Kisah Qarun: Saat Harta Menelan Dirinya.
seorang yang dulu sangat kaya, namun akhirnya justru ditelan bumi oleh hartanya sendiri. Kisah ini Allah abadikan dalam Surah Al-Qaṣaṣ ayat 76–82 — bukan sekadar cerita, tapi pelajaran hidup yang dalam banget tentang bagaimana kekayaan bisa jadi ujian paling berat dalam hidup manusia.

Teman-teman sekalian …
Dulu ada seorang laki-laki yang kalau keluar rumah, pakaian dan perhiasannya berkilau di bawah sinar matahari. Orang-orang sampai berhenti di jalan, terpesona melihat kemegahannya. Tapi di mata Allah… dia bukan siapa-siapa.
Dia adalah Qārūn, sepupu Nabi Musa ‘alaihissalām.
Dia hidup di masa Bani Israil di Mesir, pada masa kekuasaan Fir’aun.
Awalnya, Qārūn adalah orang saleh, ahli Taurat, pandai membaca kitab. Tapi… saat Allah memberinya kekayaan yang besar, hatinya mulai condong kepada dunia.
Dia mulai sombong, lupa diri, dan menganggap semua itu hasil kerja kerasnya sendiri.
Allah berfirman:
اِۨنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْۚ وَ اٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَاۤ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْٓاُۨ بِالْعُصْبَةِ اُولِي الْقُوَّةِ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ
“Sesungguhnya Qārūn adalah termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka. Dan Kami telah memberikan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah engkau terlalu gembira (membatidakan diri), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membatidakan diri.’”
Bayangin ya…
kata Imam Ibnu Katsir, “Yang memikul kunci-kunci saja sudah berat bagi beberapa orang kuat.”
Bukan petinya… bukan emasnya… baru kuncinya aja!
Itu menunjukkan betapa luar biasanya kekayaan Qārūn.
Lalu Allah berfirman :
وَابْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia; berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Orang-orang saleh menasihati dia dengan lembut:
“Gunakan hartamu untuk akhirat, Qarun... bukan untuk kesombongan.”
Tapi apa jawabannya?
قَالَ اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًاۗ وَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ
Qārūn berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi (harta itu) karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan (harta)? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka (karena telah nyata kejahatannya).
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ زِيْنَتِهٖۗ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَاۤ اُوْتِيَ قَارُوْنُۗ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
Maka keluarlah Qārūn kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Wahai, semoga kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qārūn; sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًاۗ وَلَا يُلَقّٰىهَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ
Tetapi orang-orang yang diberi ilmu berkata: “Celakalah kamu! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh (pahala itu) kecuali oleh orang-orang yang sabar.”
Dia merasa semua karena dirinya sendiri — usahanya, kehebatannya, kecerdasannya.
Dan inilah titik kehancuran Qārūn.
Sombong. Lupa bahwa semua berasal dari Allah.
Menurut riwayat Tafsir Ath-Ṭabarī dan Al-Baghawī, Qārūn bahkan menuduh Nabi Musa dengan fitnah sangat tidak etis, agar orang-orang berpaling dari dakwahnya.
Dia menyewa seorang wanita untuk berdusta bahwa Nabi Musa berbuat perbuatan yang dipandang melanggar nilai agama — tapi Allah membalikkan rencana itu. Wanita itu akhirnya mengaku bahwa ia disuruh oleh Qārūn.
Dan sejak saat itu, peringatan keras Allah diturunkan kepadanya.
Allah berfirman :
فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَۖ فَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ
Maka Kami benamkanlah dia beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.
Bayangkan…
Bumi mulai bergetar.
Tanah di bawah Qārūn retak.
Dia memohon pertolongan — tapi tak ada yang bisa menolongnya.
Harta, istana, perhiasan — semuanya tenggelam ke perut bumi.
Sampai hari ini, Allah jadikan itu ibrah bagi yang hidup setelahnya.
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa tempat Qārūn dibenamkan diyakini berada di wilayah Qarun Lake (Buhayrat Qarun) di Mesir, sekitar 45 km barat kota Fayyum, daerah subur yang dulu dikenal sebagai tempat kekayaannya.
Di sana, masyarakat Mesir kuno percaya, masih ada bekas reruntuhan kota tempat Qārūn dibenamkan bersama hartanya.
Setelah Qārūn ditelan bumi, orang-orang yang dulu mengaguminya menyesal.
Allah berfirman :
وَاَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهٗ بِالْاَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَأَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُۗ لَوْلَاۤ اَنْ مَّنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَاۗ وَيْكَأَنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ
Dan jadilah orang-orang yang kemarin menginginkan kedudukan seperti Qārūn berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, benar-benar kita telah dibenamkan (pula). Aduhai, benarlah tidak akan beruntung orang-orang yang kafir.”
Mereka sadar,
kekayaan bukan ukuran kemuliaan.
Yang membuat seseorang mulia hanyalah ketakwaan.
Pesan dari Para Ulama
“Kekayaan Qārūn bukanlah nikmat, tapi ujian yang justru membinasakannya karena ia tidak mensyukuri pemberian Allah.”
“Qārūn adalah contoh manusia yang tertipu oleh dunia — ia lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah.”
“Sombong terhadap nikmat adalah bentuk kufur terbesar terhadap nikmat itu sendiri.”
Pelajaran Untuk Kita
Teman-teman sekalian..…
kadang kita iri lihat orang kaya, sukses, hidupnya tampak mewah.
Tapi kisah Qārūn mengingatkan kita: yang penting bukan berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa bersyukur kita terhadap yang Allah beri.
Allah bisa angkat seseorang dengan harta,
tapi Allah juga bisa menenggelamkannya dengan harta yang sama.
Harta itu seperti pisau
Di tangan orang baik
Bisa jadi alat yang bermanfaat
tapi di tangan orang salah
bisa melukai dirinya sendiri
Allah berfirman dalam Surah Yūsuf (12): Ayat 111
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْnَ
“Sungguh, dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.”
Semoga kita dijauhkan dari kesombongan Qārūn,
dan diberikan hati yang bersyukur seperti hati para Nabi.
Dan setiap kisah itu bukan dongeng semata, tapi pelajaran hidup nyata yang Allah turunkan sebagai hudan wa rahmah (petunjuk dan rahmat).