Saat Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah, Siapa yang Menguasai Dunia dan Apa yang Terjadi di Nusantara?

📅 622 Masehi · 🌍 Sejarah Global & Nusantara

Tahun 622 Masehi. Di tengah padang pasir Jazirah Arab, seorang pria bernama Muhammad bin Abdullah memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya, Makkah, menuju sebuah kota di utara bernama Yatsrib—yang kelak akan dikenal sebagai Madinah. Peristiwa yang kemudian disebut sebagai Hijrah ini bukan sekadar perpindahan fisik. Ia menjadi titik balik yang mengubah sejarah dunia, menandai lahirnya masyarakat Islam pertama sekaligus awal penanggalan Hijriah.

Namun, saat komunitas kecil umat Islam ini mulai membangun peradaban baru di Madinah, dunia di luar sana sudah lebih dulu diramaikan oleh kerajaan-kerajaan besar yang saling bertarung, berdagang, dan berbagi pengetahuan. Lantas, siapa sebenarnya penguasa dunia pada masa itu? Dan bagaimana dengan wilayah yang kini kita sebut Nusantara? Apakah nenek moyang kita hanya menjadi penonton, atau justru sudah menjadi bagian dari drama sejarah global?

Peta dunia abad ke-7 dengan ilustrasi kerajaan Bizantium, Persia, Tang, Aksum, Harsha, Maya, dan Nusantara
Peta dunia abad ke-7: enam peradaban besar dan Nusantara di tengah jaringan perdagangan global.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyusuri peta dunia abad ke-7. Saat itu, setidaknya ada enam kekuatan besar yang mendominasi berbagai kawasan: dari Eropa Timur hingga Asia Timur, dari Afrika Timur hingga Amerika Tengah. Masing-masing memiliki keunikan, kelebihan, dan tantangan yang membentuk jalannya sejarah.

Kekaisaran Bizantium — Pewaris Romawi yang Masih Perkasa

Di ujung barat dunia yang dikenal orang Arab saat itu, Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur berdiri kokoh. Beribu kota di Konstantinopel—kota yang kini bernama Istanbul—kekaisaran ini adalah penerus langsung Kekaisaran Romawi yang telah runtuh di barat pada abad ke-5. Pada tahun 622 M, Bizantium dipimpin oleh Kaisar Heraclius, seorang penguasa yang naik takhta pada 610 M dan dikenal sebagai salah satu kaisar paling energik dalam sejarah Bizantium.

Wilayah kekaisaran membentang dari Anatolia (Turki modern) hingga Suriah, Palestina, dan Mesir. Ini adalah wilayah yang kaya akan hasil pertanian, pusat perdagangan, dan memiliki nilai strategis yang luar biasa. Konstantinopel sendiri adalah kota berbenteng yang hampir mustahil ditembus, dengan Tembok Theodosius yang megah dan jaringan pasokan laut yang andal.

Kekuatan Militer dan Spiritual

Pasukan Bizantium terkenal dengan disiplin dan perlengkapannya yang mumpuni. Mereka mewarisi taktik perang Romawi yang telah teruji selama berabad-abad, termasuk penggunaan formasi testudo (tortoise) dan pasukan kavaleri cataphract yang mengenakan zirah lengkap. Selain itu, pengaruh agama Kristen sangat kuat—Kekaisaran Bizantium adalah pusat Kekristenan Ortodoks, dan Kaisar sering kali memegang peran ganda sebagai pemimpin politik dan spiritual, yang dalam tradisi Bizantium disebut caesaropapism.

Perang Melawan Persia

Namun, di balik kejayaannya, Bizantium sedang kelelahan. Sejak awal abad ke-7, mereka terlibat dalam perang panjang melawan musuh bebuyutannya, Kekaisaran Persia Sasaniyah. Konflik yang berlangsung selama lebih dari dua dekade ini menguras sumber daya kedua belah pihak. Pasukan Persia bahkan pernah merebut Yerusalem pada tahun 614 dan membawa pulang Salib Sejati—relik suci yang sangat dihormati umat Kristen. Meskipun Heraclius akhirnya meraih kemenangan besar pada tahun 628 dan mengembalikan salib tersebut, perang ini melemahkan kedua kekaisaran dan membuka jalan bagi ekspansi Islam di kemudian hari.

