πŸ›οΈ Kesalahan Protokoler & Sejarah BPM yang Diabaikan: Sebuah Ironi di Tanah Kutai

Halo warga Balikpapan dan sekitarnya! πŸ‘‹ Pernah tidak sih kalian ngerasa ada yang "ganjil" saat melihat acara kenegaraan yang megah, tapi rasanya ada tata krama yang kelupaan? Nah, kita perlu ngobrolin ini. Serius tapi santai.

kilang BPM Balikpapan
kilang BPM Balikpapan

Baru-baru ini, jagat maya lokal (dan nasional) agak rame membahas kisruh penempatan kursi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam peresmian RDMP Balikpapan. Banyak yang bilang ini cuma masalah teknis, "Ah, cuma salah taruh kursi doang."

Eits, tunggu dulu. πŸ›‘

Ini bukan sekadar kursi yang ketuker. Ini adalah gejala lama dari sejarah yang diputus secara sadar, terutama sejarah Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang menjadi akar lahirnya industri migas di kota tercinta ini. Mari kita bedah pakai kacamata 5W+1H biar makin terang benderang.

πŸ•΅οΈβ™‚οΈ WHAT & WHO: Siapa dan Apa yang Terjadi?

Kejadiannya di peresmian kilang modern RDMP Balikpapan. Sosok sentralnya adalah Sultan Aji Muhammad Arifin. Ironisnya, dalam acara peresmian kilang yang notabene berdiri di atas tanah leluhurnya, Sultan justru ditempatkan di barisan belakang.

Untungnya, Presiden Prabowo Subianto "ngeh" sama situasi ini. Beliau bertanya dengan nada yang menohok:
β€œMengapa Yang Mulia ditaruh di bangku belakang?”

Pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah teguran keras buat tim protokoler. Kenapa? Karena protokol negara sepertinya cuma jago baca struktur jabatan hari ini, tapi buta huruf soal sejarah.

πŸ“œ WHY: Akar Sejarah yang (Sengaja?) Dilupakan

Mari kita flashback sedikit. Sebelum logo Pertamina yang bentuk panah itu ada, kilang ini namanya Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

kilang BPM Balikpapan
kilang BPM Balikpapan
BPM tidak datang ke tanah kosong antah berantah. BPM masuk melalui izin politik dan adat Sultan Kutai, khususnya pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Jadi gini logikanya:

Setelah kemerdekaan, aset BPM dinasionalisasi jadi Pertamina. Kalian bisa baca detail sejarah lengkapnya di artikel aku ini: Wajah Asli Balikpapan 1900. Intinya jelas: Pertamina adalah anak kandung sejarah BPM, dan BPM berdiri di atas "restu" Kesultanan Kutai.

πŸ“ WHERE & WHEN: Konteks Ruang dan Waktu

Di Balikpapan, saat ini, di era modernisasi kilang RDMP. Kita sibuk ngebangun masa depan, nambah kapasitas produksi, membuat teknologi canggih. Tapi, di momen krusial peresmian (WHEN), kita justru melakukan blunder di tempat yang paling bersejarah (WHERE).

Kita menamai bandara dengan nama Sultan (SAMS Sepinggan). Kita bangga teriak-teriak soal "Kota Minyak". Tapi giliran orang yang mewarisi legitimasi tanah itu datang, kita perlakukan seperti tamu biasa? Come on! πŸ€¦β™‚οΈ

πŸ› οΈ HOW: Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap?

Kesalahan protokoler ini lahir dari pola pikir ahistoris (tidak peduli sejarah). Protokol menghitung kursi berdasarkan siapa pejabat yang menjabat hari ini, bukan siapa yang punya saham sejarah atas tanah ini.

Dalam konteks budaya dan sejarah:

πŸ’‘ Kesimpulan: Jangan Jadi Bangsa yang Durhaka pada Sejarah

Insiden ini harus jadi peringatan keras, Lur. Kilang bisa dibangun ulang dengan uang triliunan, teknologi bisa diimpor dari luar negeri. Tapi, martabat sejarah yang direndahkan akan selalu menuntut keadilan.

Pesan moralnya buat kita semua dan para pemangku kebijakan:

  1. Jangan bangun masa depan di atas sejarah yang dihinakan.
  2. Jangan warisi aset BPM tanpa mewarisi adabnya.
  3. Jangan bangga pada Pertamina jika lupa siapa yang memberi ruang pertama kali.

Bangsa besar bukan hanya yang mampu mengelola minyak sampai ribuan barel per hari, melainkan yang tahu diri di atas tanah sejarahnya sendiri. Hormat setinggi-tingginya untuk Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. πŸ™

Share pemikiran ini: Protokol boleh salah, tapi sejarah tidak pernah bohong. #Balikpapan #SejarahBPM #SultanKutai