Muhammadiyah dan Polemik Identitas: Antara Pembelaan dan Pengubahan

Lucu juga melihat sebagian orang yang tiba-tiba mengaku paling cinta Muhammadiyah. Di media sosial mereka sibuk mengaku membela Muhammadiyah, mengaku menjaga marwah Muhammadiyah, bahkan mengaku paling paham sejarah Muhammadiyah. Tapi ketika diajak kembali kepada keputusan-keputusan resmi Muhammadiyah, justru mereka gelisah. Mengapa? Karena yang sebenarnya mereka inginkan bukan membela Muhammadiyah, melainkan mengubah Muhammadiyah agar mengikuti tradisi yang sejak awal memang tidak menjadi manhajnya.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru, tapi belakangan semakin terlihat di ruang publik digital. Ada sekelompok orang yang dengan lantang menyuarakan kecintaan mereka kepada Muhammadiyah, namun narasi yang mereka bangun justru bertentangan dengan keputusan-keputusan resmi organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad. Mereka seolah-olah ingin "menyelamatkan" Muhammadiyah dari keterpurukan, tapi yang mereka tawarkan adalah jalan keluar yang mengarah pada pengaburan identitas.

Pertanyaan yang perlu diajukan: Apakah membela Muhammadiyah berarti mempertahankan keputusan-keputusan Tarjih yang telah disepakati? Atau justru membela Muhammadiyah berarti membuka pintu bagi segala macam tradisi, meskipun itu bukan bagian dari manhaj organisasi? Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pembelaan sejati dan pembelaan semu.

Ilustrasi simbol Muhammadiyah dengan latar belakang masjid, melambangkan identitas organisasi yang telah terbentuk selama lebih dari satu abadMuhammadiyah berdiri dengan identitas yang jelas. Menjaganya adalah bentuk cinta yang sejati.

Gambar di atas mengingatkan kita pada simbol-simbol kebesaran Muhammadiyah yang telah mendarah daging di masyarakat. Namun, di balik simbol itu, ada perjuangan panjang untuk mempertahankan prinsip. Dan sekarang, prinsip itu kembali diuji oleh mereka yang mengaku sebagai "pembela".

πŸ“– Manhaj Tarjih: Identitas yang Tak Bisa Ditawar

Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 memiliki misi pemurnian Islam. Gerakan ini mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang sesuai dengan manhaj Tarjih. Inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan organisasi Islam lainnya. Bukan karena mereka menolak tradisi, tetapi karena mereka memilih untuk memegang teguh pedoman yang telah ditetapkan melalui mekanisme organisasi yang ilmiah.

Himpunan Putusan Tarjih adalah hasil dari proses ijtihad kolektif yang melibatkan ulama-ulama terbaik Muhammadiyah. Keputusan-keputusan ini tidak dibuat secara serampangan, tetapi melalui kajian mendalam terhadap dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah, serta mempertimbangkan maslahat umat. Oleh karena itu, mengabaikan atau bahkan menentang keputusan Tarjih sama saja dengan mengabaikan otoritas keilmuan Muhammadiyah itu sendiri.

πŸ€” Mengapa Keputusan Tarjih Justru Dipersoalkan?

Jika benar-benar cinta Muhammadiyah, mengapa keputusan Tarjih yang sudah puluhan tahun justru dipersoalkan? Mengapa Himpunan Putusan Tarjih yang menjadi pedoman resmi malah dianggap penghalang? Mengapa yang didorong justru agar Muhammadiyah menerima tahlilan sebagai bagian dari identitasnya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan sekadar klaim "cinta". Ada agenda yang lebih dalam di balik narasi-narasi tersebut.

Ini bukan soal benci kepada orang yang bertahlil. Tidak. Setiap ormas memiliki hak menjalankan keyakinan dan tradisinya masing-masing. Tetapi jangan memaksa Muhammadiyah meninggalkan identitasnya sendiri hanya agar sesuai dengan selera kelompok tertentu. Inilah yang disebut sebagai pemaksaan agenda dengan menggunakan topeng pembelaan.

Aneh sekali. Hampir semua ormas Islam di Indonesia tahu bahwa Muhammadiyah sejak berdirinya dikenal dengan gerakan pemurnian, kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah menurut manhaj tarjihnya, serta tidak menjadikan tahlilan sebagai amalan resmi organisasi. Ini bukan rahasia. Ini fakta sejarah yang diketahui publik. Tetapi masih saja ada yang berpura-pura tidak tahu. Atau sebenarnya tahu, tetapi pura-pura lupa karena ada agenda yang ingin diperjuangkan.

βš”οΈ Kritik yang Menyerang, Bukan Membangun

Yang lebih mengherankan lagi, ada yang begitu bersemangat menyerang siapa saja yang mengingatkan keputusan resmi Muhammadiyah. Seolah-olah menjaga identitas Muhammadiyah adalah sebuah kesalahan. Padahal kalau semua identitas organisasi dihapus, lalu apa bedanya Muhammadiyah dengan organisasi lain?

