Pernah merasa bingung sama banyaknya perbedaan pendapat? Di tengah derasnya arus informasi, siapa yang harus kita ikuti? Mengapa ulama bisa beda pendapat? Dan bagaimana kita bersikap agar tidak terjebak dalam fanatisme buta?
Nah, buat menjawab kegalauan itu, Muhammadiyah punya resep jitu yang dinamakan Manhaj Tarjih dan Tajdid. Ini bukan sekadar teori, tapi panduan ilmiah biar kita beragama secara murni dan tetap nyambung sama zaman now. Yuk, kita kupas tuntas!

Dalam perjalanan panjang umat Islam, perbedaan pendapat atau ikhtilaf adalah sesuatu yang lumrah banget dan tidak bisa dihindari. Sejak zaman para sahabat nabi hingga ulama kontemporer saat ini, beda pemahaman dalil itu sudah jadi bagian dari dinamika intelektual Islam.
Jangan salah sangka, ikhtilaf itu bukan kelemahan lho, melainkan kekayaan intelektual kita. Mengapa para ulama bisa beda pendapat? Biasanya karena:
Bayangin kalau umat dibiarin jalan sendiri tanpa metodologi yang jelas. Apa yang bakal terjadi?
Buat yang belum familiar, secara bahasa, tarjih itu artinya "menguatkan" atau "memilih yang lebih berat". Ibarat timbangan, kita mencari mana yang bobotnya lebih baik.
Secara istilah, apa itu tarjih?
"Tarjih adalah metode ilmiah untuk menimbang dalil-dalil yang secara kasat mata tampak bertentangan, lalu kita memilih pendapat yang paling kuat (rajih) argumennya."
Tujuan utama dari sistem tarjih ini jelas banget:
Tarjih ini bukan karangan bebas ya, ada landasan teologisnya yang kuat di dalam Al-Qur'an.
Allah ﷻ berfirman yang intinya:
"Jika kalian berselisih dalam suatu urusan, maka kembalikanlah urusan itu kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)..."
Ayat ini adalah pondasi utama! Setiap kali kita beda pendapat, kembalinya wajib ke Al-Qur'an dan Hadis yang sahih.
Di ayat lain, Allah juga ngasih pujian buat orang-orang yang kritis:
"...Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya."
Artinya, kita disuruh open minded: dengerin dulu berbagai pendapat ulama, timbang dalilnya, lalu pilih yang terbaik dan terkuat.
Biar prosesnya fair, Muhammadiyah pakai beberapa prinsip dasar dalam melakukan tarjih:
Setiap keputusan hukum wajib punya dasar dalil dari Al-Qur’an dan Hadis yang sahih atau hasan. Tidak boleh asal tebak!
Proses tarjih itu murni kajian keilmuan. tidak boleh kecampur emosi pribadi, kepentingan politik, atau cuma mau ngikutin tradisi warisan yang ternyata tidak ada tuntunannya.
Islam itu agama yang cerdas. Muhammadiyah mendorong warganya buat berpikir kritis dan terus belajar, bukan cuma nerima suapan hukum secara pasif.

Setelah paham Tarjih, sekarang kita masuk ke Tajdid. Gabungan keduanya ini yang membuat pemahaman beragama jadi menarik sekali.
Tajdid artinya pembaruan. Eits, tapi tunggu dulu! Ini bukan berarti kita bikin syariat atau agama baru lho. Tajdid punya dua dimensi:
Rasulullah ﷺ pernah ngasih bocoran alias sabda terkait ini:
"Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun, orang (atau kelompok) yang akan memperbarui urusan agamanya." (HR. Abu Dawud)
Kenapa sih kapanpun dan di manapun umat Islam butuh semangat tajdid ini?
Fungsi utamanya adalah mengembalikan cara ibadah ritual (mahdhah) kita biar 100% plek ketiplek sesuai sama Sunnah Rasulullah ﷺ tanpa tambahan aneh-aneh.
Zaman sekarang udah ada Artificial Intelligence, Crypto, bayi tabung, dll. Hukum Islam harus bisa relate dan kasih solusi buat kemajuan teknologi, ekonomi, dan sosial ini.
Biar gampang paham, cek tabel perbandingan asik ini:
| Aspek | Tarjih | Tajdid |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Menimbang dalil dan fokus pada teks agama. | Memperbarui pemahaman dan fokus pada konteks zaman. |
| Metode | Metodologi ilmiah komparatif (perbandingan). | Gerakan pembaruan dan ijtihad progresif. |
| Sifat | Memilih yang sudah ada (tapi terkuat). | Bisa menciptakan terobosan hukum baru untuk masalah kekinian. |
Dua konsep ini ibarat rem dan gas. Kalau Tarjih jalan tanpa Tajdid, hukum Islam bakal kaku, jadul, dan stagnan. Sebaliknya, kalau Tajdid jalan tanpa Tarjih, orang bisa kebablasan membuat hukum aneh-aneh karena hilang kendali dari dalil aslinya.
