Jangan Bawa Virus Konflik ke Muhammadiyah: Mengapa Ormas yang Rukun Sering Menjadi Sasaran?
Oleh H. Zulkarnain Elmadury — Sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana Muhammadiyah terus digempur oleh narasi permusuhan dari luar, dan mengapa kedewasaan warga persyarikatan adalah kunci utama mempertahankan ukhuwah.
Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang dikenal sangat tenang, dewasa, dan stabil dalam menghadapi berbagai dinamika umat. Sejak masa awal berdirinya, Muhammadiyah telah memantapkan posisinya untuk mengambil jalur dakwah melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat luas. Ormas ini tidak pernah menjadikan panggung konflik sebagai identitas perjuangannya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk kehidupan beragama dan berbangsa, ketenangan ini kerap kali diuji. Muhammadiyah tidak dibangun di atas fanatisme buta terhadap cabang-cabang pemikiran akidah tertentu. Organisasi ini secara tegas menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah al-Maqbulah sebagai fondasi tunggal dalam menggali ajaran Islam.

Setiap persoalan agama yang muncul di tengah umat senantiasa dikaji secara mendalam melalui manhaj tarjih. Pendekatan ini murni berbasis dalil yang sahih, bukan didasari oleh loyalitas sempit kepada nama sebuah kelompok ataupun ketokohan seseorang. Prinsip inilah yang pada akhirnya membuat Muhammadiyah mampu berdiri mandiri, berpegang teguh pada jalurnya, dan terus berorientasi pada kemurnian ajaran Islam yang membumi.
Mengapa Ormas yang Rukun dan Tenang Sering Menjadi Sasaran?
Melihat rekam jejak Muhammadiyah yang elegan dalam berdakwah, logikanya semua pihak akan menghargai ketenangan tersebut. Namun realitas di lapangan berbicara lain. Ada sebuah ironi besar ketika pihak-pihak tertentu justru merasa gelisah dan tidak nyaman saat melihat Muhammadiyah hidup dalam keteduhan.
Ketidaknyamanan Terhadap Independensi
Banyak pihak di luar sana yang terbiasa hidup dalam ekosistem perdebatan tanpa ujung. Ketika mereka melihat entitas besar seperti Muhammadiyah memilih untuk diam dari perdebatan tidak substansial dan lebih memilih membangun rumah sakit atau sekolah, muncul rasa ketidaknyamanan. Muhammadiyah sering kali dianggap kurang "garang" atau dianggap tidak memihak, padahal kemandirian adalah wujud tertinggi dari sebuah sikap.
Benturan Kepentingan dan Narasi Pemecah Belah
Narasi-narasi provokatif sering kali dibangun secara sengaja untuk membenturkan Muhammadiyah dengan kelompok lain. Berbagai isu dikemas sedemikian rupa seolah-olah ketenangan persyarikatan adalah sebuah bentuk kelemahan atau sikap apatis. Tujuan utamanya sederhana: mereka ingin menyeret Muhammadiyah masuk ke dalam arena pertarungan ideologi yang sebenarnya sama sekali bukan urusan internal persyarikatan.
Mengimpor Permusuhan dari Luar
Lebih jauh lagi, ada upaya-upaya sistematis untuk membawa virus permusuhan dan pertikaian dari luar agar merasuk ke dalam tubuh Muhammadiyah. Pihak-pihak tak bertanggung jawab mencoba mengimpor fanatisme kelompok dan budaya saling mencela. Padahal, praktik saling menghujat ini sangat bertentangan dengan kepribadian warga Muhammadiyah yang selalu mengedepankan nilai-nilai keadaban dan akhlak mulia dalam berdakwah.
Kritik Ilmiah vs Fanatisme Buta
Tentu saja, Muhammadiyah bukanlah institusi yang anti-kritik. Kritik yang dibangun di atas dasar ilmiah, musyawarah, dan keterbukaan adalah hal yang sangat lumrah dalam tradisi akademik dan keagamaan persyarikatan. Muhammadiyah memiliki mekanisme organisasi yang matang serta keputusan tarjih untuk menyelesaikan atau menyikapi perbedaan pandangan.
Akan tetapi, mengimpor permusuhan berkedok kritik adalah hal yang sama sekali berbeda. Fanatisme dan sikap mudah mengkafirkan atau menyesatkan orang lain hanya akan merusak ukhuwah Islamiyah. Hal tersebut tidak menghasilkan jalan keluar apa pun selain mengalihkan fokus dan energi umat dari misi besar dakwah amar ma'ruf nahi mungkar.
Benteng Pertahanan: Tetap Cerdas dan Bijak
Oleh karena itu, warga Muhammadiyah di mana pun berada dituntut untuk selalu cerdas dalam merespons informasi. Jangan sampai mudah terprovokasi apalagi sampai membenci kelompok tertentu hanya karena termakan narasi adu domba. Warga persyarikatan tidak boleh membiarkan diri mereka dijadikan pion atau alat tempur dalam perselisihan sentimen pihak luar.
Persyarikatan ini telah sukses melewati berbagai ujian zaman selama lebih dari satu abad. Rahasianya? Muhammadiyah selalu mengedepankan ilmu, musyawarah mufakat, serta kebijaksanaan dalam setiap langkahnya. Kebesaran hati untuk tidak melayani provokasi receh adalah bukti kedewasaan spiritual dan intelektual.
Muhammadiyah tidak membutuhkan virus perpecahan. Umat saat ini lebih membutuhkan penguatan ilmu pengetahuan, perbanyakan amal saleh, penanaman akhlak mulia, serta komitmen yang nyata untuk memajukan peradaban. Apabila di masa depan ada pihak-pihak yang sengaja datang menjajakan bara permusuhan, ingatlah satu pesan penting: jangan pernah biarkan bara tersebut masuk dan membakar rumah kita sendiri. Muhammadiyah akan terus berdiri kokoh selama warganya teguh menjaga persatuan dan menghormati manhaj persyarikatan.