⚔️ Perang Bizantium-Persia menjadi salah satu konflik terbesar di dunia kuno, dan kelelahan kedua belah pihak menjadi salah satu faktor kunci yang memudahkan penaklukan Islam pada pertengahan abad ke-7.

Persia Sasaniyah — Rival Abadi Bizantium

Di sisi timur Bizantium, berdirilah Kekaisaran Persia Sasaniyah, yang wilayahnya meliputi Iran dan Irak saat ini. Di bawah kepemimpinan Khosrow II—yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Kisra—Persia mencapai puncak kejayaannya. Khosrow II adalah seorang penguasa yang ambisius, dan pada awal abad ke-7, ia berhasil memperluas wilayah kekaisaran hingga ke Mesir dan Anatolia, sebelum akhirnya dipukul mundur oleh Heraclius.

Birokrasi dan Sistem Pajak yang Maju

Sasaniyah memiliki sistem birokrasi yang sangat maju untuk zamannya. Pembagian wilayah administrasi (ostan), sistem perpajakan yang teratur, dan jaringan pos yang efisien (angarium) membuat kekaisaran ini mampu mengelola wilayah yang luas dengan efektif. Mereka juga memiliki pasukan kavaleri berat (asavaran) yang menjadi tulang punggung militer mereka, dilengkapi dengan baju zirah rantai dan tombak panjang.

Penguasa Jalur Perdagangan

Salah satu kekuatan utama Persia adalah penguasaan mereka atas jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Tengah, India, dan Mediterania. Jalur Sutra, yang membentang dari China hingga ke Barat, melewati wilayah Persia dan menjadi sumber pendapatan yang sangat besar. Rempah-rempah, sutra, mutiara, dan barang mewah lainnya mengalir melalui wilayah mereka, sementara kota-kota seperti Ctesiphon dan Nishapur menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan.

Perang Berkepanjangan dan Kehancuran

Sayangnya, seperti Bizantium, Persia juga terjebak dalam perang yang melelahkan. Konflik dengan Bizantium yang berlangsung selama bertahun-tahun menguras kas negara dan menewaskan banyak tentara. Setelah kekalahan Khosrow II pada tahun 628, Persia dilanda perang saudara dan pergolakan internal. Kondisi inilah yang nantinya memudahkan pasukan Islam untuk menaklukkan Persia dalam waktu yang relatif singkat setelah wafatnya Nabi Muhammad, dimulai dengan Pertempuran Qadisiyah pada tahun 636.

Dinasti Tang — Awal Keemasan China

Berpindah ke Asia Timur, Dinasti Tang baru saja berdiri pada tahun 618 Masehi. Didirikan oleh Kaisar Gaozu, dinasti ini masih berusia empat tahun ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Namun, dalam waktu singkat, Dinasti Tang akan menjadi salah satu dinasti paling makmur dan berpengaruh dalam sejarah China, dengan masa kejayaan yang berlangsung selama hampir tiga abad.

Chang'an, Kota Internasional

Ibu kota Chang'an—yang sekarang dikenal sebagai Xi'an—adalah kota paling kosmopolitan di dunia pada masanya. Dengan populasi lebih dari satu juta jiwa, Chang'an dihuni oleh para pedagang, biksu, dan utusan dari berbagai bangsa. Orang-orang Persia, Arab, India, bahkan Eropa memadati jalan-jalan dan pasar-pasarnya. Masjid pertama di China bahkan dibangun di Chang'an pada masa Dinasti Tang, mencerminkan keterbukaan mereka terhadap budaya asing.

Jalur Sutra dan Kemakmuran Ekonomi

Jalur Sutra menjadi urat nadi ekonomi Dinasti Tang. Melalui jalur inilah sutra, teh, dan keramik China dikirim ke barat, sementara emas, perak, kuda, dan anggur dari Asia Tengah datang ke China. Pertukaran budaya dan teknologi juga terjadi di sepanjang jalur ini—ajaran Buddha dari India menyebar luas ke China, sementara teknologi pembuatan kertas dan pencetakan mulai berkembang pesat.

