Mitos Angka 13 dan Visi Tajdid Muhammadiyah Berkemajuan
Suatu sore yang cukup santai, pandangan saya tertuju pada sebuah gambar yang beredar di media sosial. Gambar tersebut menampilkan sebuah gedung megah berlabel amal usaha Muhammadiyah yang menjulang kokoh hingga lantai ke-13. Hal yang membuat gambar itu menarik bukanlah arsitekturnya semata, melainkan sebuah percakapan sederhana yang menyertainya.
Seseorang bertanya dengan nada penasaran, "Mengapa Muhammadiyah berani membangun gedung sampai lantai 13? Padahal, menurut keyakinan banyak orang, angka 13 itu kerap dianggap membawa kesialan." Jawaban yang tertera di sana sangat singkat namun memiliki kedalaman tauhid yang luar biasa: "Yang membuat sial bukan angka. Rasulullah SAW bersabda, tidak ada tathayyur (anggapan sial)."

Ilustrasi kemajuan pembangunan yang tak lagi terbelenggu oleh mitos dan takhayul angka.
Belenggu Ketakutan Tak Berdasar
Saya tersenyum membacanya. Senyum ini muncul bukan karena angka 13 itu memiliki keistimewaan magis, melainkan karena ilustrasi tersebut menyentil keras sebuah persoalan klasik. Sejak zaman dahulu hingga era modern ini, umat manusia selalu dihadapkan pada kecenderungan irasional: menghubungkan nasib, rezeki, dan masa depan dengan sesuatu yang sejatinya tidak memiliki kekuatan apa pun.
Lihat saja di sekeliling kita. Masih ada orang yang panik ketika melihat angka tertentu. Ada yang menghindari bepergian di hari-hari yang dianggap nahas. Ada yang menunda penandatanganan kontrak kerja atau pernikahan karena tanggal tersebut katanya "kurang baik". Bahkan, yang lebih menyedihkan, ada pihak-pihak yang cenderung mengandalkan metode spekulatif non-sains atau penafsiran tradisional dibandingkan dengan peninjauan kompetensi serta ikhtiar objektif, dan doa yang mereka panjatkan sendiri kepada Sang Pencipta.
Padahal, kehadiran Islam justru untuk membebaskan akal dan jiwa manusia dari belenggu ketakutan semacam itu. Konsep tauhid mengajarkan secara tegas bahwa tidak ada satu makhluk atau entitas pun yang mampu mendatangkan manfaat atau mudarat kecuali atas izin Allah SWT. Angka tidak bisa mengubah takdir yang telah tertulis. Hari tidak bisa menentukan nasib. Tanggal kalender tidak memiliki daya magis untuk mendatangkan keberuntungan ataupun kesialan bagi siapa pun.
Gerakan Tajdid yang Membebaskan
Sejak awal didirikan, Muhammadiyah telah memposisikan dirinya sebagai gerakan tajdid (pembaruan). Tujuannya sangat gamblang: berusaha memurnikan akidah umat dari kotoran takhayul, bid'ah, dan khurafat, sekaligus memacu roda peradaban untuk terus maju. KH Ahmad Dahlan, sang pendiri, menanamkan ajaran bahwa keimanan yang kokoh harus selalu berjalan beriringan dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan.
Agama tidak boleh lagi dijadikan alibi untuk melestarikan takhayul masa lalu. Sebaliknya, agama harus menjadi sumber pencerahan abadi yang membebaskan manusia dari kubangan kebodohan dan ketertinggalan.
Oleh karena itu, dalam kacamata Muhammadiyah, tidak ada kamusnya hari sial, tanggal sial, bulan sial, apalagi angka sial. Semua hari adalah anugerah dan ciptaan Allah yang suci. Semua waktu merupakan amanah yang harus diisi secara maksimal dengan karya dan amal terbaik. Yang menentukan kesuksesan bukanlah angka dan simbol mistis, melainkan kualitas ikhtiar, kekhusyukan doa, serta pada akhirnya, pertolongan dari Allah SWT.
Mitos yang Runtuh oleh Amal Usaha
Hal yang paling menarik dari prinsip anti-takhayul ini adalah ia tidak sekadar menjadi jargon ceramah di atas mimbar atau wacana di atas kertas. Muhammadiyah mempraktikkannya secara konkret dalam denyut kehidupan organisasi dan amal usahanya di seluruh Indonesia.
Mari kita lihat buktinya. Di Surabaya, berdiri gagah At-Tauhid Tower milik Universitas Muhammadiyah Surabaya yang diresmikan pada tahun 2018 sebagai representasi kemajuan pendidikan tinggi yang religius dan modern. Di Semarang, menjulang Ibrahim Tower yang menjadi bagian integral dari pengembangan RS Roemani Muhammadiyah, yang diresmikan pada tanggal 20 Mei 2026 sebagai manifestasi komitmen layanan kesehatan kelas atas. Kemudian di Purwokerto, hadir President Tower Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yang kini menjadi ikon prestisius perguruan tinggi di kawasan tersebut.
