Filantropi berasal dari bahasa Yunani philein (mencintai) dan anthropos (manusia). Ia menandai sikap batin dan tindakan nyata untuk merawat sesama manusia. Rasa mencintai dan membenci sejatinya setua usia manusia itu sendiri. Keduanya hadir sebagai potensi dasar. Namun, rasa mencintai—yang bermuara dari ruh dan fitrah—menjadi sumber nilai luhur yang mendorong manusia untuk mengasihi dan menolong sesamanya.
Tolong-menolong adalah perwujudan konkret nilai-nilai kemanusiaan. Kitab suci mendorong manusia untuk saling menyayangi dan membantu demi memelihara martabat kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup berkelompok dan merajut solidaritas berdasarkan ikatan sedarah, sesuku, sebangsa, seiman, bahkan dalam pergaulan internasional lintas batas.
Spirit Al-Ma'un dan Kelahiran Gerakan
Muhammadiyah hadir sebagai bagian dari pergaulan sosial tersebut. Ia tumbuh dan berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat. Salah satu latar kelahirannya adalah kesadaran akan kondisi sosiologis bersama sebagai masyarakat yang mengalami pembatasan kedaulatan oleh faksi luar. Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya tolong-menolong sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an. Surat Al-Ma’un menjadi spirit utama Muhammadiyah dalam mendorong warganya memperhatikan fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang terlantar.
Sejak kelahirannya pada tahun 1912 di Yogyakarta, Muhammadiyah meneguhkan diri sebagai gerakan filantropi. Dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dikelola secara profesional. Selama lebih dari 113 tahun, wujud nyata ini terlihat melalui ribuan sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Dari PKO Hingga Pengakuan Global WHO
Penguatan misi kemanusiaan ini ditandai dengan pendirian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang kemudian berevolusi menjadi PKU Muhammadiyah. Tak berhenti di situ, Muhammadiyah mendirikan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) untuk penanganan kebencanaan secara spesifik.
Kiprah profesional ini membuahkan hasil luar biasa: sertifikasi Emergency Medical Team (EMT) dari World Health Organization (WHO). Ini bukan sekadar kertas, tapi pengakuan dunia bahwa organisasi dakwah ini kompeten dalam merespons penderitaan kemanusiaan di level internasional.
Bencana Ekologis dan Tanggung Jawab Sosial
Dalam konteks banjir di Sumatera, Muhammadiyah melihatnya sebagai bencana ekologis—akibat dari pendekatan pembangunan yang kurang terencana dan pembukaan lahan. Di sini, Muhammadiyah tidak hanya memberikan bantuan logistik, tapi juga menyuarakan keadilan bagi masyarakat kecil yang sering kali menjadi korban pertama dari kerusakan lingkungan.
Solidaritas ini digerakkan secara masif. Bayangkan, sekitar 20.000 masjid Muhammadiyah bergerak serentak menggalang donasi. Relawan dari Jawa Timur, Banten, hingga DIY meluncur ke Sumatera dalam satu komando kemanusiaan. Inilah kekuatan filantropi raksasa yang menolong tanpa memandang latar belakang; siapa pun yang terluka, mereka adalah saudara yang wajib dijaga martabatnya.