Islam Bukan Agama Prasmanan: Dengar, Tunduk, dan Taat 🤲

Oleh: Penulis Artikel | 28 November 2025

Ilustrasi berbagai hidangan makanan prasmanan

1. 🚫 Memilih-Milih Syariat Itu Bagai Makan di Prasmanan

Coba kita renungkan, Islam itu bukan seperti menu prasmanan yang dihidangkan di acara pesta. Di sana, kita bebas mengambil mana yang kita suka, mana yang terlihat enak, dan meninggalkan yang tidak sesuai selera. Dalam Islam, konsepnya jauh berbeda!

Tidak ada ruang untuk mengatakan, "Saya terima perintah shalat, tapi saya tinggalkan kewajiban menutup aurat." Atau, "Saya suka zakat karena membantu sesama, tapi saya tidak setuju dengan hukum waris." Syariat adalah satu kesatuan utuh. Kita tidak bisa memilih mana yang 'cocok' dengan hawa nafsu atau mana yang tidak mengusik ego dan perasaan kita.

Penting: Dalam masalah syariat, tidak ada tapi-tapian. Tidak ada hujjah (bantahan) yang lebih kuat dari dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis. Ketaatan kita harus didasarkan pada sumber yang sahih, bukan pada opini atau perasaan pribadi.

2. 💖 Sikap Mukmin Sejati: "Kami Dengar dan Kami Taat"

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita ketika sebuah ayat atau hadis tentang suatu kewajiban atau larangan dibacakan? Jawabannya ada pada sifat seorang mukmin: "Sami’na wa atha’na" (Kami dengar dan kami taat).

Inilah prinsip emas dalam Islam. Kita diperintahkan untuk dengar, tunduk, dan taat—sepenuh hati dan tanpa keberatan. Ketaatan ini dijalankan semampu kita, sejauh apa yang kita bisa.

Tentu, kita semua punya keterbatasan. Jika memang saat ini kita belum mampu melaksanakan suatu syariat, sikapilah dengan jujur. Akuilah ketidakmampuan itu, tetapi jangan pernah diingkari atau didustakan hukumnya. Mendustakan atau menolak satu ayat saja memiliki konsekuensi yang sangat berat di sisi Allah.

3. 🚧 Jangan Terus Bersembunyi di Balik "Still in Process"

Mengakui belum mampu adalah langkah awal yang baik, tetapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk terus menerus berdiam diri. Kita sering kali memberi excuse (alasan) pada diri sendiri, "Ah, still in process*," tanpa ada upaya serius untuk berubah. Ini adalah bentuk *self-deception (penipuan diri) yang berbahaya.

Ilustrasi piring yang hanya berisi sedikit makanan

Islam menuntut kita untuk memampukan diri. Ini adalah pertarungan abadi melawan hawa nafsu dan bisikan setan (syaitan) yang selalu merayu kita untuk menunda kebaikan. Jangan mau tertinggal jauh di belakang! Persiapkan diri untuk berubah ke arah yang lebih baik hari ini, bukan besok.

Terakhir, kita harus berhati-hati. Jangan banyak meminta dimaklumi atau diberi udzur (keringanan) hanya untuk MEMBENARKAN suatu KESALAHAN yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan syariat. Tugas kita adalah tunduk, bukan mencari pembenaran atas kesalahan.

4. 🔥 Peringatan Keras: Menjadikan Hawa Nafsu Sebagai Tuhan

Sikap menerima hanya yang sesuai dengan keinginan (nafsu) adalah sifat yang sangat berbahaya, bahkan merupakan ciri-ciri orang munafik. Mereka mengakui kebenaran Al-Qur'an dan Hadis, tetapi penerimaannya bersyarat—hanya jika sejalan dengan nafsunya.

Siapakah yang lebih tidak adil daripada orang-orang yang menjadikan keinginan (nafsunya) sebagai tuhan dan di turuti? Al-Qur'an memberikan teguran keras:

Firman Allah:
ﺃَﻓَﺮَﺀَﻳْﺖَ ﻣَﻦِ ﭐﺗَّﺨَﺬَ ﺇِﻟَٰﻬَﻪُۥ ﻫَﻮَﻯٰﻪُ
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya (keinginannya) sebagai tuhannya.." (QS. Al Jaatsiyah 45:23)

ﺃَﺭَﺀَﻳْﺖَ ﻣَﻦِ ﭐﺗَّﺨَﺬَ ﺇِﻟَٰﻬَﻪُۥ ﻫَﻮَﻯٰﻪُ
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..." (QS. Al Furqaan 25:43)

Ayat-ayat ini adalah pengingat bahwa pertarungan terbesar kita adalah melawan diri sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Yusuf:

Melawan Godaan Nafsu:
ۚ ﺇِﻥَّ ﭐﻟﻨَّﻔْﺲَ ﻟَﺄَﻣَّﺎﺭَﺓٌۢ ﺑِﭑﻟﺴُّﻮٓﺀِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺭَﺣِﻢَ ﺭَﺑِّﻰٓ ۚ
"..karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku..." (QS. Yusuf 12:53)

Mari kita tingkatkan komitmen kita. Islam menuntut ketaatan penuh. Ucapkan "Sami’na wa Atha’na" bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan seluruh jiwa dan raga, menjadikannya prinsip hidup kita. Jangan biarkan nafsu memimpin perjalanan iman kita!