Gedung-gedung belasan lantai itu tidak dibangun dan dirancang berdasarkan keyakinan pada deretan angka pembawa hoki atau penangkal sial. Fondasi mereka adalah kalkulasi teknik sipil yang terukur, perencanaan yang matang, dedikasi ilmu pengetahuan, profesionalitas para pekerja, semangat kerja keras pantang menyerah, dan puncak tawakalnya hanya ditujukan kepada Allah SWT.
Angka 13 dan Tradisi Kepemimpinan
Lebih unik lagi, bila kita membedah tradisi kepemimpinan di internal Muhammadiyah, angka 13 justru menjadi figur yang sangat familiar dan esensial. Dalam setiap hajatan besar seperti Muktamar Muhammadiyah di tingkat nasional maupun Musyawarah Wilayah (Musywil) di tingkat provinsi, forum selalu memilih tepat 13 anggota pimpinan. Ketiga belas orang inilah yang kemudian bermusyawarah secara kolektif kolegial untuk menentukan sosok ketua umum dan merumuskan pembagian tugas strategis lainnya.
Selama lebih dari satu abad kiprah Muhammadiyah di bumi Nusantara, mekanisme 13 pimpinan ini sama sekali tidak membawa petaka. Justru sebaliknya, rahim organisasi ini telah melahirkan ribuan pemimpin tangguh, ulama karismatik, cendekiawan brilian, pendidik tulus, pengusaha sukses, hingga tokoh-tokoh besar yang jasa dan pemikirannya mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.
Fakta sejarah ini menjadi pengingat yang sangat kuat: angka 13 bukanlah tembok penghalang kemajuan. Ia hanya sebuah instrumen administratif. Keberhasilan suatu institusi tidak ditentukan oleh angka keramat, melainkan oleh kebersihan niat dan kualitas sumber daya manusia yang memikul amanah tersebut.
Kemuliaan yang Sejati
Dalam ajaran Islam, parameter kemuliaan seorang manusia sudah dipatok sangat jelas. Kemuliaan tidak bisa dibeli dengan tanggal lahir yang cantik, rasi bintang, zodiak, nasab suku, gelar kebangsawanan, tingginya jabatan, maupun tumpukan kekayaan. Allah SWT menegaskan:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat yang secara kebetulan berada di nomor 13 ini menampar kesadaran kita: tidak ada tiket VVIP otomatis untuk menjadi mulia hanya karena lahir di hari baik. Kemuliaan murni ditempa dari ketakwaan yang sunyi, ilmu yang diamalkan, akhlak yang menyejukkan, serta seberapa besar manfaat eksistensi kita bagi sesama makhluk di bumi.
Prinsip ini juga berlaku untuk skala yang lebih luas. Bangsa Indonesia belum tentu maju hanya karena kita sibuk mengutak-atik tanggal cantik untuk peresmian proyek atau paranoid menghindari angka-angka yang dianggap sial. Kemajuan peradaban sebuah bangsa baru akan terwujud jika rakyatnya teredukasi, para pemimpinnya teguh menjaga amanah, aparat penegak hukumnya adil tanpa pandang bulu, para pendidiknya mengajar dengan nurani, dan masyarakatnya memiliki etos kerja yang tinggi serta disiplin bajam. Inovasi lahir dari laboratorium dan diskusi ilmiah, bukan dari instrumen ritual tradisional.
Wajah Muhammadiyah Berkemajuan
Inilah potret sejati dari Muhammadiyah Berkemajuan. Ia adalah gerbong raksasa yang tak pernah lelah mengajak umat untuk bermigrasi dari tahayul menuju tauhid murni, dari mitos usang menuju terang ilmu pengetahuan, dan dari ketakutan-ketakutan irasional menuju optimisme kerja nyata yang terukur.
Dari pola pikir progresif semacam inilah, kita bisa menyaksikan lahirnya ribuan sekolah yang mendidik tunas bangsa, ratusan perguruan tinggi, jaringan rumah sakit yang canggih, panti asuhan yang mengayomi, serta beragam karya kemanusiaan yang asas manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat melintas batas suku dan agama.
Oleh karena itu, jangan pernah biarkan takhayul membungkam tauhid kita. Jangan biarkan mitos menelikung nalar sehat dan ilmu pengetahuan. Sebab pada akhirnya, angka hanyalah sebuah konstruksi matematis, hari hanyalah perputaran bumi pada porosnya, dan tanggal tak lebih dari sekadar penanda waktu di atas kalender.
Di pusaran zaman yang berubah dengan kecepatan eksponensial ini, Muhammadiyah terus hadir menancapkan pengingat: bahwa kemajuan tak lahir dari mantra ramalan, melainkan dari meja-meja pendidikan. Bahwa kejayaan tak lahir dari rasa takut terhadap simbol, melainkan dari keyakinan tauhid yang memercikkan keberanian untuk terus berinovasi dan berkontribusi.
Dengan menjadikan tauhid sebagai cahaya, ilmu sebagai peta jalan, dan amal konkret sebagai pembuktian, kita semua diajak untuk berjalan bersama, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan semesta ini bercahaya dalam harmoni dan kolaborasi yang sinergis.