😌 KEKELIRUAN CARA PIKIR MENILAI MUHAMMADIYAH
“TIDAK PATUH PADA ULIL AMRI”

Assalamu’alaikum, Ngobrolin soal Muhammadiyah dan ketaatan kepada ulil amri kadang ngabisin waktu. Banyak yang mengira kalau berbeda dalam praktik ibadah (misalnya nentuin 1 Ramadhan) berarti tidak taat. Padahal, dunia Islam itu kaya dengan ijtihad. mari, kita bedah satu per satu kekeliruan cara pikir yang sering muncul.

Ilustrasi Muhammadiyah dan Ulil Amri

4 Kekeliruan Fatal yang Perlu Diluruskan

1️⃣Mengira ketaatan harus selalu sama dalam praktik

Banyak yang menyangka, kalau berbeda dalam hal teknis (misalnya penentuan awal Ramadhan), berarti tidak taat. Padahal dalam Islam, ketaatan kepada ulil amri berlaku dalam hal yang ma'ruf (baik & tidak melanggar syariat). Selama masih dalam wilayah ijtihad, perbedaan itu dibolehkan. Berbeda bukan berarti membangkang. Bisa jadi itu bentuk tanggung jawab ilmiah. Imam Syafi’i saja punya qaul qadim dan qaul jadid – itu bukan pembangkangan, tapi dinamika ilmu.

“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat.” (HR. Al-Baihaqi, meskipun kontroversi sanad, tapi maknanya diterima ulama).
2️⃣Menyamakan ijtihad dengan pembangkangan

Ketika Muhammadiyah menggunakan hisab atau hasil tarjih sendiri, sebagian langsung menilai itu melawan pemerintah. Padahal itu adalah hasil ijtihad kolektif berbasis dalil dan ilmu. Kalau setiap perbedaan ijtihad dianggap pembangkangan, maka tradisi keilmuan Islam sejak dulu belum tentu hidup. 🕌 Majelis Tarjih Muhammadiyah melakukan kajian mendalam, merujuk Al-Qur’an, As-Sunnah, dan metode ilmiah. Bukan sekadar 'beda biar beda'.

Contoh: Dalam hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah memiliki dasar astronomi yang kuat. Menuduhnya membangkang sama saja mematikan nalar kritis umat.

3️⃣Tidak memahami batas ketaatan dalam Islam

Ketaatan kepada pemimpin bukan tanpa batas. Prinsipnya jelas: “Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah” (HR. Bukhari-Muslim). Dalam perkara ibadah yang berbasis keyakinan ilmiah, ulama diberi ruang untuk berijtihad. Dan Muhammadiyah berada di ruang itu. Pemerintah sendiri melalui Kementerian Agama juga mengakomodasi perbedaan dengan sidang isbat. Jadi, jangan terjebak pada persepsi hitam-putih.

📖 QS An-Nisa (4): 59 memerintahkan taat pada Allah, Rasul, dan ulil amri. Tapi para mufassir menjelaskan, ketaatan kepada ulil amri tidak boleh bertentangan dengan perintah Allah. Nah, masalah ibadah mahdhah seperti penentuan bulan, ada ruang ijtihad.

4️⃣Mengabaikan kontribusi nyata Muhammadiyah untuk negara

Ironisnya, yang menuduh sering lupa: Muhammadiyah aktif dalam pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan pembangunan bangsa. Ini justru bentuk nyata ketaatan dalam arti luas: membangun kemaslahatan umat dan negara. 🏥 Dari ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, hingga lembaga zakat dan bencana — Muhammadiyah menjadi mitra strategis pemerintah. Apakah mungkin organisasi yang “tidak patuh” mendapat kepercayaan besar dari negara? Jelas tidak.

Data: Muhammadiyah mengelola 172 perguruan tinggi, ribuan RS dan klinik. Bantuan saat pandemi dan bencana selalu menjadi garda depan. Itu ketaatan substantif, bukan sekadar seremoni.

Lebih Jauh: Apa Itu Ulil Amri & Batasan Ketaatan?

Ulil Amri dalam konteks keindonesiaan merujuk pada pemerintah dan lembaga yang sah. Tapi para ulama besar seperti Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim menegaskan: ketaatan kepada penguasa hanya dalam perkara yang makruf. Artinya, jika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melanggar syariat, maka tidak boleh ditaati. Namun dalam masalah furu’iyah (cabang) seperti metode hisab-rukyat, pemerintah memberi ruang dan tidak pernah memaksa ormas Islam untuk seragam. Maka tuduhan “Muhammadiyah tidak patuh” adalah kekeliruan besar.

📌 Prinsip Kunci dalam Bingkai NKRI

Muhammadiyah sejak awal berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. Ketua Umum PP Muhammadiyah berkali-kali menegaskan bahwa perbedaan metode hisab dan rukyat bukanlah bentuk ketidaktaatan, melainkan bagian dari dinamika keberagamaan yang dihormati konstitusi. Bahkan Fatwa MUI tentang perbedaan penentuan awal Ramadhan juga menyadari adanya kelonggaran.

Jangan sampai fitnah “pembangkang” merusak ukhuwah. Karena persatuan bangsa dibangun di atas toleransi terhadap perbedaan ijtihad.

Kontribusi Nyata Muhammadiyah: Wujud Ketaatan Substantif

Jika kita melihat fakta ini, sangat tidak adil jika Muhammadiyah dicap “tidak patuh” hanya karena perbedaan teknis dalam ibadah. Justru mereka adalah pilar ketaatan yang produktif.

📌 5W+1H | Memahami Akar Kekeliruan

Apa (What): Tuduhan bahwa Muhammadiyah tidak patuh pada ulil amri karena berbeda dalam penetapan ibadah (hisab vs rukyat).

Siapa (Who): Sebagian kalangan yang menyamakan perbedaan ijtihad dengan pembangkangan, serta warga Muhammadiyah sebagai pihak yang dinilai.

Kapan (When): Setiap terjadi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha; juga dalam diskusi keagamaan kontemporer.

Di mana (Where): Di Indonesia, khususnya ruang publik dan media sosial.

Mengapa (Why): Karena minim pemahaman batasan ketaatan dalam Islam dan tradisi ijtihad yang hidup sejak salaf.

Bagaimana (How): Dengan merujuk pada dalil, prinsip "tidak ada ketaatan dalam maksiat", serta melihat kontribusi nyata Muhammadiyah untuk bangsa.

“Kalau perbedaan ijtihad dianggap pembangkangan… maka sejak dulu umat Islam sudah terpecah bukan karena perbedaan, tapi karena cara kita memahaminya.”

Menurut Anda, apakah kita sudah adil dalam menilai perbedaan? Mari renungkan. Belajar dari sejarah, para sahabat pun berbeda pendapat dalam masalah furu’iyah, namun mereka tetap bersaudara. Sikap adil adalah menerima perbedaan ijtihad selama dalam koridor syariat.

Artikel Terkait