Untuk mengeksekusi ini, siapa yang turun tangan? Muhammadiyah secara khusus punya sebuah lembaga pemikir yang isinya para ulama dan pakar dari berbagai disiplin ilmu bernama Majelis Tarjih dan Tajdid. Mereka inilah dapur pacu yang mengkaji dan ngerilis fatwa-fatwa untuk umat.
Mereka pakai pendekatan yang komprehensif (Bayani, Burhani, dan Irfani), memadukan antara pemahaman Al-Qur'an, Sunnah yang maqbul (diterima), serta penalaran ijtihad yang logis dan maslahat.
Teori tanpa praktik itu klaim yang tidak berdasar. Bagaimana buktinya di lapangan?
Dengan manhaj ini, umat tidak cuma "katanya-katanya" kalau beragama. Beragamanya jadi lebih berbobot, ilmiah, rasional, dan bertanggung jawab.
Umat diajak dewasa. Kalau ketemu saudara muslim yang beda cara ibadahnya, kita tidak gampang ngegas atau nyalah-nyalahin, karena paham letak perbedaan dalilnya.
Tentu saja perjalanannya tidak selalu mulus.
Masyarakat kita di Indonesia punya ikatan emosional historis yang kuat dengan pandangan mazhab tertentu. Kadang, hasil putusan tarjih yang beda dari tradisi lama bisa membuat kaget dan butuh waktu buat diterima.
Jujur aja, budaya baca umat masih perlu di-upgrade. Masih banyak yang lebih suka berdebat pakai emosi di kolom komentar ketimbang baca buku metodologi hukum yang utuh.
Lalu, bagaimana kontribusi kita sebagai Muslim sehari-hari?
Jangan cepat puas! Yuk, rutinkan ikut kajian agama, baca literatur dan fatwa-fatwa terbaru, biar wawasan kita terus update.
Kita harus legowo. Menerima perbedaan dengan bijak. Kalau ada pendapat yang lebih kuat dalilnya dari apa yang kita yakini selama ini, ya kita harus siap move on mengikuti kebenaran.
Biar gampang diakses milenial dan Gen Z, produk-produk pemikiran ini udah didigitalisasi lho. Kamu bisa langsung cek fatwa terbaru lewat website resmi atau aplikasi smartphone.
👉 Referensi: https://tarjih.or.id
Di era di mana kita dibombardir ideologi transnasional dari internet, manhaj ini jadi filter pelindung. Islam yang ditampilkan adalah Islam yang berkemajuan, moderat (wasathiyah), dan tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri.
1. Apa itu Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah?
Singkatnya, ini adalah sebuah metode ilmiah untuk memilih dalil terkuat (tarjih) sekaligus memperbarui pemahaman Islam agar relevan dengan zaman (tajdid).
2. Apakah metode tarjih ini berarti menolak mazhab?
Sama sekali etidak! Muhammadiyah justru sangat menghargai pemikiran para imam mazhab. Bedanya, Muhammadiyah memposisikan mazhab sebagai referensi yang kaya, lalu memilih pendapat yang sangat kuat dalilnya, bukan terikat wafat (taqlid) pada satu mazhab saja.
3. Apa bedanya tarjih dengan ijtihad?
Gampangnya: Tarjih itu menyeleksi dan memilih dari sekumpulan pendapat ulama yang udah ada berdasarkan dalil terkuat. Kalau ijtihad itu usaha sungguh-sungguh menggali hukum baru yang sebelumnya belum pernah dirumuskan.
4. Apakah konsep tajdid berarti kita mengubah syariat agama?
Tentu tidak. Tajdid cuma berlaku di area pemahaman manusia dan urusan muamalah duniawi. Tujuannya murni mengembalikan ibadah mahdhah ke ajaran aslinya, dan mendinamisasi urusan duniawi.
5. Mengapa Muhammadiyah sangat fokus pada dua hal ini?
Jawabannya simpel: untuk menjaga kemurnian tauhid dan ibadah umat, sekaligus memastikan Islam tetap hadir sebagai pemberi solusi (solutif) bagi setiap perkembangan zaman.
6. Di mana saya bisa belajar lebih lanjut soal manhaj ini?
Kamu bisa mempelajarinya lewat buku-buku resmi Himpunan Putusan Tarjih (HPT), kajian di ranting/cabang Muhammadiyah setempat, atau langsung main ke lembaga dan website resminya.
Nah, dari obrolan panjang kita di atas, bisa ditarik kesimpulan nih kawan-kawan. Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah adalah kunci utama buat menjaga keseimbangan ber-Islam di zaman modern. Metode ini mengajarkan kita untuk:
Dengan menggabungkan kekuatan analisa Tarjih dan keberanian inovasi Tajdid, Islam benar-benar hadir sebagai agama yang kokoh prinsipnya, super fleksibel dalam penerapannya, dan selalu memberikan solusi cerdas buat kehidupan kita. Pada akhirnya, harmoni keseimbangan inilah yang bakal mewujudkan rahmatan lil 'alamin bagi umat manusia. Keren sangat, kan?