Apakah Semua Akan Muhammadiyah Pada Waktunya? Mengulik Sejarah Pembaruan Islam

Fakhrul Rijal - Penikmat Sejarah & Analisis Sosial - diketik untuk Layar Kosong

Datang Bawa Akal Sehat, Bikin Orang Gak Nyaman

Pernah dengar candaan, "Muhammadiyah itu sering ditolak bukan karena salah, tapi karena terlalu cepat"? Kalau kita bedah sejarahnya, kalimat ini valid sekali. Berdiri pada tahun 1912 di Kauman, Yogyakarta (Where & When), KH Ahmad Dahlan (Who) membawa ormas ini lahir dengan dua senjata utama: kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah, serta menggunakan akal sehat (What & How).

Masalahnya, penggunaan akal sehat secara kritis di tengah masyarakat yang masih kental dengan tradisi sinkretisme jelas bikin banyak orang tidak nyaman (Why). Tapi anehnya, apa yang dulu ditentang wafat-matian, perlahan malah jadi standar umat Islam di Indonesia saat ini. Mari kita buktikan satu per satu.

Ilustrasi Sejarah dan Pembaruan Muhammadiyah

Era 1920-1930an: Menggugat Arah Kiblat

Zaman dulu, umat Islam di Nusantara kalau salat arah kiblatnya simpel saja: "pokoknya menghadap ke barat". Tidak ada yang protes, semua jalan damai.

Lalu Muhammadiyah datang dan bilang, "Kiblat itu bukan kira-kira. Harus dihitung secara presisi!" Mereka mulai menggunakan ilmu falak, menghitung sudut, dan mencocokkan dengan posisi matahari. Reaksi masyarakat saat itu? Tentu saja marah. Muhammadiyah dituduh meragukan ulama-ulama terdahulu dan dianggap sok pintar.

Sekarang? Coba lihat sekeliling kita. Semua orang buka aplikasi pencari kiblat di smartphone. Panitia pembangunan masjid berpotensi memanggil ahli ukur untuk menentukan arah presisi pakai kompas atau GPS. Yang dulu ditolak, sekarang jadi standar wajib.

Salat Id di Lapangan Terbuka

Dulu, salat Idul Fitri maupun Idul Adha selalu difokuskan di dalam masjid agung. Tiba-tiba Muhammadiyah mempopulerkan, "Salat Id itu sebaiknya di lapangan. Itu sunnah Nabi, biar syiarnya terlihat luas."

Awalnya, gagasan ini dianggap aneh bin ajaib. Kesannya kurang sakral kalau salat di atas rumput atau aspal. Tapi sekarang? Kalau Lebaran tiba, lapangan sepak bola penuh, stadion penuh, bahkan jalan raya ditutup demi menampung jamaah. Yang dulu dianggap asing, sekarang jadi tradisi nasional yang dinanti-nanti.

Gesekan Budaya: Ucapan Lebaran

Ini yang paling sering kita temui. Dulu, masyarakat kita terbiasa mengucapkan "Minal aidin wal faizin" saat bersalaman di hari raya. Kedengarannya memang Islami sekali. Tapi secara kajian, kalimat itu bukan hadis, bukan doa yang lengkap, dan sering kali cuma jadi slogan tempelan tanpa makna mendalam.

Muhammadiyah kemudian mendorong umat untuk kembali ke tradisi sahabat Nabi dengan ucapan: "Taqabbalallahu minna wa minkum" (Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua). Dulu? Terasa kaku dan kurang merakyat. Sekarang? Buka saja grup WhatsApp keluarga, teks khutbah, sampai caption Instagram para influencer—semua pakai kalimat itu. Paham kan polanya?

Pendidikan Modern: Meja dan Kursi Dituduh "Bid'ah"

Memasuki awal abad ke-20, pendidikan Islam identik dengan pesantren tradisional: duduk bersila (lesehan), ngaji kitab kuning, dan fokus pada ilmu agama saja.

Lalu Muhammadiyah mendirikan sekolah model baru. Kelasnya pakai bangku, pakai papan tulis, dan muridnya diajari matematika serta sains ala Barat (Belanda), bukan cuma disuruh ngaji. Wah, gegerlah masyarakat! Muhammadiyah langsung diserang:

Fast forward ke masa kini: Adakah sekolah atau madrasah Islam modern di Indonesia yang hari ini muridnya tidak pakai meja dan kursi? Adakah madrasah yang menolak kurikulum sains dan matematika? Tidak ada. Yang dulu dianggap warisan penjajah, sekarang jadi standar penting pendidikan umat.

