📢 Menag: Demo Beradab ala Nabi Musa, Lantas Apa Beda Sikap Firaun dengan Pemerintah Kita?
Mahasiswa dan masyarakat tengah meluapkan aspirasi di berbagai kota. Di tengah gelombang demonstrasi yang kerap menimbulkan ketegangan, **Menteri Agama Nasaruddin Umar** muncul dengan seruan yang tak biasa: tetap tunjukkan tutur kata beradab. Bukan sekadar imbauan normatif, Menag mengangkat teladan **Nabi Musa dan Harun** saat berdialog dengan Firaun, sosok penguasa yang dikenal zalim. Lalu, bagaimana sebenarnya sikap Firaun terhadap nasihat lembut para nabi? Dan yang lebih penting — adakah kemiripan atau justru perbedaan mendasar dengan cara pemerintah Indonesia sekarang merespons kritik rakyat?
Pada Senin (15/6) di Hotel Claro Makassar, Nasaruddin Umar yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyampaikan bahwa setiap aksi protes — sekencang apa pun suara hati — harus dibungkus dengan **akhlakul karimah** dan komunikasi yang santun. Ia mengutip perintah Allah kepada Musa dan Harun: *"Ucapkanlah kepadanya (Firaun) kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."* (QS. Thaha: 44). Bahkan terhadap musuh yang paling angkuh sekalipun, Islam mengajarkan etika bicara yang tidak merendahkan martabat kemanusiaan. Menurut Menag, niat baik yang diiringi cara yang kasar hanya akan menggagalkan tujuan utama reformasi.
“Bahkan kepada sosok seperti Firaun pun, bahasa santun tetap harus digunakan. Jangan sampai karena semangat membela kebenaran, kita justru kehilangan adab sebagai pembawa kebenaran itu sendiri.” — Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI.
Seruan ini mendapat beragam reaksi. Sebagian mengapresiasi karena mengingatkan pentingnya subtansi daripada amarah, sebagian lain mempertanyakan: apakah kekuasaan saat ini layak disamakan dengan rezim Firaun yang diktator? Atau justru sebaliknya — pemerintah kita sudah jauh lebih demokratis sehingga kritik pun tetap didengar? Agar tidak terjebak dalam perdebatan dangkal, mari kita telusuri dulu **bagaimana sebenarnya respons Firaun terhadap dakwah Nabi Musa**, kemudian bandingkan dengan pola relasi penguasa dan rakyat di Indonesia hari ini.
📜 Bagaimana Sikap Firaun Saat Dinasihati Nabi Musa?
Firaun bukan sekadar raja biasa; dalam narasi Al-Qur'an ia mengklaim ketuhanan, menguasai mesin propaganda, serta memiliki tentara dan para ahli sihir. Ketika Nabi Musa datang membawa mukjizat dan menyeru untuk menyembah Allah semata, Firaun tidak lantas insaf. Alih-alih, ia menunjukkan **lima pola perlawanan klasik** yang hingga kini kerap ditemui dalam dinamika kekuasaan otoriter:
- **⚔️ Ancaman Fisik & Intimidasi:** Firaun berkata, “Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, pasti akan kujadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan” (QS Asy-Syu’ara’: 29). Penjara dan hukuman mati menjadi alat membungkam suara kebenaran.
- **🎭 Adu Sihir & Tipu Daya:** Ia mengumpulkan semua pesihir handal untuk menandingi mukjizat tongkat Musa, berusaha menciptakan ilusi bahwa kebenaran bisa dikalahkan dengan trik.
- **👁️ Penolakan Meski Bukti Nyata:** Setelah menyaksikan tongkat menjadi ular besar serta tangan bercahaya, Firaun tetap kufur karena kesombongan dan takut kehilangan kekuasaan (QS Al-A’raf: 133-136).
- **🛕 Mengklaim Diri Sebagai Tuhan:** “Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi” (QS An-Nazi’at: 24). Firaun membangun kultus individu sehingga tidak ada ruang bagi kebenaran di luar dirinya.
- **🧙 Tuduhan Gila dan Sihir:** Ia menuduh Musa sebagai penyihir yang hendak memecah belah agama nenek moyang (QS Thaha: 57-58). Ini adalah teknik diskreditasi klasik: meracuni opini publik terhadap pembawa kritik.
