Kalau sudah mendekati akhir bulan puasa, biasanya ada satu topik musiman yang selalu ramai dibahas di tongkrongan sampai grup chatting keluarga: "Tahun ini Lebarannya barengan tidak, ya?"
Perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal alias Idul Fitri di Indonesia memang bukan barang baru. Terkadang kita merayakannya serentak, tapi tidak jarang juga kita harus beda hari. Nah, terkait hal ini, ada penjelasan Ketua PP Muhammadiyah berkaitan dengan perbedaan keputusan hari Raya Idul Fitri. Dengar tuntas sampai selesai agar tidak gagal paham.
Apa Akar Masalah Perbedaan Ini? 🧐
Supaya obyektif (dan memenuhi standar E-E-A-T yang menuntut keakuratan informasi), kita harus bedah dulu metode yang dipakai. Di Indonesia, ada dua metode utama yang sering bikin hari raya jadi "dua gelombang", yaitu Hisab dan Rukyat.
- Metode Hisab (Perhitungan Matematis & Astronomis): Ini adalah jalur yang dipegang teguh oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Dengan menggunakan kriteria yang disebut Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Artinya, asalkan secara perhitungan sains hilal (bulan baru) sudah dinilai "wujud" atau ada di atas ufuk (lebih dari 0 derajat) saat matahari terbenam, maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru. Titik. tidak perlu dilihat pakai mata telanjang.
- Metode Rukyat (Pengamatan Visual): Metode ini mayoritas digunakan oleh Pemerintah (Kementerian Agama) dan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka memadukan pengamatan langsung (melihat bulan di lapangan) dengan standar kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Syaratnya lebih ketat: hilal harus berada di ketinggian minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat agar bisa "dianggap" terlihat.
Mengapa Muhammadiyah Tetap Konsisten dengan Hisab? 🔭
Menurut penjelasan dari jajaran Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, penggunaan metode hisab bukan sekadar ingin tampil beda. Metode ini dipilih karena dianggap memberikan kepastian waktu jauh-jauh hari.
Coba bayangkan pembuatan kalender. Kalau kita pakai metode observasi langsung, kalender setahun penuh tidak akan bisa dicetak presisi karena bulan-bulan Hijriah harus diintip dulu bulanannya. Dengan hisab astronomis, pergerakan benda langit bisa dihitung akurat hingga puluhan, bahkan ratusan tahun ke depan. Ini sangat krusial untuk penjadwalan, administrasi, dan kepastian ibadah.
"Perbedaan ini adalah rahmat sains dan interpretasi fiqih. Tidak ada yang salah, keduanya memiliki dasar argumen keagamaan yang kuat. Yang salah adalah jika kita saling menyalahkan."
Kapan dan Di Mana Perbedaan Ini Terjadi? 📅
Gesekan opini biasanya terjadi di hari-hari terakhir Ramadan, khususnya saat pemerintah menggelar Sidang Isbat di Jakarta. Di momen inilah, ketika perhitungan Muhammadiyah menunjukkan hilal misalnya ada di ketinggian 1 derajat (sudah masuk bulan baru versi Muhammadiyah), namun tidak memenuhi batas minimal 3 derajat versi MABIMS (sehingga pemerintah menggenapkan puasa jadi 30 hari).
Bagaimana Kita Harus Menyikapinya? 🤝
Penjelasan dari Ketua PP Muhammadiyah sangat jelas: edukasi dan toleransi (tasamuh). Pesan utamanya adalah jangan jadikan perbedaan metode astronomi ini sebagai bahan perpecahan umat.
Bagi yang meyakini hisab, silakan berlebaran lebih dulu dengan penuh kegembiraan tanpa perlu merasa paling benar. Bagi yang menunggu hasil sidang isbat pemerintah, silakan sempurnakan puasanya dengan khusyuk tanpa perlu merendahkan yang sudah berbuka. Sederhana, kan?
Kesimpulannya, beda hari raya itu wajar. Yang tidak wajar itu kalau beda hari raya malah membuat kamu musuhan sama tetangga sebelah rumah atau sampai keluar grup komunitas motor kesayangan gara-gara debat kusir. Mari rayakan kemenangan dengan hati yang lapang! ✨