Paradoks Hilal: Kenapa Umat Muslim Dulu Jago Astronomi, Sekarang Repot Tiap Lebaran?
Setiap menjelang Idul Fitri, pemandangan yang sama kembali terulang. Perdebatan tentang penentuan 1 Syawal mengemuka, antara rukyat dan hisab, antara yang menunggu terlihatnya hilal dan yang telah lebih dulu menetapkan berdasarkan perhitungan.

Di satu sisi, ini adalah dinamika yang wajar. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana mungkin umat yang dulu memimpin ilmu astronomi, kini justru ragu terhadap perhitungan yang lahir dari tradisinya sendiri?
PELOPOR ASTRONOMI
Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah menjadi pelopor dalam memahami langit. Para ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan karya Yunani, tapi juga mengoreksi dan mengembangkannya.
Al-Battani menghitung panjang tahun matahari dengan presisi tinggi. Al-Biruni mengukur jari-jari Bumi dengan metode yang mengagumkan. Al-Sufi mencatat bintang-bintang dan bahkan mengenali galaksi Andromeda jauh sebelum era teleskop.
Bagi mereka, mengamati dan menghitung langit bukan sekadar aktivitas ilmiah, tetapi juga bentuk penghambaan. Ilmu tidak dipisahkan dari iman. Justru, semakin dalam memahami keteraturan alam, semakin kuat kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.
PENOLAKAN TERHADAP SAINS?
Namun hari ini, terutama dalam momen seperti menjelang Idul Fitri, pendekatan itu tampak berubah. Metode hisab, yang secara ilmiah mampu memprediksi posisi bulan dengan tingkat akurasi sangat tinggi, sering kali dipandang dengan kehati-hatian berlebih, bahkan tidak jarang ditolak sebagai dasar penetapan.
Sementara rukyat, yang secara historis merupakan metode observasi, dipertahankan secara literal tanpa selalu dikontekstualkan dengan perkembangan ilmu. Padahal, alat modern saat ini bisa sangat membantu akurasi rukyat itu sendiri.
Fenomena ini tentu tidak bisa disederhanakan sebagai “penolakan terhadap sains”. Ia lebih merupakan cerminan dari perbedaan cara memahami ajaran (fiqh).
Sebagian kalangan memandang rukyat sebagai bentuk ketaatan langsung terhadap teks agama, sehingga tidak tergantikan. Di sisi lain, ada yang melihat hisab sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah yang justru sejalan dengan semangat Islam dalam menuntut ilmu.
PENDEKATAN METODE
Di Indonesia, upaya menjembatani dua pendekatan ini sebenarnya sudah dilakukan. Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dalam sidang isbat, mencoba menyatukan berbagai ormas Islam.
Sementara Muhammadiyah telah lama menggunakan hisab hakiki wujudul hilal sebagai dasar penetapan kalender secara berpotensi untuk bertahun-tahun ke depan. Perbedaan tetap ada, tetapi juga ada usaha untuk mencari titik temu dalam bingkai ukhuwah.
Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perdebatan ini sering kali melampaui ranah ilmiah maupun fiqh, dan masuk ke wilayah kepercayaan, identitas kelompok, bahkan emosi kolektif. Hisab tidak lagi sekadar metode ilmiah, tetapi bisa dipersepsikan sebagai “pilihan kelompok” tertentu. Rukyat pun demikian.
PARADOKS UMAT MUSLIM
Di sinilah letak paradoks itu. Warisan keilmuan yang dahulu dibangun dengan observasi, perhitungan, dan keberanian berpikir, kini kadang terasa jauh dari sebagian umatnya sendiri. Bukan karena ilmunya hilang, tetapi karena cara memandang ilmu itu yang berubah.
Padahal, langit yang kita lihat hari ini adalah langit yang sama yang pernah dihitung oleh para ilmuwan Muslim terdahulu. Pergerakan bulan tetap tunduk pada hukum alam (Sunnatullah) yang sama. Hisab tidak mengubah realitas, ia hanya membantu kita memahaminya dengan lebih berpotensi.
Mungkin, yang perlu kita renungkan bukan sekadar memilih antara rukyat atau hisab. Tetapi bagaimana mengembalikan semangat keilmuan itu sendiri, semangat yang tidak mempertentangkan iman dan akal, melainkan menyatukannya untuk kemaslahatan.
Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan hanya tentang kapan ia dirayakan, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai perjalanan menuju kebenaran.
Menghidupkan Kembali Semangat Berpikir Ilmiah
Di dalam ajaran Islam sangat menganjurkan berpikir ilmiah, bahkan dalam hukum juga mempertimbangkan dalil aqli (akal) bukan sekedar dalil naqli (teks). Ini adalah kunci mengapa peradaban Islam dulu sempat memimpin dunia dalam sains dan teknologi.
Sayangnya, hal-hal seperti ini yang semakin ditinggalkan oleh sebagian umat Islam saat ini. Mereka cenderung lebih percaya dengan penafsiran-penafsiran yang bersifat mistis, karomah, dan lainnya, ketimbang mempelajari sebab-akibat yang nyata di alam.
Umat Islam sekarang, lebih banyak berperan sebagai konsumen iptek ketimbang pelopor penemuan ilmu pengetahuan (sains). Dan bukan sesuatu yang aneh, jika pada saat ini umat Islam jauh tertinggal dalam bidang sains dan teknologi karena menjauhi cara berpikir para pendahulunya.
Ingat, Allah memberi sesuatu yang sangat berharga kepada manusia, yang bernama Akal. Gunakan untuk mikir, termasuk memahami Sains. Sains adalah cara kita membaca ayat-ayat Allah yang tercipta di alam semesta. Kalau menolak sains, silakan lepas Akal, tidak usah pakai Akal. Tapi tentu bukan itu yang diinginkan ajaran kita, kan?
Mari kita rayakan Idul Fitri dengan hati yang fitri, dan pikiran yang cerdas serta terbuka. Semoga bermanfaat! 😊