Pernahkah terlintas di benak kita, mengapa sebuah persyarikatan seperti Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad, menaungi ribuan sekolah, puluhan perguruan tinggi, hingga ratusan rumah sakit di seluruh pelosok negeri? Rahasia utamanya terletak pada keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Muhammadiyah tidak pernah alergi pada pakar.
Semangat yang membara dan niat tulus memang menjadi bahan bakar utama pergerakan. Namun, dalam membangun peradaban yang berkesinambungan, semangat saja jelas tidak pernah cukup. Ia membutuhkan struktur ilmu yang teruji, metodologi yang presisi, serta kepakaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kesadaran Realistis Atas Kompleksitas Masalah Umat
Sejak pertama kali didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tumbuh dengan keinsafan mendalam bahwa persoalan sosial tidak bisa diselesaikan hanya dari atas mimbar. Ceramah agama dan nasihat moral adalah pilar spiritual, tetapi eksekusi solusi nyata membutuhkan kecakapan teknis dari para ahli.
Tantangan zaman membutuhkan pembagian peran yang jelas berbasis keahlian spesifik:
- Pendidikan: Membutuhkan para guru, pedagog, dan ilmuwan yang menguasai kurikulum serta ilmu pengajaran modern.
- Kesehatan: Mengandalkan dokter, apoteker, dan tenaga medis yang bekerja berbasis metodologi ilmiah murni.
- Hukum & Kebijakan: Memerlukan pakar hukum untuk memastikan keadilan sosial terwujud dalam koridor regulasi yang legal.
- Ekonomi & Sosial: Menuntut kehadiran profesional bisnis, akuntan, dan sosiolog demi mengelola aset publik secara akuntabel.
Tradisi menghargai keahlian inilah yang membuat Muhammadiyah selalu rasional dalam mengambil keputusan organisasi maupun keumatan.
Menguji Pendapat Tanpa Meremehkan Keahlian
Sikap menghargai pakar bukan berarti menciptakan kultus individu atau menganggap seorang ilmuwan tidak pernah salah. Muhammadiyah memandang pakar sebagai manusia yang pendapatnya tetap bisa keliru, berhak dikritik, serta wajib diuji secara ilmiah.
Kuncinya terletak pada adab akademis. Ketika sebuah masyarakat bertransformasi menjadi masyarakat yang maju, mereka akan menguji argumen pakar dengan data dan metodologi yang sepadan, bukan membalas temuan ilmiah dengan tuduhan, asumsi liar, atau sekadar sentimen pribadi.
Implementasi kepakaran dalam kelembagaan Muhammadiyah
Dalam praktik keorganisasian, keterlibatan pakar tercermin jelas dalam berbagai majelis dan lembaga teknis:
- Majelis Tarjih dan Tajdid: Tidak hanya melibatkan ahli fikih, tetapi juga astronom dan ilmuwan falak untuk menetapkan kalender hijriah dan arah kiblat.
- Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU): Dikelola oleh dokter dan pakar manajemen rumah sakit secara profesional tanpa intervensi dogma non-medis.
- MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center): Mengintegrasikan keahlian geologi, meteorologi, dan manajemen krisis dalam merespons bencana alam secara cepat dan terukur.
Mengubah Kepakaran Menjadi Kemajuan Nyata
Pelajaran terpenting dari perjalanan sejarah Muhammadiyah adalah pentingnya mencetak individu yang tidak sekadar pandai berwacana. Negeri ini telah memiliki banyak orator, namun masih terus membutuhkan para praktisi berilmu yang mampu menerjemahkan teori menjadi kebermanfaatan publik.
Menciptakan peradaban pencerahan berarti melahirkan generasi yang kompeten di bidangnya masing-masing, berpegang teguh pada etika profesional, dan mendedikasikan keahliannya untuk kemanusiaan.