūmul Jamā'ah? Apakah sekadar mengikuti mayoritas? Apakah harus bergabung dengan organisasi tertentu? Ataukah Al-Qur'an sedang mengajarkan sebuah prinsip besar yang menjaga umat agar tidak tercerai-berai sepanjang zaman?

Ilustrasi siluet jamaah yang berkumpul bersama dengan latar langit senja, menggambarkan persatuan umat dalam bingkai ukhuwah Islamiyah

Mengapa Islam Mengajarkan Luzūmul Jamā'ah?

Secara bahasa, Luzūm (لزوم) berarti tetap berpegang teguh, konsisten, tidak meninggalkan. Sedangkan Al-Jamā'ah (الجماعة) berarti kumpulan kaum muslimin yang bersatu di atas kebenaran. Karena itu, Luzūmul Jamā'ah bukan sekadar berkumpul, bukan pula sekadar menjadi bagian dari kelompok tertentu. Melainkan tetap bersama umat Islam di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagaimana dipahami oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa al-jamā'ah adalah bersatu di atas kebenaran yang diwariskan Rasulullah ﷺ. Artinya, Islam tidak pernah memisahkan antara persatuan dan kebenaran. Persatuan tanpa kebenaran akan melahirkan penyimpangan, sedangkan kebenaran tanpa persatuan akan melahirkan perpecahan. Al-Qur'an memerintahkan keduanya berjalan bersama.

Mengapa Al-Qur'an Memerintahkan Berpegang pada "Tali Allah"?

Allah berfirman, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran: 103)

Perhatikan! Allah tidak mengatakan, “Berpeganglah kepada tokohmu,” atau, “Berpeganglah kepada kelompokmu.” Allah mengatakan, “Tali Allah.” Mengapa? Karena manusia dapat berubah, pemimpin dapat berganti, organisasi dapat berkembang atau bahkan hilang. Bahkan negara pun bisa bubar. Dahulu ada Negara Uni Soviet dan Yugoslavia, kini mereka pecah menjadi berbagai negara lebih kecil. Tetapi sadarilah, wahyu Allah tetap menjadi pusat persatuan sepanjang zaman. Selama manusia menjadikan Al-Qur'an sebagai poros kehidupan, persatuan memiliki fondasi yang kokoh.

Mengapa Rasulullah ﷺ Berkali-kali Mengingatkan tentang Jamaah?

Beliau bersabda, “Hendaklah kalian tetap bersama jamaah.” (HR. At-Tirmidzi). Dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman, Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tetaplah bersama jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengapa peringatan ini diulang? Karena Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa fitnah terbesar setelah beliau wafat bukan hanya datang dari luar Islam, tetapi juga dari perpecahan di dalam tubuh umat. Sejarah membuktikannya: fanatisme kelompok, saling mengkafirkan, perebutan kekuasaan, dan perang saudara—semuanya melemahkan umat. Karena itu, bab Luzūmul Jamā'ah selalu hadir dalam kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah sebagai benteng menjaga persatuan.

Apakah Jamaah Berarti Selalu Mengikuti Mayoritas?

Tidak. Inilah bagian yang sering disalahpahami. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Al-Jamā'ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, meskipun engkau sendirian.” Artinya, ukuran utama bukan banyaknya pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Namun, kalimat ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk merasa diri sendiri pasti paling benar. Sebab memahami Al-Qur'an membutuhkan ilmu, adab, dan bimbingan para ulama yang terpercaya. Kerendahan hati adalah bagian dari menjaga jamaah.

Mengapa Islam Memerintahkan Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang Ma'ruf?

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad). Inilah keseimbangan Islam. Di satu sisi, Islam memerintahkan ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang baik. Di sisi lain, Islam tidak membenarkan kemaksiatan hanya karena diperintahkan manusia, walau dia pemimpin, apalagi pemimpin zalim.

Mengapa demikian? Karena syariat menjaga dua hal sekaligus: menjaga agama dan menjaga stabilitas masyarakat. Para ulama seperti Imam Ahmad, An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kerusakan akibat kekacauan sering kali lebih besar daripada kesalahan yang ingin diperbaiki.

Mengapa Bab Luzūmul Jamā'ah Sangat Relevan di Era Media Sosial?

Hari ini, perpecahan tidak lagi selalu dimulai dari peperangan. Tetapi dari sebuah unggahan, video pendek, potongan ceramah, atau sebuah komentar. Lalu muncul prasangka, kemarahan, dan permusuhan. Psikologi modern menyebut adanya confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri.

Akibatnya, dialog berubah menjadi konflik. Al-Qur'an justru mengajarkan tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6), ukhuwah (QS. Al-Hujurat: 10), dan larangan berprasangka buruk (QS. Al-Hujurat: 12). Persatuan dijaga dengan ilmu, bukan dengan emosi.

Keajaiban Al-Qur'an yang Luar Biasa

Perhatikan bagaimana Al-Qur'an membangun persatuan umat:

  1. Allah menjadikan wahyu sebagai pusat persatuan.
  2. Rasulullah ﷺ memerintahkan umat agar tetap bersama jamaah.
  3. Para sahabat menjaga ukhuwah meskipun berbeda dalam perkara ijtihad.
  4. Para ulama mewariskan bab Luzūmul Jamā'ah agar umat tidak mudah terpecah.
  5. Islam memerintahkan taat dalam perkara yang ma'ruf dan menolak kemaksiatan.
  6. Al-Qur'an mengajarkan tabayyun, musyawarah, dan adab ketika terjadi perbedaan.
  7. Persatuan yang dibangun di atas wahyu melahirkan kekuatan umat dan menjaga peradaban.

Tidak ada satu tahap pun yang terlewat. Inilah sistem persatuan yang dibangun langsung oleh wahyu. Bukan persatuan yang menghilangkan kebenaran, bukan pula kebenaran yang melahirkan permusuhan. Melainkan persatuan yang berakar pada tauhid, ilmu, dan akhlak.

Renungan

Mungkin selama ini kita mengira ancaman terbesar bagi umat Islam datang dari luar. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena serangan musuh, melainkan karena kehilangan persatuan di dalam dirinya sendiri. Al-Qur'an tidak meminta setiap manusia memiliki pendapat yang sama dalam seluruh persoalan. Namun Al-Qur'an mengajarkan agar hati tetap bersatu, adab tetap dijaga, dan setiap perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin inilah salah satu keajaiban terbesar Al-Qur'an. Allah tidak hanya mengajarkan cara seorang mukmin beribadah kepada-Nya, tetapi juga mengajarkan bagaimana jutaan manusia dengan bahasa, suku, budaya, dan pemikiran yang berbeda dapat hidup sebagai satu umat. Sebab persatuan yang sejati bukan lahir karena semua orang selalu sepakat. Melainkan karena mereka memiliki satu tujuan, satu pedoman, dan satu ikatan yang tidak pernah berubah, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ketika keduanya benar-benar dijadikan pegangan, perbedaan menjadi rahmat, persaudaraan tetap terjaga, dan umat memiliki kekuatan untuk membangun peradaban yang diridhai Allah hingga akhir zaman. Dan persatuan umat ini tidak mengenal batas antarnegara, walau beda kultur, budaya, dan teritori hasil memisahkan diri membentuk yang bernama country and nation, kita tetap bersaudara. Walau kita dipisahkan karena beda pulau, beda benua! Kita satu Kitabullah, itulah Al-Qur'an!