Bagi sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia, nama Muhammadiyah identik dengan pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Kepopulerannya sangat wajar mengingat beliau adalah sang arsitek utama gerakan pembaruan Islam ini. Namun, sebuah kapal besar tidak akan berlayar jauh hanya dengan satu orang nahkoda tanpa awak kapal yang cerdas dan militan.
Di antara barisan perintis Muhammadiyah generasi pertama, ada satu nama yang perannya sangat krusial namun sering luput dari buku teks sejarah populer di sekolah-sekolah: KH Fakhruddin. Jasanya dalam merapikan manajemen organisasi, membangun sayap pergerakan kebangsaan, dan menjadikan pers sebagai medium dakwah modern adalah peninggalan yang sangat berharga.
Beliau bukan sekadar ulama yang duduk manis di pesantren, melainkan seorang organisatoris ulung. Pada tahun 1916, di usianya yang masih sangat muda, ia telah dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah. Puncak kontribusinya di bidang literasi terlihat jelas ketika ia didapuk memimpin penerbitan majalah legendaris, Suara Muhammadiyah, pada tahun 1921.

Dari Mimbar Lisan Menembus Dakwah Tulisan
Mari kita mundur sejenak ke awal abad ke-20. Di masa Hindia Belanda itu, mobilitas orang sangat terbatas. Menyebarkan gagasan murni tentang Islam yang bersih dari TBC (Takhayul, Bid'ah, Churafat) bukanlah pekerjaan mudah. Jika dakwah hanya mengandalkan metode konvensional berupa ceramah tatap muka (lisan), maka jangkauannya hanya akan terbatas pada masyarakat sekitar Yogyakarta saja.
KH Fakhruddin memiliki visi yang melampaui zamannya. Ia sangat memahami bahwa media cetak adalah senjata perlawanan dan sarana edukasi yang paling masif untuk menjangkau masyarakat Nusantara secara luas.
Coba bayangkan beratnya perjuangan beliau saat itu:
- Belum ada Facebook atau Twitter untuk memviralkan opini.
- Belum ada YouTube untuk merekam dan menyiarkan pengajian secara live streaming.
- Belum ada WhatsApp Grup untuk mengkoordinasikan massa dengan satu kali klik.
Yang tersedia hanyalah mesin cetak tua, kertas buram, dan tinta. Lewat surat kabar, majalah, dan pamflet-pamflet tulisan itulah KH Fakhruddin membongkar kebekuan pemikiran umat Islam. Tulisannya tajam, jernih, dan berhasil menyebarkan virus pembaruan Islam hingga menembus batas geografis pulau Jawa.
Lebih dari Sekadar Tokoh Agama: Sang Aktivis Kebangsaan
Satu hal yang membuat profil KH Fakhruddin sangat menarik adalah kenyataan bahwa ia tidak mengurung dirinya dalam "menara gading" urusan agama an sich. Beliau adalah prototipe intelektual muslim yang membumi.
Selain sibuk mengurus Muhammadiyah, ia juga tercatat sangat aktif bermanuver dalam pergerakan kebangsaan melalui organisasi sekuler seperti Budi Utomo cabang Yogyakarta. Fakta sejarah ini mematahkan anggapan bahwa tokoh-tokoh awal Muhammadiyah hanya peduli pada urusan membangun sekolah dan pengajian ibu-ibu.
Keterlibatan KH Fakhruddin di Budi Utomo membuktikan bahwa perjuangan Muhammadiyah sejak awal sudah bersinggungan langsung dengan politik kebangsaan, wacana pers, dan perlawanan intelektual terhadap hegemoni kolonial Belanda. Ia adalah jembatan yang menghubungkan antara gerakan purifikasi Islam dengan kesadaran nasionalisme ke-Indonesia-an.
Mengapa KH Fakhruddin Relevan untuk Generasi Digital?
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa pentingnya mempelajari tokoh pers cetak di era serba digital dan kecerdasan buatan seperti sekarang? Jawabannya ada pada warisan pola pikir (mindset) yang beliau tinggalkan: Dakwah yang efektif mutlak membutuhkan penguasaan media.
Pada zaman KH Fakhruddin, medium terbaiknya adalah majalah dan surat kabar cetak. Hari ini, format medianya telah berevolusi menjadi podcast, video pendek TikTok, utas di media sosial, hingga newsletter digital. Dulu, butuh waktu berhari-hari agar satu artikel bisa dibaca orang di pulau seberang. Sekarang, satu tulisan atau konten bisa dibaca jutaan orang di seluruh dunia dalam hitungan detik.
Bentuknya boleh berubah drastis, tetapi ruh perjuangannya tetap sama persis: bagaimana kita menggunakan instrumen komunikasi modern untuk menyampaikan pengetahuan yang valid, membangun kesadaran kritis, dan mengajak masyarakat kepada kebaikan (amar ma'ruf nahi munkar).
4 Pelajaran Berharga dari KH Fakhruddin
Ada beberapa poin refleksi yang bisa kita adaptasi dari perjuangan beliau untuk kehidupan profesional maupun aktivisme kita saat ini:
- Jangan pernah meremehkan kekuatan tulisan. Kata-kata yang disusun secara terstruktur di media cetak maupun digital mampu menembus ruang, waktu, dan batas ideologi.
- Dakwah itu dinamis. Mengajak pada kebaikan tidak boleh anti-teknologi. Gerakan harus luwes beradaptasi dan mengeksploitasi media sosial masa kini, persis seperti KH Fakhruddin memaksimalkan mesin cetak di zamannya.
- Soliditas Organisasi. Perubahan sosial yang masif tidak bisa dilakukan sendirian (one-man show). Dibutuhkan kendaraan berupa sistem organisasi yang rapi, solid, dan berkelanjutan.
- Ikhlas Tanpa Haus Validasi. Tidak semua pekerja keras dan tokoh pemikir besar akan dikenal luas oleh generasi berikutnya. Kadang, fokus pada hasil kerja nyata lebih penting daripada mengejar fame atau ketenaran personal.
Pahlawan Sunyi di Balik Layar Sejarah
KH Fakhruddin wafat pada tahun 1929 dalam usia yang relatif masih sangat produktif, mendahului banyak rekan seperjuangannya. Dedikasinya yang luar biasa membuat Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan beliau sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1964.
Sayangnya, bagi mayoritas anak muda atau bahkan warga persyarikatan hari ini, namanya mungkin hanya sekelebat muncul di soal-soal ujian Kemuhammadiyahan. Ia adalah sosok pahlawan sunyi yang tidak banyak bicara tentang kehebatannya sendiri.
Namun, jejak rekam sejarah yang ia tinggalkan menjadi tamparan pengingat bagi kita. Sejarah peradaban dan perubahan besar sering kali dirakit secara teliti oleh orang-orang jenius yang bekerja militan di balik layar—mengurus administrasi, menulis artikel, dan merapikan organisasi—bukan sekadar oleh mereka yang selalu memegang mikrofon di panggung utama.
Membaca sejarah Muhammadiyah, berarti kita harus membaca lebih dari sekadar nama KH Ahmad Dahlan. Di belakang beliau, berjejer rapat para pemikir strategis yang ikut meniupkan nyala api pembaruan, dan KH Fakhruddin adalah salah satu tiang pancang terkuatnya. Ya, sejarah sejatinya bukan cuma tentang siapa yang paling sering dielu-elukan orang banyak, melainkan tentang siapa yang terus bekerja gigih meski namanya belum banyak dihafal oleh dunia.