Keanehan yang Membingungkan

Pernahkah kamu mendengar sesuatu yang rasanya sangat aneh, seolah-olah bertolak belakang, tapi anehnya... setelah diselami lebih dalam, justru memancarkan kedalaman pemikiran yang luar biasa? Itulah benturan kognitif yang aku rasakan saat pertama kali mencoba menguliti sikap dan alur pemikiran Muhammadiyah generasi awal.

Organisasi Islam raksasa yang digawangi oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 ini memang menyimpan karakteristik unik. Pada impresi pertama, sikap para pendahulunya kerap terlihat membingungkan, kontradiktif, dan seolah tidak punya pendirian tetap.

Ilustrasi dokumentasi dan tokoh Muhammadiyah generasi awal
Sintesis teologis Muhammadiyah generasi awal sering disalahpahami.

"Di satu tempat mengajarkan sifat 20 bagi Allah dan menegaskan Asy'ariyyah sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa'ah, tapi di tempat lain mengajarkan Tauhidur Rububiyyah beserta Tauhidul Uluhiyyah dan gerakan pemurnian yang muncul dari rumah Hanabilah."

Coba pikirkan, sikap di atas terasa sangat absurd, bukan? Bagaimana mungkin seorang alim bisa mengajarkan pakem teologi Asy'ariyyah (yang kental dengan metode ta'wil dan tafwidh), tapi di napas yang sama juga merangkul ajaran dari kubu yang terkenal paling vokal menolak *ta'wil?

Jujur, dulu aku sangat pusing dengan fakta ini. Ketika membolak-balik lembaran buku karya Buya Hamka, Kiai Djarnawi Hadikusumo, dan dokumentasi ajaran KH Ahmad Dahlan, yang kulihat hanyalah inkonsistensi teologis. Namun, begitu aku memetakan fase sejarah dan menengok latar belakang sosial saat Muhammadiyah dilahirkan, mataku terbuka lebar. Apa yang dulu kuanggap sebagai "ketidakkonsistenan" ternyata adalah sebuah manuver cerdas, jalan tengah (wasathiyyah), dan rumusan super visioner!

Apa yang Membuat Muhammadiyah Generasi Awal Terlihat Aneh?

Untuk mengurai keanehan ini, kita harus meletakkan diri di era awal abad ke-20. Pada masa kolonial itu, peta intelektual dunia Islam sedang terbelah parah menjadi dua kubu raksasa yang saling berbenturan.

Dua Kutub Teologi yang Bersaing Ketat

1. Kutub Tradisionalisme (Asy'ariyyah-Syafi'iyyah-Ghazaliyyah)

Kubu ini mewakili mayoritas mutlak ulama Nusantara. Mereka berpegang teguh pada mazhab akidah Asy'ariyyah, mazhab fikih Syafi'iyyah, dan bertasawuf ala Imam al-Ghazali. Ajaran inti mereka meliputi:

  • Keyakinan bahwa Kalam Allah itu tanpa huruf dan suara.
  • Doktrin wajibnya menghafal Sifat 20 bagi Allah.
  • Penerapan Ta'wil (interpretasi kiasan) terhadap sifat-sifat Allah yang terkesan antropomorfis.
  • Penggunaan Tafwidh (menyerahkan hakikat makna murni kepada Allah).
  • Sikap yang sangat longgar dan toleran terhadap berbagai praktik tasawuf serta ritual ziarah kubur.

2. Kutub Reformisme (Salafiyyah)

Kubu kedua adalah gelombang reformasi pemurnian Islam yang ditiupkan dari semenanjung Arab. Mereka membawa jargon kembali ke akar murni dengan ajaran:

  • Penerapan Ithbat (menetapkan sifat Allah persis seperti teks aslinya tanpa modifikasi).
  • Pemurnian penting dengan rujukan tunggal Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Genderang perang melawan tawassul terlarang dan ritual kuburan yang dilabeli sebagai kesyirikan.
  • Penolakan mentah-mentah terhadap praktik ta'wil.
  • Penggolongan ketat Tri-Tauhid: Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma' wa Shifat.

Lalu, apa yang aneh dari Muhammadiyah generasi awal? Jawabannya: mereka nekat mengambil dan meramu elemen-elemen dari kedua kubu yang bermusuhan tersebut secara bersamaan!