Teknologi Kertas dan Pengetahuan

Salah satu kontribusi terpenting Dinasti Tang adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Meskipun kertas sudah ditemukan sejak abad ke-2 di China, pada masa Dinasti Tang teknik pembuatannya semakin disempurnakan dan produksinya menjadi lebih efisien. Setelah Pertempuran Talas pada tahun 751, teknologi ini menyebar ke dunia Islam melalui para tawanan perang, dan kemudian ke Eropa, mengubah cara manusia menyimpan dan menyebarkan pengetahuan. Tanpa kertas, peradaban Islam dan Eropa mungkin akan sangat berbeda.

Kerajaan Aksum — Penguasa Laut Merah dari Afrika

Di Afrika Timur, Kerajaan Aksum berdiri sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. Wilayahnya mencakup Ethiopia dan Eritrea saat ini, dan kerajaan ini telah ada sejak abad ke-1 Masehi. Aksum adalah kerajaan yang kaya, berkat posisinya yang strategis di dekat Laut Merah, yang menjadi jalur perdagangan utama antara dunia Mediterania, Jazirah Arab, dan India.

Kekayaan dari Perdagangan Emas dan Gading

Aksum menjadi kaya berkat perdagangan emas, gading, dan hasil pertanian dari pedalaman Afrika. Pelabuhan-pelabuhan Aksum seperti Adulis menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal dari Arab, India, dan bahkan Romawi. Mereka juga mengekspor bahan-bahan seperti kemenyan dan mur, yang sangat berharga di dunia kuno untuk keperluan keagamaan dan pengobatan.

Hubungan Istimewa dengan Islam

Aksum memiliki hubungan khusus dengan sejarah Islam. Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad mengirimkan sebagian sahabatnya ke Aksum untuk menghindari penindasan di Makkah. Raja Aksum saat itu, yang dikenal dalam tradisi Islam sebagai Najasyi (Negus), memberikan perlindungan kepada para sahabat dan menolak tekanan dari suku Quraisy untuk mengekstradisi mereka. Ini adalah salah satu contoh awal hubungan baik antara umat Islam dan kerajaan Kristen di Afrika, dan menjadi bukti bahwa Islam sejak awal menghargai toleransi dan perlindungan.

Kemunduran dan Warisan

Meskipun masih kuat pada abad ke-7, Kerajaan Aksum mulai mengalami kemunduran akibat perubahan jalur perdagangan dan meningkatnya persaingan dari kekuatan Islam yang baru muncul di Jazirah Arab. Namun, pengaruh budaya dan agama mereka tetap bertahan di Ethiopia hingga hari ini—Gereja Ortodoks Ethiopia, yang memiliki akar dari Aksum, masih menjadi salah satu tradisi Kristen tertua di dunia.

Kerajaan Harsha — Penguasa India Utara

Di anak benua India, situasi politik tidak sepenuhnya bersatu. Namun, seorang raja bernama Harsha (juga dikenal sebagai Harshavardhana) berhasil menyatukan sebagian besar India Utara pada abad ke-7. Ia naik takhta pada tahun 606 dan memerintah hingga 647, sehingga pada tahun 622 M, ia sedang berada di puncak kekuasaannya.

Pusat Perdagangan dan Pendidikan

Di bawah pemerintahan Harsha, kota-kota besar seperti Kanauj menjadi pusat perdagangan dan pendidikan. Para pedagang dari berbagai negara datang ke India untuk membeli rempah-rempah, tekstil, dan batu permata. Sementara itu, para biksu dan cendekiawan dari Asia Tengah dan China berkumpul untuk mempelajari agama Hindu dan Buddha di universitas-universitas seperti Nalanda, yang pada masa itu menjadi salah satu pusat pembelajaran terbesar di dunia.

Toleransi Agama dan Kebudayaan

Harsha sendiri adalah seorang penganut Hindu, namun ia juga menghormati agama Buddha. Ia bahkan tercatat sebagai pelindung biara-biara Buddha dan menyelenggarakan pertemuan besar bagi para biksu dari berbagai aliran. Sikap toleransi ini mencerminkan kekayaan budaya India pada masa itu, di mana berbagai agama dan filosofi hidup berdampingan dan saling mempengaruhi. Ini adalah masa keemasan kebudayaan India yang menghasilkan karya-karya sastra, seni, dan arsitektur yang luar biasa.

Hubungan dengan Dunia Luar

India menjadi jembatan penting antara dunia barat dan timur. Para pedagang dari Persia, Arab, dan China datang ke India untuk berdagang, dan budaya India menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan maritim. Pengaruh agama Hindu dan Buddha yang masuk ke Nusantara pada abad-abad sebelumnya, misalnya, adalah bagian dari jaringan pertukaran budaya yang lebih luas ini.