Para pengkritik ini sering kali menggunakan narasi "persatuan" dan "toleransi" sebagai senjata. Mereka mengatakan bahwa Muhammadiyah harus lebih inklusif, lebih menerima perbedaan, dan tidak boleh eksklusif. Namun, yang mereka maksud dengan "inklusi" adalah menghilangkan batas-batas identitas yang selama ini menjadi ciri khas Muhammadiyah. Ini bukan toleransi, melainkan asimilasi paksa.

β€œKalau memang ingin tahlilan, silakan bergabung dengan komunitas yang memang menjadikannya bagian dari tradisi. Tidak ada yang melarang. Tetapi jangan datang ke rumah orang lalu memaksa seluruh isi rumah diubah sesuai keinginan tamu. Itu bukan toleransi, melainkan pemaksaan.”

Ironisnya, ada yang mengaku membela Muhammadiyah, tetapi setiap narasinya justru mengikis prinsip-prinsip Muhammadiyah. Mengaku menjaga persatuan, tetapi yang dilakukan adalah mengaburkan keputusan-keputusan resmi organisasi. Mengaku ingin merangkul semua pihak, tetapi caranya dengan meminta Muhammadiyah meninggalkan jati dirinya.

πŸ”„ Jangan Membalik Logika

Siapa sebenarnya yang sedang membela Muhammadiyah? Orang yang mempertahankan keputusan resmi organisasi, atau orang yang ingin mengubah keputusan itu agar sesuai dengan seleranya? Pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur, tanpa dibungkus oleh retorika "cinta" yang semu.

Jangan sampai orang yang menjaga keputusan Tarjih justru dituduh memecah belah, sementara yang ingin mengubah identitas Muhammadiyah malah dipuji sebagai pembawa persatuan. Ini adalah pembalikan logika yang berbahaya. Dalam organisasi mana pun, menjaga konsistensi dan kepatuhan terhadap keputusan bersama adalah bentuk integritas, bukan perpecahan.

Muhammadiyah berdiri lebih dari satu abad dengan identitas yang jelas. Kalau ada yang tidak sepakat, silakan berdialog dengan ilmiah, membawa dalil dan argumentasi. Tetapi jangan memakai tekanan opini, jangan bermain drama seolah-olah membela Muhammadiyah, padahal tujuan akhirnya adalah mengubah wajah Muhammadiyah dari dalam.

🎭 Jangan Memakai Topeng 'Demi Muhammadiyah'

Masyarakat sekarang sudah semakin cerdas. Mereka bisa membedakan mana kritik yang lahir dari kecintaan terhadap organisasi dan mana kritik yang hanya menjadi kendaraan untuk memasukkan agenda tertentu. Media sosial memang menjadi ruang yang subur bagi narasi-narasi semacam ini, tetapi bukan berarti semua orang bisa dibodohi.

Jadi berhentilah memakai topeng "demi Muhammadiyah" kalau ujung-ujungnya justru ingin Muhammadiyah meninggalkan prinsip yang selama ini dipegangnya. Membela organisasi bukan berarti mengubah identitasnya. Justru membela organisasi berarti menghormati keputusan resmi yang telah disepakati melalui mekanisme organisasinya.

Kalau benar cinta Muhammadiyah, hormati Muhammadiyah sebagaimana adanya. Jangan memaksa Muhammadiyah menjadi organisasi lain. Sebab yang namanya cinta bukan memaksa orang berubah sesuai keinginan kita, tetapi menghargai jati diri yang memang sudah menjadi prinsipnya sejak awal.

Pada akhirnya, Muhammadiyah akan tetap berdiri kokoh dengan manhaj Tarjihnya. Mereka yang ingin mengubahnya akan terus berjuang, tetapi mereka yang memahami hakikat Muhammadiyah akan terus menjaga. Dan sejarah akan mencatat, siapa yang benar-benar membela dan siapa yang hanya berpura-pura.

πŸ“Œ Kesimpulan: Menjaga Identitas adalah Bentuk Cinta

Polemik tentang tahlilan dan identitas Muhammadiyah sebenarnya adalah cerminan dari perdebatan yang lebih besar: bagaimana sebuah organisasi Islam mempertahankan jati dirinya di tengah arus perubahan sosial. Muhammadiyah telah memilih jalannya: kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan manhaj Tarjih yang ilmiah. Ini bukan sikap eksklusif, tetapi sikap konsekuen terhadap pilihan yang telah diambil sejak awal berdiri.

Mereka yang benar-benar mencintai Muhammadiyah tidak akan memaksa organisasi ini meninggalkan prinsipnya. Mereka akan berdiskusi, berdialog, dan menghormati keputusan yang telah diambil melalui mekanisme yang sah. Sebaliknya, mereka yang hanya ingin memaksakan agenda akan terus menggunakan topeng pembelaan, padahal di balik itu ada keinginan untuk mengubah wajah Muhammadiyah.

Sudah saatnya kita semua, terutama warga Muhammadiyah, lebih kritis terhadap narasi-narasi yang beredar. Jangan mudah terprovokasi oleh klaim-klaim "cinta" yang tidak dilandasi oleh pemahaman yang benar tentang sejarah dan manhaj organisasi. Karena pada akhirnya, menjaga identitas adalah bentuk cinta yang paling tulus.

β€œCinta sejati bukan memaksa orang berubah sesuai keinginan kita, tetapi menghargai jati diri yang memang sudah menjadi prinsipnya sejak awal.”