Anjuran Nabi Muhammad tentang Berjalan Kaki vs Realitas Warga Indonesia Hari Ini ๐ถโ๏ธ๐ฎ๐ฉ
Apa Pesan Sang Nabi Tentang Berjalan Kaki? ๐
Ada sebuah pesan yang sangat indah dan sederhana dari Nabi Muhammad yang sering sekali dikutip dalam berbagai kajian. Beliau bersabda:
โSetiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.โ (HR. Muslim no. 2382).

Pesan ini sebenarnya bukan sekadar ritual ibadah vertikal belaka, tetapi juga membentuk sebuah etos sosial yang mendalam, bahwa bergerak aktif, berjalan kaki, dan mendekati simpul-simpul kebaikan adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri. Agama secara tersirat menyuruh umatnya untuk aktif bergerak.
Namun, ketika kita membuka mata dan melihat realitas di jalanan Indonesia hari ini, muncul sebuah kontras yang tajam dan sulit untuk diabaikan begitu saja.
Bagaimana Realitasnya di Indonesia Hari Ini? ๐
Secara data dan statistik global, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Logikanya, anjuran-anjuran sunnah seperti berjalan kaki ke masjid atau tempat baik lainnya harusnya sangat membudaya, kan? Sayangnya, kenyataannya berbanding terbalik.
Rata-rata langkah harian masyarakat Indonesia itu berada di kisaran super santai, yakni cuma sekitar ยฑ3.500 langkah per hari. Angka ini tertinggal jauh di bawah rata-rata langkah global yang menembus 5.000 langkah. Dalam pemetaan lintas negara, Indonesia bahkan sering nangkring di kelompok paling bawah dengan aktivitas jalan kaki terendah.
Fakta ironis ini terpotret jelas dan konsisten sejak studi mobilitas berbasis aplikasi smartphone secara global yang dipublikasikan oleh jurnal bergengsi Nature pada tahun 2017 silam. Dan tebak? Sampai beberapa tahun terakhir di 2026 ini, angkanya belum juga menunjukkan lonjakan kenaikan yang signifikan.
Mengapa Kontras Ini Bisa Terjadi? ๐ง
Kontras yang menganga ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa masyarakat di negara kita ini justru tidak mencerminkan anjuran berjalan kaki tersebut? Jawabannya tentu tidak bisa disederhanakan dengan celetukan โah, orang kita emang kurang mengamalkan ajaran agamaโ. Sama sekali bukan itu. Akar masalahnya jauh lebih struktural dan sistemik.
1. Lingkungan Fisik Tidak Mendukung
Banyak banget kota di Indonesia yang perwajahan kotanya belum ramah pejalan kaki. Trotoarnya sempit, tidak rata, penuh lubang galian yang tidak ditutup lagi, terputus tiang listrik, atau yang paling klasik: beralih fungsi jadi lahan parkir dan lapak pecel lele. Tanpa adanya rasa aman dan nyaman, berjalan kaki menjadi opsi yang sama sekali tidak rasional bagi warga kota.
2. Ketergantungan Tinggi pada Kendaraan Bermotor
Kita harus akui, Indonesia adalah salah satu surga pengguna sepeda motor terbesar di dunia. Pergi ke warung depan gang atau minimarket yang jaraknya cuma 50 meter aja, pantang kalau tidak nyalain mesin motor. Dalam konteks budaya instan ini, rutinitas berjalan kaki jelas kalah telak oleh efisiensi tenaga yang ditawarkan tuas gas motor.
3. Desain Tata Kota yang Menyebar (Urban Sprawl)
Permukiman warga, area perkantoran, tempat ibadah, pasar, dan fasilitas publik di negara kita sering kali dibangun secara menyebar dan tidak terintegrasi dalam satu radius padat (transit-oriented). Kondisi ini sangat berbeda dengan kota super padat kayak Hong Kong atau Tokyo, yang secara alami mendesain lingkungannya untuk "memaksa" warganya terbiasa jalan kaki dari stasiun kereta ke tempat kerja.
4. Faktor Iklim Tropis yang Ekstrem
Matahari yang terik, udara yang panas, dan tingkat kelembapan yang bikin gampang gerah, suka tidak suka, ikut memengaruhi preferensi mobilitas kita. tidak ada orang kantoran yang mau sampai meja kerja dalam keadaan basah kuyup keringetan. Meski begitu, iklim ini sebenarnya bukan alasan utama yang valid seandainya infrastruktur peneduh seperti kanopi trotoar atau pohon rindang di pinggir jalan sudah mendukung.
Artinya, jarak yang memisahkan antara nilai ajaran dan praktik di lapangan itu bukan karena doktrin ajarannya yang lemah. Melainkan karena ekosistem di sekeliling kita yang sama sekali tidak mendukung perilaku tersebut tumbuh. Ajaran agama terus mendorong dari belakang, tetapi lingkunganlah yang pada akhirnya menentukan apakah dorongan tersebut mudah diwujudkan atau justru sangat sulit dilakukan.
Bagaimana Tanda Perubahan ke Depannya? ๐
Meski realitanya membuat ngelus dada, ada setitik tanda perubahan positif. Belakangan ini, beberapa pemerintah kota mulai serius merevitalisasi dan membangun trotoar yang jauh lebih humanis, getol mengadakan kampanye jalan kaki bareng, serta mendorong gaya hidup aktif warganya. Kesadaran personal bahwa kurang gerak berdampak buruk pada kesehatan (seperti rentan obesitas dan diabetes) juga mulai merangkak naik.
Di sinilah letak titik temunya kawan-kawan: ๐ Anjuran berjalan kaki dalam literatur Islam itu sebenarnya sangat relate dan sejalan dengan kebutuhan gaya hidup modern, yakni hemat energi, menyehatkan jantung, dan sangat ramah lingkungan.
Jika nilai luhur ini berhasil dipertemukan dengan kebijakan tata kota yang tepat guna, maka berjalan kaki tidak lagi sekadar anjuran spiritual yang berhenti di mimbar khutbah, tetapi bakal menjelma menjadi budaya sosial yang hidup berdenyut setiap hari.
Kesimpulannya, persoalan orang kita malas jalan kaki ini bukanlah ironi teologis, melainkan tantangan tata ruang praktis. Indonesia sama sekali tidak kekurangan dalil dan ajaran tentang pentingnya berjalan kaki, yang kita butuhkan sekarang adalah menjadikannya sebagai kegiatan yang mudah, aman, teduh, dan masuk akal untuk dilakukan oleh semua orang setiap hari.