Peradaban Maya — Sang Ahli Astronomi dari Amerika

Jauh di seberang Samudra Atlantik, di wilayah yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan dan Amerika Tengah, berkembang peradaban Maya. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan besar di Eurasia, Maya tidak berbentuk satu negara kesatuan, melainkan terdiri dari banyak kota-negara yang saling bersaing dan berkoalisi. Namun, mereka terikat oleh bahasa, sistem kepercayaan, dan tradisi budaya yang sama.

Keunggulan dalam Astronomi dan Matematika

Meskipun tidak memiliki kekuatan militer yang besar, Maya unggul dalam bidang ilmu pengetahuan. Mereka mengembangkan sistem penulisan yang rumit (hieroglif), kalender yang sangat akurat—bahkan lebih presisi dari kalender Gregorian modern dalam beberapa aspek—dan pemahaman yang mendalam tentang astronomi. Piramida-piramida yang mereka bangun dirancang sedemikian rupa sehingga selaras dengan pergerakan matahari, bulan, dan bintang-bintang tertentu.

Arsitektur yang Mengagumkan

Candi-candi dan piramida Maya yang masih berdiri hingga kini, seperti di Chichen Itza, Tikal, dan Palenque, menjadi bukti kehebatan arsitektur mereka. Batu-batu besar dipahat dan disusun tanpa menggunakan logam atau roda—sebuah pencapaian yang masih membingungkan para arkeolog hingga saat ini. Kota-kota Maya juga memiliki sistem pengelolaan air yang canggih, termasuk waduk dan saluran air, yang memungkinkan mereka bertahan di daerah yang sering mengalami kekeringan.

Kehidupan Sosial dan Agama

Masyarakat Maya memiliki sistem sosial yang kompleks dengan para bangsawan, pendeta, petani, dan budak. Agama memainkan peran sentral dalam kehidupan mereka, dengan ritual dan pengorbanan yang dilakukan untuk menenangkan para dewa. Meskipun demikian, mereka juga memiliki pengetahuan medis dan pertanian yang maju—mereka mengembangkan sistem pertanian milpa (ladang berpindah) dan terasering yang memungkinkan mereka bercocok tanam di daerah berbukit.

🌽 Peradaban Maya mencapai puncaknya pada periode Klasik (250-900 M), sehingga pada tahun 622 M, mereka sedang berada di masa keemasan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Lalu, Bagaimana Kondisi Nusantara Saat Itu?

Setelah melihat enam kekuatan besar yang menguasai dunia pada abad ke-7, pertanyaan yang tak kalah menarik adalah: bagaimana dengan Nusantara? Apakah wilayah kepulauan yang kini kita sebut Indonesia hanya menjadi daerah terpencil yang terisolasi dari peradaban global? Jawabannya: sama sekali tidak. Nusantara justru sudah menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan dan kebudayaan internasional.

Kerajaan Kalingga Sudah Berdiri di Jawa

Pada abad ke-7 Masehi, di pesisir utara Jawa Tengah, Kerajaan Kalingga telah berkembang menjadi pusat perdagangan yang cukup signifikan. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Ratu Shima, seorang penguasa wanita yang dikenal sangat tegas dalam menegakkan hukum. Menurut catatan dari Tiongkok, rakyat Kalingga terkenal dengan kejujurannya—sebuah kisah populer menceritakan tentang sekantong emas yang dibiarkan di persimpangan jalan selama bertahun-tahun tanpa ada yang mengambilnya, menjadi simbol integritas masyarakat yang sangat dijunjung tinggi.

Sriwijaya Mulai Bangkit di Sumatra

Sekitar beberapa dekade setelah peristiwa Hijrah, Kerajaan Sriwijaya mulai muncul di Sumatra. Kerajaan maritim ini tumbuh menjadi kekuatan yang menguasai Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Para pedagang dari India, China, Arab, dan Persia singgah di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya untuk berdagang dan mengisi perbekalan. Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara, dan hubungan diplomatiknya dengan Dinasti Tang di China terjalin erat—beberapa utusan Sriwijaya tercatat datang ke istana Tang pada abad ke-7.

