Mengritik dan mengevaluasi kebiasaan sosial yang minim faedah bukanlah bentuk kebencian, melainkan cara paling sehat agar isi kepala kita tidak tumpul. Kalau kita perhatikan dinamika belakangan ini, situasinya makin menggelitik sekaligus ironis. Pejabat publik dengan santainya berbicara asal bunyi, wakil rakyat asyik berjoget saat masyarakat menjerit kesusahan, hingga oknum aparat yang masih mengandalkan cara-cara kasar dalam menghadapi warga.

Hal yang bikin makin geleng-geleng kepala adalah sebagian besar dari mereka hampir tidak pernah absen menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. Foto-foto mereka berpeci rapi di panggung-panggung perayaan megah bertebaran di mana-mana. Namun pertanyaannya, mengapa keberkahan dan keagungan akhlak Rasulullah SAW seperti sama sekali tidak menempel pada tindakan dan keputusan mereka sehari-hari?

Fenomena ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang sangat lebar antara formalitas keagamaan dan pembentukan karakter. Ritual berhenti menjadi sarana transformasi diri dan justru berubah menjadi ajang pencitraan musiman yang kehilangan ruh utamanya.

Ilustrasi meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari

Cinta kepada Nabi SAW dibuktikan dengan akhlak harian, bukan sebatas kemegahan seremoni tahunan.

Kemegahan Perayaan dan Ironi Realita Sosial

Peringatan Maulid Nabi SAW yang digelar saban bulan Rabiul Awwal—bahkan sering kali merembet hingga bulan-bulan berikutnya—diselenggarakan dengan sangat meriah dan menyedot anggaran besar. Ada tekanan sosial tak tertulis bahwa sebuah instansi atau komunitas dianggap kurang afdal jika tidak menggelar acara besar-besaran, hingga bela-belain keluar uang banyak demi panggung yang megah.

Padahal jika kita mau membuka catatan sejarah secara jujur, para sahabat Nabi SAW yang paling mencintai beliau tidak pernah menyelenggarakan ritual tahunan semacam itu setelah Rasulullah SAW wafat. Mengapa? Karena seluruh hidup para sahabat sudah dipenuhi dengan peneladanan akhlak Nabi SAW setiap detik, tanpa perlu menunggu satu hari khusus di kalender untuk mengingatnya.

Konteks sejarah dan dampak ekonomi seremoni

Generasi awal umat Islam memfokuskan seluruh energi mereka untuk menjaga ajaran, keadilan sosial, dan integritas moral yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Pergeseran ke arah perayaan seremoni fisik baru berkembang di masa-masa belakangan.

Meskipun niat awalnya mulia untuk mengenang sejarah, masalah timbul ketika aspek seremoni menelan biaya besar dan menyita waktu, sementara esensi ajaran beliau seperti kejujuran, kepedulian pada kaum lemah, dan keadilan sosial justru terabaikan.

Jika perayaan besar tersebut hanya berakhir sebagai formalitas rutin tanpa membawa perbaikan karakter atau dampak sosial nyata bagi masyarakat sekitar, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: untuk apa semua keriuhan itu dipertahankan?

Cinta yang Tak Mengenal Batas Kalender

Rasa cinta yang sejati kepada Nabi Muhammad SAW tidak boleh dikerdilkan dan dibatasi oleh hitungan bulan. Menunjukkan kecintaan kepada beliau harus hadir saban hari, dalam setiap desah napas dan interaksi sosial kita dengan sesama manusia.

Kita tidak perlu bersikap muluk-muluk dengan langsung menggebu-gebu memikirkan hal-hal besar yang di luar jangkauan. Mulailah dari hal-hal yang paling sepele dan dekat dengan ruang hidup kita, misalnya disiplin membuang sampah pada tempatnya. Jargon "kebersihan adalah sebagian dari iman" sudah khatam dihafalkan sejak Sekolah Dasar, tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang tanpa merasa bersalah melempar sampah sembarangan ke jalanan—bahkan tidak jarang dari balik kaca mobil mewah!

Perilaku buang sampah sembarangan dari mobil mewah ini adalah alegori sempurna dari kepalsuan. Mobilnya mengkilap, status sosialnya tinggi, mungkin baru saja pulang dari majelis ta'lim atau perayaan agama, tetapi empati kepedulian terhadap lingkungan dan kenyataan orang lain nol besar. Di sinilah letak kehampaan dari slogan keagamaan yang tidak meresap ke dalam jiwa.

Mengembalikan Esensi: Menjadikan Nabi SAW Role Model Nyata

Sudah saatnya kita semua tersadar dari tidur panjang kepalsuan seremoni. Cara paling benar dan mulia dalam merayakan kehadiran Rasulullah SAW adalah dengan mempelajari sejarah hidup beliau (seerah nabawiyah) secara mendalam, lalu mempraktikkan petunjuk tersebut dalam tindakan nyata sehari-hari.

Kita bisa memulai komitmen sederhana, misalnya dengan meluangkan waktu minimal seminggu sekali untuk membaca dan merenungkan kisah perjalanan hidup serta akhlak beliau. Jadikan sosok Rasulullah SAW sebagai pembimbing utama saat kita bekerja, memimpin, bertetangga, hingga saat mengelola fasilitas publik.

Mari jadikan perayaan Maulid bukan sekadar hura-hura tahunan yang ramai saat acara berlangsung lalu lenyap tanpa bekas ketika tenda dibongkar. Buktikan bahwa kita benar-benar mencintai Nabi SAW dengan menjadi pribadi yang jujur, santun, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi lingkungan tempat kita berpijak—saban hari, tanpa henti.