Menara Masjid: Dulu "Mata Iman" Melihat Lapar, Sekarang Simbol Kemewahan? 🤔

Pernah tidak sih, Bosku, pas lagi jalan-jalan atau mudik, melihat bangunan masjid yang menaranya tinggi menjulang sampai rasanya mau nyundul langit? Megah banget. Kadang dihiasi lampu warna-warni, kubahnya emas mengilap, dan ornamennya mahal luar biasa. Jujur, secara visual itu memang memanjakan mata.

Tapi, pernah tidak terbersit pertanyaan di kepala kita: "Ini menara setinggi ini, fungsinya buat apa ya di zaman sekarang?"

Ilustrasi menara masjid yang menjulang tinggi di tengah pemukiman

Tulisan ini bukan mau nyinyir atau melarang pembangunan masjid yang bagus ya. Bukan. Ini cuma ajakan buat kita duduk sebentar sambil ngopi, dan merenung tentang sejarah. Tentang pergeseran nilai. Tentang bagaimana sebuah bangunan yang dulunya lahir dari kebutuhan mendesak, kini perlahan berubah jadi sekadar ajang gengsi arsitektur.

Mari kita lihat sejarah dan realitas menara masjid ini pakai kacamata 5W+1H biar diskusinya makin terang benderang.

WHAT & WHY: Asal Usul Sang Menara

Lahir dari Keterbatasan, Bukan Keinginan

Di masa lalu—jauh sebelum Pak Thomas Alva Edison nemuin bola lampu dan teknologi amplifier ditemukan—umat Islam menghadapi tantangan teknis yang nyata: Bagaimana caranya suara adzan bisa menjangkau seluruh penduduk di satu kampung atau kota?

Rumah-rumah makin banyak, area pemukiman makin luas. Suara muadzin sekuat apapun, punya keterbatasan jangkauan. Apalagi kalau posisinya di bawah, suaranya bakal "nabrak" tembok rumah tetangga.

Nah, dari sinilah menara (minaret) lahir. Ia bukan simbol kemewahan. Ia lahir dari kebutuhan mendesak (necessity). Menara adalah solusi teknologi di zamannya. Ia dibangun agar muadzin punya posisi yang lebih tinggi. Dengan posisi tinggi, gelombang suara bisa merambat lebih jauh tanpa banyak halangan. Jadi, fungsi pertamanya murni fisika: amplifikasi suara secara alami.

Ketinggian menara kala itu adalah solusi fungsional, bukan estetika biar kelihatan gagah di foto Instagram (ya iyalah, dulu belum ada Instagram 😂).

WHO & HOW: Fungsi Sosial yang Terlupakan

Tapi tunggu dulu, ini bagian yang paling menarik dan sering bikin merinding kalau dibayangkan. Fungsi menara ternyata tidak berhenti cuma buat teriak adzan doang.

Menara Sebagai "Mata Iman" 👀

Zaman dulu, kehidupan itu keras, Bosku. Belum ada bansos yang ditransfer ke rekening, belum ada ojol yang bisa nganter makanan 24 jam. Kalau ada orang lapar, ya beneran lapar.

Di sinilah peran krusial para pengurus masjid, khususnya mereka yang diamanahi mengelola Baitulmal (kas sosial masjid). Mereka punya rutinitas yang luar biasa humanis. Di waktu-waktu tertentu, terutama saat jam makan (pagi atau sore menjelang malam), mereka akan naik ke puncak menara itu.

Ngapain? Bukan buat selfie view kota.

Mereka naik untuk memandang ke sekeliling perkampungan di bawahnya. Mata mereka bergerak awas, memperhatikan atap-atap rumah warga. Di masa ketika semua dapur masih pakai kayu bakar, ada satu tanda kehidupan yang paling jelas: asap yang mengepul dari cerobong atau dapur.

Ketika dapur menyala, tandanya ada makanan yang sedang dimasak. Ada kehidupan di rumah itu.

Mencari Keheningan yang Menyakitkan

Lalu, apa yang mereka cari? Justru kebalikannya. Mereka mencari satu hal yang bikin hati teriris: Adakah rumah yang di DAPUR MEREKA TIDAK MENGELUARKAN ASAP?

Rumah tanpa asap itu bukan untuk dicurigai sebagai tempat kriminal. Bukan. Itu adalah tanda sunyi, sinyal SOS bisu dari perut yang mungkin sedang keroncongan karena tidak ada bahan makanan untuk dimasak hari itu.

"Rumah tanpa asap adalah tanda sunyi dari perut yang mungkin lapar."

Begitu melihat ada rumah yang "dingin" tanpa asap, petugas masjid ini gak pakai lama. Mereka langsung turun. Mereka datangi rumah itu. Cara mendatanginya pun berkelas. Bukan bawa kamera terus membuat konten "sedekah brutal", bukan dengan publikasi riya'.

