Assalamu'alaikum teman-teman pembaca! Pernah dengar istilah "Kemajon"? Kedengarannya mirip "Kemajuan" ya, tapi artinya beda jauh lho. Kalau kemajuan itu hal positif, kemajon justru sebuah peringatan keras buat kita semua. mari, kita obrolin santai tapi dalam tentang fenomena ini. 👇

Apa Itu Kemajon? (WHAT)
Kemajon adalah kosa kata bahasa Jawa (sering digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang berasal dari kata dasar maju, namun mendapat awalan ke- dan akhiran -on. Dalam kamus rasa masyarakat, Kemajon itu melampaui kepatutan.
Sederhananya, kemajon bisa dimaknai sebagai "keminter" atau merasa paling pinter. Ini bukan soal kecerdasan IQ, tapi soal norma atau adab. Orang yang kemajon biasanya merasa "paling" dan menganggap orang lain penuh kekurangan. Mereka bertindak terlalu agresif, terburu-buru, atau bahkan melangkahi wewenang tanpa perhitungan yang matang.
Kenapa Ini Berbahaya? (WHY)
Kenapa sih kita harus waspada sama sifat kemajon ini? Karena lawan dari kemajon adalah rendah hati (tawadhu’) atau andhap ashor. Orang pintar memang kerap berbeda, bahkan ada indikasi melawan kemapanan. Namun, ada bahaya laten yang mengintai: Kesombongan.
, HR. Muslim no. 91
Merasa diri paling pintar seringkali membuat seseorang meremehkan pendapat orang lain. Inilah pintu masuk kesombongan yang bisa merusak amal ibadah kita. Kemajon membuat kita melupakan langkah-langkah yang seharusnya dan hanya mengikuti nafsu semata.
Siapa Saja yang Bisa Terjangkit? (WHO)
Fenomena ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari tokoh masyarakat, intelektual, hingga kita yang mungkin baru belajar satu-dua hal baru. Seringkali, semakin berisi seseorang, dia harusnya makin menunduk seperti filosofi padi. Tapi bagi yang kemajon, mereka justru makin mendongak dan lupa berpijak di bumi.
Di Mana Letak Solusinya? (WHERE)
Solusinya ada pada Adab dan Pengendalian Diri.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi).
Kita perlu mengembalikan setiap keputusan kepada Allah SWT. Jangan sampai ilmu yang kita miliki malah menjadi "tuhan" baru yang membuat kita merasa bisa menentukan segalanya secara penting.
Kapan Kita Harus Berhenti? (WHEN)
Sekarang juga! Terutama saat kita mulai merasa berpotensi akan sesuatu di masa depan. Kita diingatkan untuk selalu menyandarkan rencana pada kalimat Insya Allah.
- Insya Allah besok puasa Ramadhan.
- Insya Allah tahun ini saya pergi haji.
- Insya Allah besok lusa hari raya Idul Fitri.
Bagaimana Akibatnya Jika Melupa? (HOW)
Memastikan sesuatu secara mutlak adalah bentuk kesombongan yang nyata, bahkan bisa dimaknai menafikan Gusti Allah. Ingat kisah Nabi Sulaiman AS? Beliau pernah gagal dalam rencananya memiliki 100 anak yang gagah berani hanya karena lupa mengucapkan Insya Allah.
Allah mematahkan semua rencana tersebut dan membuatnya tidak berdaya selama 40 hari di atas kursinya, sampai akhirnya beliau bertaubat memohon ampun. Jika seorang Nabi saja ditegur, apalagi kita manusia biasa?
Jadi, mari kita jaga hati. Pintar itu harus, tapi adab tetap nomor satu. Jangan sampai kita menuju "Islam Kemajon" yang merasa paling tahu segalanya, padahal ilmu kita hanyalah setetes air di tengah samudra luas milik Allah.