🏠 Jaga Data Pribadi Tetap Aman

Jangan Mencela Makanan atau Jangan Mencela Kebijakan? Kritik Program MBG 🍲

Halo teman-teman! Belakangan ini lagi ramai nih soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Yang menarik, bukan cuma soal menunya yang dibahas, tapi muncul argumen religius dari sebagian pihak yang membela pemerintah. Katanya: "Jangan mencela makanan, Nabi saja tidak pernah mencela makanan."

Mereka biasanya mengutip hadis populer dari Abu Hurairah RA:

مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

"Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Ilustrasi Makanan dan Kebijakan Publik

Hadis Ini Sebenarnya Tentang Apa Sih? 🤔

Bayangkan kamu bertamu ke rumah teman. Dia sudah capek-capek masak dari pagi, lalu pas dihidangkan kamu bilang, "Duh, keasinan nih!" atau "Gak enak banget!". Nah, di sinilah hadis itu berlaku. Ini soal adab saat dijamu. Nabi mengajarkan kita untuk menjaga hati orang yang sudah berusaha menjamu kita.

Tapi, Apakah Nabi Selalu Diam Soal Makanan? Gak Juga!

Ada kisah lain di pasar Madinah. Nabi melihat pedagang yang menumpuk kurma. Luarnya bagus, tapi pas Nabi masukkan tangan ke dalam, ternyata bagian bawahnya basah dan buruk. Nabi langsung tegur keras!

"Siapa yang menipu bukan dari golongan kami." (HR. Muslim)

Poin pentingnya: Kalau makanan itu menyangkut kepentingan orang banyak (publik) atau ada unsur penipuan/kerugian massal, Nabi justru memeriksa dan mengkritik dengan sangat tegas. Jadi, bedakan antara "dijamu di rumah teman" dengan "program publik berskala nasional".

MBG di Bulan Puasa: Antara Pendidikan dan Kemubaziran

Sekarang coba kita masuk ke realita program MBG. Khususnya saat bulan Ramadan. Bayangkan skenario ini:

  1. Pendidikan Puasa Anak: Orang tua susah payah ngajarin anak puasa, eh di sekolah jam 9 pagi sudah dikasih kotak makanan. Kalau dimakan, puasanya batal.
  2. Mubazir Nasional: Kalau dibawa pulang buat buka, biasanya di rumah sudah ada masakan ibu yang lebih segar. Ujung-ujungnya? Dibuang.

💸 Angka yang Bikin Geleng Kepala

Bukan sekadar asumsi, Isnawati (Peneliti CELIOS) menyebutkan ada potensi 62–125 juta porsi per minggu yang terbuang sia-sia. Ini setara dengan kerugian negara sebesar Rp622 miliar sampai Rp1,27 triliun PER MINGGU!

Apakah mengkritik pemborosan triliunan rupiah uang rakyat ini dianggap "mencela makanan"? Tentu tidak. Ini namanya muhasabah lil imam (mengingatkan pemimpin) agar amanah rakyat tidak menguap jadi sampah.

Tafsir Ayat yang Kurang Pas

Ada juga yang membawa-bawa QS. Quraysh ayat 4: "Dan Dia yang memberi mereka makan dari lapar...". Padahal ayat ini bicara soal nikmat dari Allah, bukan perintah buat membuat program makanan yang pengelolaannya berantakan. Subjeknya adalah Allah, bukan CEO program MBG. Jangan sampai dalil dipakai untuk menutup mata dari inefisiensi anggaran.

Kesimpulan: Kritik Adalah Bentuk Kepedulian 💡

Memilih untuk diam saat melihat uang pajak kita (yang seringnya dari utang juga) terbuang mubazir bukanlah bentuk ketaatan pada sunnah. Sunnah Nabi justru mengajarkan kejujuran dan ketegasan dalam urusan publik.

  • Mencela masakan istri/teman? Jangan. (Itu Adab).
  • Mengkritik program triliunan rupiah yang mubazir? Harus. (Itu Kewajiban Warga Negara).

Sekilas Analisis (5W + 1H)

  • Who (Siapa): Pemerintah, Dai pembela program, dan para kritikus kebijakan (termasuk peneliti CELIOS).
  • What (Apa): Kritik terhadap potensi kemubaziran program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama di bulan Ramadan.
  • Where (Di mana): Di sekolah-sekolah di Indonesia dan ruang publik digital.
  • When (Kapan): Saat ini, khususnya menjelang dan selama bulan puasa.
  • Why (Mengapa): Karena ada argumen agama yang digunakan untuk membungkam kritik terhadap program publik.
  • How (Bagaimana): Membandingkan adab menjamu tamu dengan kewajiban melakukan pengawasan (muhasabah) terhadap kebijakan publik.