Ada cerita tentang bangunan tua yang menarik bukan hanya karena usianya, tetapi karena perubahan fungsi yang terjadi di dalamnya. Salah satunya berada di Utica, New York, Amerika Serikat: sebuah bangunan yang dahulu digunakan sebagai gereja, kemudian nyaris hilang karena kondisi yang semakin buruk, sebelum akhirnya diselamatkan dan menjadi rumah ibadah umat Islam.
Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah harga transaksinya. Pada 2008, bangunan tersebut disebut dijual oleh pemerintah kota kepada Asosiasi Islam Bosnia dengan harga simbolis $1, dengan tanggung jawab untuk memulihkan bangunan tanpa menghapus karakter sejarahnya.
Jadi, ini bukan sekadar cerita tentang membeli bangunan murah. Di balik angka satu dolar itu ada pekerjaan restorasi, pengumpulan dana, tenaga sukarela, identitas komunitas, serta upaya mempertahankan sebuah warisan arsitektur yang sebelumnya terancam hilang.

Dari Gereja Metodis ke Bangunan yang Hampir Hilang
Bangunan megah tersebut didirikan pada 1869 dan pada awalnya dikenal sebagai Gereja Metodis Bersatu Pusat di Utica. Selama puluhan tahun, gedung itu menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
Namun, usia panjang juga membawa persoalan. Setelah sekitar 139 tahun melayani jemaat, bangunan itu mengalami masa sulit: kegiatan di dalamnya berhenti, kondisi bangunan memburuk, dan pemeliharaan yang dibutuhkan semakin besar.
Pada titik tertentu, bangunan bersejarah tersebut bahkan berada dalam situasi ketika pembongkaran menjadi salah satu kemungkinan. Jika itu terjadi, bukan hanya sebuah tempat ibadah yang hilang, tetapi juga salah satu bagian dari lanskap sejarah kota.
Satu Dolar yang Mengubah Masa Depan Bangunan
Pada 2008, pemerintah kota Utica menjual bangunan tersebut kepada Asosiasi Islam Bosnia dengan harga simbolis $1. Harga itu tentu tidak menggambarkan nilai sebenarnya dari bangunan, karena pembeli juga menerima tanggung jawab besar untuk menghidupkannya kembali.
Syarat pentingnya adalah bangunan harus dipulihkan tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat padanya. Dengan demikian, transaksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai perpindahan tanggung jawab pelestarian daripada sekadar pembelian properti murah.
Angka $1 bukan berarti biaya keseluruhannya hanya satu dolar. Nilai simbolis tersebut adalah harga perolehan bangunan. Biaya nyata justru muncul setelahnya melalui proses restorasi, perbaikan struktur, pekerjaan atap, penyesuaian ruang, dan berbagai kebutuhan komunitas.
Komunitas Muslim Bosnia Turun Tangan
Bangunan itu kemudian dipulihkan melalui kerja komunitas Muslim asal Bosnia. Dana dan tenaga dikumpulkan bersama-sama untuk mengerjakan bagian-bagian bangunan yang membutuhkan perhatian.
Atap diperbaiki, struktur bangunan diperkuat, dan sejumlah unsur visual keagamaan disesuaikan dengan fungsi barunya. Proses tersebut memperlihatkan bahwa mempertahankan bangunan lama tidak cukup hanya dengan mempertahankan dindingnya; sebuah bangunan juga harus kembali memiliki kehidupan.
Arsitektur Lama Tidak Harus Hilang
Salah satu hal menarik dari transformasi tersebut adalah keberadaan jejak arsitektur lama yang tetap menjadi bagian dari bangunan. Struktur utama tidak begitu saja dihapus dan digantikan dengan bangunan baru.
Pada saat yang sama, identitas tempat ibadah disesuaikan. Salib diturunkan dan simbol bulan sabit digunakan sebagai bagian dari identitas baru, sementara ruangnya difungsikan sebagai tempat ibadah yang menghadap arah kiblat.
Detail proses perubahan bangunan
Perubahan fungsi bangunan bersejarah membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan penggunaan baru dan karakter arsitektur yang sudah ada. Dalam kisah Utica ini, pekerjaan mencakup perbaikan bagian bangunan yang rusak, penguatan struktur, perbaikan atap, serta penyesuaian unsur visual dan fungsi keagamaan.
Pendekatan seperti ini membuat bangunan tidak harus kehilangan seluruh identitas masa lalunya ketika memasuki babak baru. Sejarah bangunan tetap menjadi bagian dari cerita, sementara komunitas baru memberikan fungsi dan kehidupan yang berbeda.
Masjid yang Bukan Sekadar Tempat Salat
Setelah dipulihkan, bangunan tersebut dikenal sebagai Pusat Islam Bosnia. Fungsinya tidak berhenti pada kegiatan ibadah harian.
Tempat ini juga menjadi ruang pendidikan, kegiatan sosial, dan pertemuan masyarakat. Artinya, bangunan yang sebelumnya terancam kosong dan rusak kembali mempunyai peran sosial di tengah lingkungan sekitarnya.
Di sinilah nilai restorasi menjadi lebih mudah dipahami. Sebuah bangunan tua dapat dipertahankan bukan hanya karena bentuk fisiknya indah, tetapi karena bangunan tersebut kembali digunakan dan memberi manfaat kepada manusia.
Pelajaran dari Sebuah Bangunan Tua di Utica
Kisah ini menunjukkan bahwa pelestarian warisan tidak selalu berlangsung melalui satu lembaga atau satu proyek besar. Dalam kasus tersebut, komunitas menjadi bagian penting dari proses penyelamatan bangunan.
Harga pembelian memang terdengar spektakuler, tetapi bagian paling berat justru datang sesudah transaksi. Merawat bangunan berusia lebih dari satu abad membutuhkan sumber daya, kesabaran, keterampilan, dan kemauan untuk bekerja dalam jangka panjang.
Ada pula pelajaran lain yang tidak kalah menarik: perubahan fungsi tidak selalu berarti penghapusan sejarah. Gereja yang pernah berdiri di sana tetap menjadi bagian dari perjalanan bangunan tersebut, sementara masjid menjadi babak baru dalam kehidupannya.
Warisan Lama, Kehidupan Baru
Pada akhirnya, kisah bangunan di Utica bukan semata-mata tentang gereja yang berubah menjadi masjid. Ini adalah cerita tentang sebuah bangunan yang sempat berada di ambang kehilangan fungsi, kemudian diselamatkan melalui kerja komunitas dan diberi kehidupan baru.
Dari bangunan yang hampir diruntuhkan menjadi pusat aktivitas masyarakat, perjalanannya memperlihatkan bahwa warisan sejarah dapat terus hidup ketika ada orang yang bersedia merawatnya. Nilai sebuah bangunan pada akhirnya bukan hanya terletak pada usia atau harga jualnya, tetapi juga pada kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Dan mungkin itulah bagian paling menyentuh dari kisah ini: $1 menjadi awal sebuah pekerjaan besar, bukan akhir dari sebuah transaksi. 🤲
Sumber: The New York Times • New York Upstate • Utica Observer-Dispatch