Tarumanegara Masih Eksis di Jawa Barat

Di Jawa Barat, Kerajaan Tarumanegara yang berdiri sejak abad ke-4 Masehi kemungkinan masih bertahan pada awal abad ke-7. Kerajaan ini dikenal melalui peninggalan prasasti-prasasti dari masa Raja Purnawarman, yang mencatat pembangunan saluran air dan pencapaian lainnya. Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu adalah bukti bahwa Tarumanegara memiliki sistem pemerintahan dan infrastruktur yang cukup maju.

Jaringan Dagang Nusantara Sudah Mendunia

Meskipun belum ada negara Indonesia dalam pengertian modern, para pelaut dan pedagang Nusantara sudah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional. Komoditas seperti kapur barus dari Sumatra, rempah-rempah dari Maluku (kayu manis, pala, cengkeh), serta hasil hutan dari Kalimantan sudah diperdagangkan hingga ke India dan China. Bahkan, beberapa catatan Tiongkok kuno menyebutkan adanya kedatangan utusan dari kerajaan-kerajaan di Nusantara ke istana Dinasti Tang.

Kapal dan Teknologi Maritim

Pelaut Nusantara dikenal sebagai pelaut yang handal. Mereka menggunakan kapal-kapal yang mampu mengarungi lautan lepas, dengan teknologi layar dan kemudi yang memungkinkan mereka berlayar hingga ke Madagaskar dan bahkan pantai timur Afrika. Jaringan perdagangan yang mereka bangun menjadi cikal bakal kemakmuran kerajaan-kerajaan maritim di kemudian hari, termasuk Majapahit yang akan muncul beberapa abad kemudian.

Pertukaran Budaya yang Intensif

Selain barang dagangan, pertukaran budaya juga terjadi melalui jalur laut. Pengaruh Hindu dan Buddha dari India mulai masuk ke Nusantara pada abad-abad sebelumnya, dan pada abad ke-7 ini, proses akulturasi budaya semakin intensif. Bahasa Sansekerta menjadi bahasa keagamaan dan sastra, sementara struktur sosial dan politik mulai dipengaruhi oleh konsep-konsep dari India. Namun, budaya lokal tetap kuat dan memberikan warna tersendiri pada peradaban Nusantara.

Pelajaran dari Sejarah untuk Kita Hari Ini

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai membangun masyarakat Islam di Madinah pada tahun 622 M, dunia sedang diramaikan oleh kerajaan-kerajaan besar yang saling terkait melalui perdagangan, perang, dan pertukaran pengetahuan. Dari Bizantium di barat hingga Dinasti Tang di timur, dari Aksum di selatan hingga Maya di seberang samudra, peradaban manusia sedang berada dalam masa transisi yang menarik—sebuah dunia yang saling terhubung jauh sebelum istilah "globalisasi" dikenal.

Dan di tengah semua itu, Nusantara bukanlah wilayah yang terpinggirkan. Nenek moyang kita sudah menjadi bagian dari jaringan ekonomi global, berdagang dengan bangsa-bangsa lain dan membangun peradaban yang kelak akan melahirkan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Mereka tidak menunggu kedatangan pengaruh asing secara pasif, tetapi aktif berpartisipasi dalam pertukaran budaya dan komoditas yang membentuk wajah Asia Tenggara.

Peristiwa Hijrah memang menjadi momen penting bagi umat Islam—sebuah tonggak yang menandai awal dari sebuah komunitas yang akan mengubah dunia. Namun ia terjadi dalam konteks dunia yang jauh lebih luas. Dunia yang saling terhubung, di mana setiap peradaban memberikan kontribusi bagi peradaban lainnya. Dan di sinilah letak keindahan sejarah: bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, adalah bagian dari sebuah kisah besar yang melibatkan seluruh umat manusia.

🌏 Memahami sejarah global pada masa Hijrah mengajarkan kita bahwa tidak ada peradaban yang tumbuh dalam isolasi. Kita semua adalah pewaris dari jaringan pertukaran pengetahuan, perdagangan, dan budaya yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

✍️ Tim Jaga Data Pribadi Tetap Aman·📆 Dipublikasi: 19 Juni 2026·📚 Sumber: Sejarah Dunia Abad ke-7, Ensiklopedia Nusantara Kuno.🛡️⚠️📝📚🔰⚔️