Mereka datang membawa bantuan makanan—beras, gandum, atau lauk pauk—dengan kepedulian yang tulus. Mereka memastikan tetangga masjid itu bisa makan hari itu. Itulah masjid yang sebenarnya. Bukan hanya tempat memanggil orang untuk sholat (habluminallah), tapi juga memastikan orang bisa bertahan hidup (habluminannas).

Menara masjid kala itu benar-benar menjadi "Mata Iman". Ia tinggi bukan untuk gagah-gagahan, tapi agar jangkauan pandangan kepeduliannya bisa melihat lebih luas penderitaan manusia di sekitarnya. Keren banget kan filosofinya?

WHEN & WHERE: Realitas Hari Ini yang Terbalik

Sekarang, mari kita tarik napas dan lihat kondisi di sekitar kita hari ini, di tahun 2026 ini. Kondisinya, sedihnya, seringkali terbalik 180 derajat.

Kita sering melihat panitia pembangunan masjid sangat bersemangat menggalang dana miliaran rupiah. Spanduk dipasang di pinggir jalan, kotak amal diedarkan di lampu merah. Targetnya? Membangun menara yang tinggi, kubah yang besar, ornamen impor dari luar negeri.

Semangatnya luar biasa, patut diacungi jempol. Tapi seringkali mereka lupa bertanya satu hal yang paling mendasar (The Fundamental Question): Apa kebutuhan riilnya saat ini?

Logika Teknologi yang Diabaikan

Secara teknis, fungsi utama menara sebagai "pengeras suara alami" sudah usang. Sudah obsolete.

Adzan hari ini sudah bisa dikumandangkan dengan teknologi speaker (toa) dan amplifier yang canggih. Jangkauannya? Jauh lebih luas dan jernih dibandingkan suara muadzin paling lantang sekalipun yang berdiri di atas menara angin-anginan. Bahkan speaker bisa ditaruh di tiang besi biasa yang biayanya jauh lebih murah daripada membangun struktur beton bertulang setinggi 50 meter.

Kalau fungsi utama menara sudah bisa diwakilkan oleh perangkat elektronik yang jauh lebih efisien dan hemat biaya, pertanyaan kritisnya muncul: Mengapa anggaran miliaran rupiah tetap dihabiskan untuk membangun menara beton itu?

Pertanyaan-Pertanyaan yang Mengganggu Nurani

Ini pertanyaan buat kita semua, sebagai otokritik umat. Kalau ada dana umat terkumpul ratusan juta, bahkan miliaran:

Masalahnya di sini bukan soal hukum fikih boleh atau tidak boleh membangun menara. Tentu saja boleh. Masalah utamanya adalah cara berpikir (mindset) dan skala prioritas.

THE CORE PROBLEM: Pergeseran dari Fungsi ke Gengsi

Inilah bahayanya ketika kita membangun fisik tapi melupakan ruhnya. Ketika menara dibangun karena motif gengsi, karena ingin terlihat lebih megah dari masjid kampung sebelah, karena ingin "kalahkan masjid di jalan protokol sana".

Saat itulah, disadari atau tidak, masjid mulai bergeser fungsinya. Dari pusat peradaban dan solusi umat, menjadi sekadar pajangan arsitektur atau monumen kebanggaan kelompok tertentu.

Padahal, masjid itu pusat ibadah. Dan kita semua tahu, ibadah dalam Islam itu spektrumnya luas sekali. Bukan hanya gerakan rukuk dan sujud di atas sajadah empuk ber-AC. Ibadah juga berarti menolong yang lemah, menguatkan yang jatuh, dan menghidupkan harapan manusia yang sedang putus asa.

Kembali ke Khittah Masjid

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kita perlu melakukan reorientasi, meluruskan kembali arah kiblat pengelolaan masjid kita. dalam.web.id/peradaban-materialistik-vs-peradaban-masjid

Kesimpulan: Masjid yang Hidup

Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam-dalam di hati kita. Masjid yang benar-benar "megah" di mata Allah dan manusia bukanlah yang menaranya menjulang paling tinggi menusuk langit.

Masjid yang sejati adalah yang manfaatnya menjalar luas ke bumi, merangkul mereka yang membutuhkan, dan menjadi mata air solusi di tengah gersangnya masalah kehidupan.

Kalau anggaran masjid habis untuk beton dan ornamen, sementara tetangganya masih ada yang tidur menahan lapar, maka percayalah, ada yang salah dengan arah pengelolaannya.

Ingat ya Bosku, masjid bukan museum untuk dikagumi benda matinya. Masjid bukan monumen untuk gagah-gagahan. Masjid adalah tempat iman bekerja secara nyata. Dan iman yang hidup, selalu berpihak pada kebutuhan riil manusia—bukan sekadar pada keindahan bangunan yang bisu.

Semoga masjid-masjid kita kembali menemukan "Mata Iman"-nya yang mungkin sempat rabun karena silau oleh kemegahan duniawi. Aamiin.

Bagaimana pendapatmu, Bosku? Apakah di daerahmu ada juga masjid yang berlomba membangun menara tinggi?