"Bagi penelaah yang memerlukan perluasan referensi sejarah, pendekatan ini berpotensi disalahpahami sebagai langkah pragmatis. Namun bagi penelaah sejarah yang jeli, ini adalah sintesis maha karya yang sukses mendobrak tembok dikotomi kaku antara tradisionalisme dan reformisme."

Siapa Saja Arsitek Utama Muhammadiyah Generasi Awal?

Kehebatan formula ini tentu tidak lepas dari racikan tangan dingin para pendirinya. Mereka bukan sekadar ulama yang cerdas menyusun dalil, tapi figur pemberani yang siap dibenci karena memilih jalan tak populer.

KH Ahmad Dahlan (1868-1923): Sang Pelopor Sintesis

Lahir dengan nama Muhammad Darwis di Kauman, Yogyakarta, beliau adalah anak khatib Masjid Gedhe. Uniknya, beliau awalnya tumbuh besar sebagai seorang Asy'ari-Syafi'i tulen. Perubahan mindset beliau terjadi ketika menimba ilmu di Makkah (yang saat itu masih di bawah naungan Ottoman). Di sanalah beliau melahap pemikiran reformis modern dari jurnal Al-'Urwatul Wutsqa dan Al-Manar. Pandangan beliau terbuka lebar; dari yang awalnya hanya mengaji kitab pesantren lokal, mulai merambah ke teks-teks tajam karya Ibnu Taimiyyah.

Buya HAMKA (1908-1981): Sang Penerjemah Visioner

Siapa yang tak kenal ulama kharismatik asal Minangkabau ini? Di dalam adikaryanya, Tafsir Al-Azhar*, Buya HAMKA memperlihatkan akrobatik teologis yang menawan. Di satu sisi beliau tak ragu melakukan *ta'wil terhadap ayat mutasyabihat layaknya ulama Asy'ariyyah, namun di lembar lainnya beliau lantang menolaknya dan memilih jalur ithbat ala Ibnu Taimiyyah. Beliau mengajarkan Sifat 20, tapi juga mendakwahkan Tauhid Uluhiyyah.

Kiai Djarnawi Hadikusumo & Kiai Raden Haji Hadjid

Kiai Djarnawi adalah benteng teologi Muhammadiyah yang dengan tegas menetapkan Imam Al-Asy'ari sebagai pilar Ahlussunnah wal Jamaah*, sembari di saat yang sama mendukung penuh gerakan pemurnian Muhammad bin Abdul Wahhab. Sementara itu, Kiai Hadjid (murid kesayangan KH Ahmad Dahlan) adalah sang dokumentator. Lewat catatan beliaulah kita tahu bahwa Dahlan rutin mengaji kitab tasawuf *Al-Hikam bergantian dengan kitab tauhid Fathul Majid.

Kapan Masa Evolusi Pemikiran Ini Terjadi?

Rumusan seindah ini tidak lahir semalam. KH Ahmad Dahlan melewati tiga fase evolusi intelektual yang cukup ekstrem di masa hidupnya:

1. Fase Tradisional Konservatif (1868-1890an)

Di usia muda, beliau tak ubahnya santri Nusantara pada umumnya. Menghafal matan kitab kuning, berpegang pada Asy'ariyyah-Syafi'iyyah, tanpa ada setitik pun percikan ide reformasi.

2. Fase Guncangan Reformisme (1890an-1910)

Guncangan itu datang dari majalah Al-Manar cetakan Mesir. Rasyid Ridha (editor majalah tersebut) sangat agresif mengampanyekan gerakan anti-TBC (Takhayul, Bid'ah, Khurafat). Ide purifikasi yang garang ini merasuk kuat ke dalam nalar Dahlan.

3. Fase Puncak Sintesis Terbuka (1910-1923)

Inilah era di mana Muhammadiyah berdiri. KH Ahmad Dahlan tak lagi terkungkung pada ego satu mazhab. Beliau meramu ulang semuanya: mengambil kekuatan logika Asy'ariyyah, digabungkan dengan agresi pemurnian Salafiyyah, dan dicampur dengan fleksibilitas fikih lintas mazhab.

Di Mana Titik Didih Geografis Pemikiran Ini?