Zakat: Dari Setoran Personal ke Sistem Profesional

Dulu, bayar zakat itu sifatnya sangat personal. Umat langsung menyerahkan gabah atau uang ke kyai atau tokoh agama setempat. Tidak ada pencatatan terstruktur, apalagi program pemberdayaan jangka panjang.

Muhammadiyah kemudian membuat gebrakan dengan membentuk lembaga amil zakat. Sistemnya dibuat transparan, diaudit, dan dananya disalurkan untuk program sosial ekonomi. Tentu saja, awal mulanya dikritik: "Ibadah kok dibikin birokrasi? Terlalu administratif!"

Lihatlah hari ini. Kita punya LAZISMU, BAZNAS, dan puluhan lembaga amil zakat profesional lainnya. Sistem tata kelola yang dulu dicibir justru kini menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi umat Islam Indonesia.

1923: PKO dan Agama yang Turun ke Jalan

Terinspirasi dari kajian mendalam Surah Al-Ma'un, Muhammadiyah menyadari bahwa orang yang salat bisa celaka kalau dia cuek terhadap anak yatim dan orang miskin. Tahun 1923, mereka mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).

Mereka membangun panti asuhan, klinik, dan rumah sakit. Reaksinya? Lagi-lagi sinis. "Ini meniru gaya Belanda!" atau "Ulama kok kerjaannya ngurusin rumah sakit dan panti?"

Hari ini, konsep dakwah bil hal (dengan perbuatan) sudah jadi hal lumrah. Ormas Islam mana pun kini sadar bahwa dakwah tanpa santunan sosial, rumah sakit, dan panti asuhan akan terasa kosong dan kurang bermakna.

Khutbah Jumat Pakai Bahasa Indonesia

Pernah membayangkan khutbah Jumat full bahasa Arab dari awal sampai akhir? Begitulah kondisinya di masa lalu. Jamaah cuma duduk, manggut-manggut (atau ngantuk), tanpa paham apa isi pesannya.

Muhammadiyah maju dengan gagasan radikal: "Agama itu harus dimengerti, bukan sekadar didengar." Khutbah mulai dibawakan dengan pengantar bahasa lokal atau bahasa Indonesia. Tuduhan pun melayang: "Khutbahnya tidak sah!" atau "Mengurangi kesakralan ibadah!"

Bisa ditebak kelanjutannya. Hampir seluruh masjid di Indonesia hari ini menggunakan bahasa Indonesia untuk khutbahnya agar komunikatif dan pesannya sampai ke jamaah.

Tantangan Terkini: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Sejarah ternyata berulang. Hari ini, Muhammadiyah kembali bikin "masalah baru" dengan menawarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Logikanya sangat sederhana dan masuk akal:

Bumi kita satu, bulan yang mengelilingi bumi juga cuma satu. Kenapa perayaan puasa dan Lebaran di dunia Islam bisa beda-beda hari?

Muhammadiyah bilang, "Satu dunia Islam, satu kalender."

Sesuai sunnatullah sejarah mereka, ide ini langsung menuai badai penolakan. "Dalilnya mana?", "tidak nyunnah karena tidak rukyat langsung!", "Melawan pemerintah!" begitulah suara-suara sumbang yang terdengar saat ini.

Kesimpulan: Menunggu Waktu Saja?

Kalau kita melihat rekam jejak historis pembaruan Islam di Indonesia, polanya selalu sama persis:

  1. Ditolak keras di awal.
  2. Dituduh aneh, sesat, atau bid'ah.
  3. Diperdebatkan bertahun-tahun secara teologis dan sosial.
  4. Mulai dipakai diam-diam karena dinilai memberi solusi.
  5. Akhirnya menjadi standar kebiasaan masyarakat luas.

Maka kemungkinan besar, gagasan Kalender Hijriah Global ini akan mengikuti nasib "kakak-kakaknya". KHGT akan mulai diterapkan dari komunitas internal, meluas ke skala regional, lalu pelan-pelan negara-negara Islam mulai ikut, hingga akhirnya terbentuk konsensus global. Kenapa? Karena di era di mana dunia sudah sangat terkoneksi secara digital, perbedaan hari raya yang mencolok antarbangsa makin terasa tidak masuk akal secara administratif maupun astronomis.

Jadi, apakah semua akan Muhammadiyah pada waktunya? Biar waktu dan akal sehat yang menjawabnya. 😄