7 Menit Baca • Frijal

Pernah tidak sih merasa dosa kita itu sudah numpuk setinggi gunung? Merasa kotor sekali sampai malu mau angkat tangan buat berdoa? Atau mungkin sebagai orang tua dan pendidik, kita melihat generasi sekarang (atau anak didik kita sendiri) yang rasanya sudah "kejauhan" nakalnya, sampai kita bergumam dalam hati: "Ah, anak ini kayaknya udah tidak bisa dibenerin deh."
Kalau perasaan itu pernah mampir, maka kita perlu duduk sebentar, tarik napas, dan merenungi satu ayat cinta dari Allah ini.
Surat Az-Zumar ayat 53. Para ulama sering menyebut ayat ini sebagai "Arja Aayah", yaitu ayat yang paling penuh dengan harapan di dalam seluruh Al-Qur'an. Ini adalah "pelukan" Allah bagi hamba-hamba-Nya yang merasa kotor, berdosa, dan hampir putus asa.
Mari kita bedah pelan-pelan, karena setiap kata dalam ayat ini mengandung samudra kasih sayang yang luar biasa.
Coba perhatikan. Allah tidak memanggil dengan sebutan "Wahai Pendosa", "Wahai Pezina", atau "Wahai Ahli Maksiat".
Allah memanggil dengan "Wahai Hamba-Ku" (Ya 'Ibadi). Ini merinding kalau kita rasakan benar-benar. Seburuk apapun dosa seorang manusia, Allah masih "mengklaim" dan mengakui dia sebagai milik-Nya. Ikatan penghambaan itu tidak putus hanya karena dosa. Ini adalah panggilan yang sangat lembut untuk meruntuhkan tembok rasa malu hamba yang ingin pulang tapi takut ditolak.
Kata yang digunakan adalah Israf. Dalam bahasa Arab, ini artinya berlebih-lebihan atau melampaui batas kewajaran.
Ini menggambarkan orang yang dosanya bukan cuma satu atau dua, tapi sudah bertumpuk-tumpuk, meluber, sampai si pelakunya sendiri bingung saking banyaknya. Ayat ini seolah berkata: "Hei kamu, yang merasa dosanya sudah kelewatan, yang merasa sudah tidak punya harapan... ayat ini khusus buat kamu."
Allah secara spesifik melarang rasa putus asa. Kenapa? Karena putus asa adalah tipu daya Iblis yang paling pamungkas.
Ketika Iblis gagal mempengaruhi manusia dengan dorongan seksual, ia akan masuk lewat pintu penyesalan yang berlebihan. Dia akan membisikkan: "Dosamu udah kebanyakan. Allah tidak mungkin maafin kamu. Udah lah, tanggung, lanjutin aja maksiatnya sampai wafat."
Ayat ini memotong bisikan itu. Putus asa dari rahmat Allah itu sendiri adalah dosa besar. Allah lebih suka pendosa yang merengek minta ampun, daripada orang sok suci yang merasa aman.
"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." Ada kata Jami'an (semuanya) yang sangat tegas di situ.
Tidak ada pengecualian. Selama hamba itu mau bertaubat sebelum nyawa sampai di kerongkongan (sakaratul maut). Bahkan dosa syirik pun, jika pelakunya bertaubat dan kembali bertauhid sebelum meninggal, akan diampuni. Pintu Allah seluas langit dan bumi.
Biar makin paham "rasa" ayat ini, kita perlu tahu sejarahnya. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang musyrik di masa Jahiliyah yang "parah" sekali kelakuannya. Mereka sudah banyak menyebabkan korban meninggal (tanpa hak) dan banyak berzina.
Hati mereka sebenarnya ingin masuk Islam, tapi logika mereka macet. Mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata:
"Sesungguhnya apa yang engkau serukan itu bagus, tapi... seandainya engkau memberitahu kami bahwa dosa-dosa kelam yang telah kami kerjakan di masa lalu itu ada tebusannya (bisa diampuni)."
Mereka ragu masuk Islam bukan karena menolak Tuhan, tapi karena merasa masa lalu mereka terlalu hitam. Maka turunlah ayat ini bagaikan air hujan di tanah tandus, meyakinkan mereka bahwa tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk dimaafkan oleh masa depan yang cerah bersama Allah.
Mengingat diskusi kita sebelumnya tentang kekhawatiran terhadap moral generasi muda yang makin "liar" (bicara kasar, adab hilang, pergaulan bebas), ayat ini sangat relevan sebagai penawar.
1. Jangan "Memvonis" Mati Masa Depan Anak
Sebagai pendidik atau orang tua, kita mungkin marah dan kecewa. Tapi Az-Zumar: 53 mengingatkan kita: Jika Allah saja tidak berputus asa terhadap hamba-Nya yang melampaui batas, siapa kita yang berani berputus asa terhadap perubahan anak-anak itu? Tugas kita adalah mendidik (ta'dib), bukan menjadi hakim yang mengetuk palu konsekuensi akhirat bagi mereka.
2. Pintu Pulang Selalu Terbuka
Anak-anak yang terlanjur "rusak" pergaulannya, seringkali tidak mau kembali menjadi baik bukan karena mereka suka jadi jahat. Tapi karena mereka MALU. Mereka merasa masyarakat (termasuk guru dan orang tua) sudah melabeli mereka sebagai "sampah". Ayat ini mengajarkan kita untuk merangkul. Katakan pada mereka: "Nak, salah itu wajar. Tapi tidak kembali itu yang salah. Ayo pulang."
3. Obat Bagi Jiwa Kita Sendiri
Terakhir, ayat ini buat kita. Orang tua yang merasa gagal mendidik, guru yang merasa kurang sabar, atau kita yang punya dosa tersembunyi. Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita lumpuh. Perbaiki, taubat, dan jalan lagi. Allah Maha Luas.
"Tidak ada dosa yang lebih besar daripada ampunan Allah."
Semoga hati kita menjadi lapang setelah merenungi ayat ini. mari, jangan putus asa dari rahmat-Nya! 🤲