Pola pikir unik ini ditempa kuat oleh percampuran dua kutub dunia:

Yogyakarta: Kawah Candradimuka

Sebagai episentrum kebudayaan Jawa yang kental dengan mistisisme lokal, Yogyakarta adalah saksi bisu kegetiran Dahlan melihat umat Islam terbenam dalam khurafat, sementara di sisi lain mulai tertinggal oleh pendidikan sekuler Belanda. Muhammadiyah lahir persis di persimpangan jalan ini.

Makkah: Cawan Peleburan Mazhab

Makkah di bawah Kesultanan Ottoman adalah panggung interaksi ulama sejagat. Meski didominasi mazhab resmi, lalu lintas pemikiran bawah tanah reformis dari Mesir dan Suriah mengalir deras ke sana, tempat di mana Dahlan muda menyerap semua literatur tanpa sekat.

Mengapa Mereka Nekat Mengambil Sikap Jalan Tengah?

Lalu, mengapa tidak memihak satu kubu saja agar urusan lebih simpel? Jawabannya menunjukkan kedewasaan dan tingkat IQ para pelopor Muhammadiyah:

  • Mengerem Ekstremisme Teologis: Mereka sadar, tradisionalisme yang kaku melahirkan kelumpuhan berpikir (taklid buta). Sedangkan reformisme radikal berisiko mencabik-cabik ukhuwah dan membuang kekayaan literatur salaf yang berharga berabad-abad.
  • Jembatan Penghubung Umat: Dunia Islam awal abad ke-20 sedang pecah kongsi. Muhammadiyah tampil bukan sebagai provokator, melainkan arena kompromi agar energi umat tidak habis untuk debat furu'iyyah (cabang agama), melainkan fokus membangun rumah sakit dan sekolah.
  • Substansi di Atas Formalitas Label: Bagi Dahlan, kebenaran tidak diukur dari sampul mazhab kitabnya. Jika kitab Bidayatul Hidayah (Ghazali) bermanfaat, ambil. Jika Fathul Majid (Salafi) relevan, pelajari!
  • Perisai Diplomasi: Dengan tetap merangkul doktrin Sifat 20 Asy'ariyyah, Muhammadiyah selamat dari stempel "aliran sesat" oleh mayoritas masyarakat Nusantara. Sebuah perisai politis yang amat lihai.
Kesimpulan Akhir: Mempertahankan Kehebatan Sang Jalan Tengah

Hari ini, sayangnya, banyak kader yang melupakan sejarah teologi mereka sendiri. Tekanan publik modern memaksa Muhammadiyah untuk merapat entah murni menjadi Salafi, atau murni kembali menjadi Asy'ariyyah tradisional. Polarisasi internal ini terjadi karena putusnya mata rantai bacaan sejarah.

Ingatlah kembali warisan brilian ini: Muhammadiyah awal bukanlah Salafi murni ala Jazirah Arab, namun juga bukan sekadar penjiplak Asy'ariyyah Nusantara. Mereka adalah entitas mandiri yang sukses mengekstrak sari pati terbaik dari kedua dunia.

Tugas generasi saat ini bukanlah mempertengkarkan dari kubu mana kita berasal, melainkan merawat formula keberanian intelektual tersebut. Kita harus tetap fokus pada substansi, tidak terjebak fanatisme label, dan terus menghidupkan ijtihad yang bertanggung jawab agar Islam terus membumi tanpa harus kehilangan muruahnya.

Referensi Pustaka

Rujukan literatur teologis dan historis tulisan ini diadaptasi dari manuskrip otentik ulama Nusantara:

  1. Djarnawi Hadikusuma, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Bid'ah Khurafat (1996) & Aliran Pembaruan Islam (2014)
  2. KRH Hadjid, Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan: 7 Falsafah Dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur'an (2013)
  3. Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar & Perkembangan Dan Pemurnian Tasawuf (2016)

Artikel oleh: Tim Redaksi Telaah Sejarah Islam

Diperbarui pada: 30 Mei 2026

Ulasan kritis historis ini disajikan berdasarkan pembacaan ulang terhadap karya-karya klasik tokoh pembaharu Nusantara (KRH Hadjid, Kiai Djarnawi, dan Buya Hamka) untuk merekonstruksi kembali landasan epistemologi wasathiyyah (jalan tengah) yang digagas pada era formatif Muhammadiyah.