Mendobrak Mitos Angka 13: Pesan Tauhid di Balik Megahnya Ibrahim Tower Muhammadiyah 🏢
Pernah perhatikan tombol lift waktu main ke mall atau gedung perkantoran? Sadar atau tidak, banyak bangunan bertingkat punya "alergi" kronis sama angka-angka tertentu. Contoh mitos tahayul yang sampai detik ini masih banyak dipercayai: lantai 4 sering disamarkan jadi lantai 3A, lantai 13 mendadak lenyap diganti 12A, bahkan nomor kamar atau rumah 174 banyak sekali dihindari. Katanya sih bawa sial. Padahal ya, yang bikin sial itu dompet kosong pas akhir bulan, bukan angka di tembok 🤣.

Di saat banyak pihak korporat dan arsitek berkompromi dengan mitos tersebut, Muhammadiyah justru mengambil sikap sebaliknya. Secara konsisten dan sadar, organisasi Islam terbesar ini malah berulang kali membangun menara dengan ketinggian pas 13 lantai. Mulai dari Presiden Tower, At-Tauhid Tower, hingga yang terbaru dan paling fresh: Ibrahim Tower di kompleks Rumah Sakit (RS) Roemani, Semarang, Jawa Tengah.
Peresmian Ibrahim Tower: Monumen Runtuhnya Takhayul
Tepat pada tanggal 20 Mei 2026, kemegahan Ibrahim Tower resmi beroperasi. Gedung pencakar langit medis ini tidak hanya menawarkan fasilitas kesehatan super modern, tetapi juga memuat pesan ideologis yang sangat kuat. Penentuan jumlah 13 lantai ini bukanlah sebuah kebetulan semata atau error saat membaca blueprint arsitektur.
Muhammadiyah secara simbolis mendobrak mitos angka 13 yang selama ini lekat dengan takhayul, sekaligus menegaskan kekuatan tauhid dan kemajuan sains di tengah masyarakat. Bagi organisasi ini, memelihara ketakutan pada suatu angka adalah bentuk nyata dari pengikisan terhadap nilai Tauhid. Kalau ngaku beriman, masa masih takut sama angka 13?
"Dari jantung Kota Semarang, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemajuan tidak dibangun dengan mitos, melainkan dengan ilmu, tauhid, dan kerja nyata." — Pungkas jajaran pimpinan dengan optimis.
Melanjutkan Spirit Ahmad Dahlan Melawan TBC
Langkah out of the box ini sebenarnya adalah napas panjang dari perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah punya komitmen kuat melawan yang namanya TBC (Tahayul, Bid'ah, dan Churafat). Spirit itu rupanya masih sangat menyala hingga abad ke-21 ini.
Coba dipikir pakai logika murni: kalau ada yang percaya takhayul atau tatayyur (merasa bernasib sial karena sesuatu), dan menganggapnya begitu penting hingga dipraktikkan, maka harus ada pihak lain yang jauh lebih kuat untuk meluruskannya. Tidak bisa cuma diam atau merasa sungkan untuk mencampuri urusan orang lain. Menegakkan tauhid berarti berani menyingkirkan budaya mistis yang bikin otak jadi mandek (kejumudan berpikir).
Fakta Menarik di Balik Gedung 13 Lantai Ini:
- Edukasi Kultural: Lagi-lagi Muhammadiyah sukses meluruskan hal-hal yang jadi mitos di masyarakat. Ini adalah bentuk nyata mencerdaskan bangsa.
- Fungsi Kemanusiaan: Wajah baru RS Roemani ini siap beroperasi penuh untuk berusaha Ikhtiar memberikan senyuman dan kesembuhan bagi ribuan pasien, bukan memberikan malapetaka seperti mitos yang beredar.
- Kemandirian Umat: Ibrahim Tower adalah bukti bahwa solidaritas sosial dan kemandirian umat Islam makin kokoh menjulang tinggi.
Kemajuan Berpijak pada Sains, Bukan Cerita Burung
Kehadiran menara medis ini berhasil membuktikan secara telak bahwa angka 13 tidak membawa kesialan. Buktinya? Gedungnya berdiri megah, pasien-pasien tertangani dengan baik, operasional rumah sakit berjalan lancar, dan keberkahan serta manfaat luas bagi masyarakat justru makin terasa.
Dari jantung Kota Semarang, organisasi berlambang matahari ini sekali lagi mendiktekan kepada publik mengenai esensi peradaban yang maju. Peradaban yang hebat tidak pernah tegak berdiri di atas fondasi cerita mitos atau ketakutan tak beralasan. Ia dibangun melalui riset, penguasaan ilmu, penguatan akidah tauhid, dan tentu saja, kerja nyata yang tak kenal lelah.
Jadi, kalau kebetulan sobat sedang cari rumah sakit di Semarang dan masuk ke Ibrahim Tower RS Roemani, tekan saja tombol lift angka 13 dengan santuy. Karena di dalam Islam, tidak ada ruang untuk angka sial. Yang ada hanyalah ruang untuk tauhid, ilmu, dan ikhtiar tiada henti.
Oleh: Frijal (Penulis di Layar Kosong & Pengamat Isu Sosial dari Balikpapan), 1 Juni 2026, Referensi Materi: Publikasi Peresmian RS Roemani Muhammadiyah Semarang (21 Mei 2026).