Dari sini kita belajar: **Firaun adalah representasi penguasa yang menolak nasihat, membungkam kritik dengan kekerasan, dan memanipulasi rakyat**. Ia tidak ingin mendengar, apalagi berdialog. Bahkan ketika kebenaran terang-benderang, kesombongan dan cinta kekuasaan menutup mata hatinya. Maka tak heran jika para aktivis dan demonstran kerap mengibaratkan penindasan dengan “sikap Firauniah”. Namun, apakah potret itu otomatis melekat pada pemerintahan Indonesia saat ini? Mari kita preteli dengan jujur.
🇮🇩 Lantas, Apa Bedanya dengan Sikap Pemerintah Kita Sekarang?
Jika menarik garis paralel antara Firaun dan institusi pemerintahan Indonesia, kita harus sangat berhati-hati jangan sampai terjebak dalam simplifikasi berlebihan. Tidak ada penguasa di Indonesia yang secara eksplisit mengaku tuhan. Kita hidup dalam negara Pancasila dengan mekanisme demokrasi, pemilu berkala, kebebasan pers relatif tinggi, dan lembaga perwakilan rakyat. Namun bukan berarti tanpa catatan kritis. Pertanyaan *“lantas apa bedanya”* justru mengajak kita untuk membedakan antara **sikap struktural sistem** dan **perilaku oknum kekuasaan**.
✔️ Perbedaan fundamental: ada ruang dialog & kontrol publik
Firaun menolak habis-habisan ajakan dialog dan melabeli Musa sebagai musuh negara. Sementara di Indonesia, pemerintah dan DPR bukannya tanpa kritik. Banyak kebijakan diubah setelah tekanan massa (contoh: UU Cipta Kerja, UU ITE). Presiden dan menteri kerap menggelar pertemuan dengan perwakilan mahasiswa. Meski kadang arogansi pejabat masih terlihat, **secara sistemik, konstitusi menjamin hak menyampaikan pendapat**. Tidak ada satupun aparat yang secara terbuka berani mengklaim “aku adalah penguasa mutlak”.
⚠️ Titik rawan yang mirip: kadangkala intimidasi dan kriminalisasi muncul
Namun kita juga harus jujur: beberapa pola *“Firaunian”* masih muncul dalam bentuk lebih halus. Tuduhan “makar”, pemidanaan aktivis dengan pasal karet, serta mobilisasi aparatur hukum dan keamanan negara yang berlebihan terhadap unjuk rasa damai adalah **bayang-bayang represif** yang mengingatkan pada gaya Firaun saat membungkam lawan. Meski tidak sama brutal dengan membunuh bayi-bayi Bani Israil, praktik diskriminasi hukum dan pembungkaman opini via UU ITE menjadi noda dalam demokrasi. Perbedaannya: di era modern, masyarakat bisa melawan lewat litigasi publik, advokasi media sosial, dan tekanan internasional — sesuatu yang mustahil di zaman Firaun.
“Maka barangsiapa mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kukuh.” (QS Al-Baqarah: 256). Keberanian menolak kezaliman tetap menjadi spirit, namun dengan metode beradab sebagaimana imbauan Menag.
Kesimpulan bijak dari perbandingan ini: **Pemerintah Indonesia BUKANLAH Firaun** dalam bentuknya yang absolut dan menyembah berhala kuasa. Namun setiap pemegang kekuasaan rentan mengalami **penyakit Firaun** (kesombongan, alergi kritik, dan represi) jika tidak dikontrol etika dan kelembagaan yang kuat. Seruan Menag Nasaruddin Umar justru menjadi pengingat kepada kedua belah pihak: **penguasa agar mendengar dengan rendah hati, rakyat agar menyampaikan dengan santun penuh hikmah.** Sebab tidak ada kebaikan yang lahir dari kepala yang menunduk arogan maupun tangan yang mengacung dengan caci-maki.
📌 **Pesan akhir:** Dialog ala Nabi Musa — tegas dalam kebenaran namun lembut dalam tutur — adalah jalan tengah emas. Mari kita perkuat budaya kritik yang membangun, sekaligus mengawal agar negara tak pernah bertransformasi menjadi Firaun modern.
🧭 Refleksi: Antara Harapan dan Realita
Jika Firaun mengandalkan sihir dan ahli nujum, di era digital pemerintah dihadapkan pada algoritma media sosial dan opini publik. Sesungguhnya kelembutan Nabi Musa mengajarkan bahwa mengubah kebijakan tak perlu dengan api amarah, melainkan dengan fakta, konsistensi, dan kesabaran. Demonstrasi boleh keras volume suaranya, tetapi jangan sampai merusak adab. Menag telah memberikan pijakan moral, sekarang giliran kita semua — baik yang berkuasa maupun yang mengkritik — untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak akan menjadi peradaban yang mengulang tragedi kesombongan Fir’aun.