Demokrasi Dipertahankan, Syariat Dicurigai: Ada Apa dengan Umat Ini?

Berpikir Dengan Iman 27 Mei 2026 Referensi: Kajian Opini Keagamaan & Sosial

Siapa yang tidak merasa aneh dengan fenomena hari ini? Mengapa kita begitu berani dan lantang membela demokrasi, tapi mendadak gemetar dan mencari seribu alasan ketika syariat disebut? Mari kita sejenak mengambil jeda untuk memikirkan arah cara pandang kita sebagai umat.

Ilustrasi konseptual mempertanyakan arah pandang umat dalam memilih sistem kehidupan
Sebuah renungan untuk kita: mengapa sistem buatan manusia lebih dielu-elukan?

Akar Paradoks: Mengapa Sistem Gagal Terus Dibela?

Apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan? Sadar atau tidak, sering kali kita melihat fenomena di mana sistem buatan manusia yang dinilai rapuh—yang secara jelas melahirkan praktik korupsi, memperlebar jurang kemiskinan, menyuburkan riba, dan memfasilitasi penindasan—tetap dipertahankan seolah ia adalah naskah suci yang tak boleh direvisi.

Sementara itu, sangat ironis ketika hukum Allah, yang datang dari Zat Yang Maha Adil, justru dituduh berbahaya atau usang. Ada apa dengan hati umat ini? Mengapa kita sampai di titik ini?

"Kita rela hidup susah demi ilusi 'stabilitas', rela dizalimi demi dalih 'toleransi', dan rela diinjak asal tidak dicap ekstrem oleh mereka yang bahkan tidak peduli pada iman kita."

Dan yang paling fatal dari fenomena ini adalah: kita perlahan merelakan diri dan keluarga menjadi jauh dari kebenaran (kufur) lantaran terlalu meyakini dan bersandar penuh pada sistem demokrasi sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Proses Penjajahan Mental (Bagaimana Ini Terjadi)

Pernahkah Anda memperhatikan, ketika Islam berbicara tentang aturan hidup yang paripurna (mulai dari ekonomi, sosial, hingga hukum), reaksi sebagian umat justru tidak terduga?

  • Gugup.
  • Perlahan mundur.
  • Takut.
  • Umat langsung panik.

Mengapa ini terjadi? Bukan karena syariatnya yang salah atau tidak relevan, tetapi karena jiwa kita telah dijajah. Penjajahan di abad ini, di mana pun Anda berada—baik di dunia nyata maupun di media sosial—tidak lagi menggunakan desingan peluru atau laras senjata. Penjajahan hari ini beroperasi lewat rasa takut.

Rasa takut tersebut ditanamkan secara sistematis ke dalam benak masyarakat:

  • Takut dicemooh oleh lingkungan atau media.
  • Takut dikucilkan dari pergaulan sosial dan profesional.
  • Takut kehilangan kenyamanan palsu yang selama ini dinikmati.

Lambat laun, umat diajari untuk merasa malu dengan agamanya sendiri. Kita diajar untuk mencurigai hukum Rabb yang menciptakan alam semesta, sambil di saat yang sama diminta memuja hukum manusia yang nyata-nyata penuh celah dan rusak. Ini bukan sekadar kebodohan literasi; ini adalah ketidakkonsistenan terhadap amanah sunyi terhadap iman.

Kapan Kemuliaan Itu Datang?

Selama kita lebih percaya pada janji demokrasi daripada kebenaran wahyu, dan lebih takut pada label buruk dari manusia daripada murka Allah, jangan pernah bertanya kapan atau mengapa kehinaan seolah terus menempel pada umat ini.

Allah tidak pernah menjanjikan kemuliaan bagi umat yang ragu pada hukum-Nya. Dan umat yang terus menunda ketaatan, akan terus hidup di bawah bayang-bayang pendudukan atau dominasi politik—meski di atas kertas mereka selalu berteriak mengaku telah merdeka.

Seruan Kebangkitan

Jika hukum buatan manusia terus dibela dengan darah dan air mata, sementara hukum Allah terus dicurigai, maka kehinaan yang kita rasakan hari ini bukanlah sebuah musibah yang jatuh dari langit—itu adalah akibat dari pilihan kita sendiri.

Umat ini sama sekali tidak kekurangan dalil, buku, maupun cendekiawan. Yang kurang dari kita saat ini adalah keberanian untuk jujur pada iman sendiri.

Langkah Kita Selanjutnya

Bangkitlah. Lakukan sekarang sebelum kita terbiasa hidup tanpa kemuliaan. Bangkitlah sebelum generasi penerus kita hanya mewarisi ketakutan tak beralasan yang kita pelihara hari ini.

Jangan sekadar diam. Jangan hanya mencukupkan diri dengan kalimat "Saya setuju dalam hati."

Sebarkanlah tulisan, pemahaman, dan kesadaran ini jika masih ada iman di dada. Karena sejarah selalu membuktikan: kebenaran yang disembunyikan dalam bisu, akan selalu kalah oleh kebatilan yang disuarakan secara lantang.