
Siapa Otto Iskandardinata? Dia adalah pahlawan nasional dari Jawa Barat, guru Muhammadiyah, dan tokoh yang mengusulkan Soekarno sebagai presiden. Apa julukannya? Si Jalak Harupat, ayam jantan pemberani. Kapan lahir? 31 Maret 1897. Di mana ia berjuang? Di sekolah-sekolah, organisasi, dan sidang BPUPK. Mengapa penting? Jasanya membangun pendidikan dan dasar negara. Bagaimana akhir hidupnya? Tragis, diculik dan kehilangan nyawa pada 1945. Yuk, kenal lebih dekat! 😊

Otto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat. Ia berasal dari keluarga bangsawan Sunda yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik dibandingkan kebanyakan masyarakat pribumi pada masa pendudukan atau dominasi politik Belanda. Pada masa itu, akses pendidikan bagi rakyat Indonesia sangat terbatas. Namun karena latar belakang keluarganya, Otto dapat bersekolah hingga akhirnya menempuh pendidikan di sekolah guru. Sejak muda, ia memiliki keyakinan kuat bahwa bangsa Indonesia hanya bisa merdeka jika memiliki ilmu pengetahuan dan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, ia memilih jalur pendidikan sebagai langkah awal perjuangannya.
Kariernya sebagai guru dimulai ketika ia mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Banjarnegara, sebuah sekolah dasar bagi pribumi yang menggunakan bahasa Belanda. Sebagai seorang pendidik, Otto dikenal sebagai guru yang: tegas, berani menyuarakan kebenaran, tidak suka basa-basi, dan sangat nasionalis. Karakter inilah yang kemudian membuatnya dijuluki “Si Jalak Harupat.”

Julukan Si Jalak Harupat berasal dari budaya Sunda. Dalam tradisi masyarakat Sunda, jalak harupat adalah sebutan untuk ayam jantan yang kuat, berani, dan selalu menang ketika diadu. Ayam tersebut memiliki beberapa karakteristik: kokoknya keras dan nyaring, tidak mudah menyerah, dan berani menghadapi lawan. Julukan ini sangat cocok dengan kepribadian Otto Iskandardinata yang dikenal sebagai tokoh yang berani berbicara lantang melawan ketidakadilan, baik terhadap pemerintah kolonial maupun dalam dinamika politik nasional.
Menjelang tahun 1928, Otto pindah ke Batavia (sekarang Jakarta). Di kota inilah ia semakin aktif dalam kegiatan pendidikan dan pergerakan nasional. Ia kemudian bergabung dengan organisasi Islam modernis Muhammadiyah, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Di Muhammadiyah, Otto dipercaya menjadi Kepala Sekolah AMS Muhammadiyah yang berlokasi di Jalan Kramat Raya 49, Batavia.

Sebagai kepala sekolah, ia berusaha menjadikan lembaga pendidikan tersebut bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pemikiran nasionalisme. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah mengajak tokoh besar lainnya, Ir. Djuanda Kartawidjaja, untuk mengajar di sekolah tersebut. Tokoh yang kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia itu pun pernah menjadi guru di lingkungan pendidikan Muhammadiyah berkat ajakan Otto.

Menariknya, peran Otto tidak hanya terbatas pada pendidikan dan politik. Gedung sekolah AMS Muhammadiyah di Kramat Raya juga pernah menjadi tempat penting dalam sejarah olahraga Indonesia. Di tempat tersebut pernah diadakan rapat yang melahirkan organisasi sepak bola VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra), yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal klub sepak bola Persija Jakarta. Melalui dunia olahraga, Otto juga aktif menyebarkan semangat nasionalisme kepada masyarakat. Ia menulis berbagai artikel yang menghubungkan olahraga dengan kebangkitan bangsa, sebuah gagasan yang pada masa itu sangat progresif.

Peran terbesar Otto Iskandardinata dalam sejarah Indonesia terjadi pada masa persiapan kemerdekaan. Ia menjadi anggota BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan), sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang BPUPK, Otto menunjukkan keberaniannya dengan mengusulkan nama Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Usulan tersebut kemudian diterima secara aklamasi oleh anggota lainnya, menjadikan Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia. Langkah Otto ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah politik Indonesia karena membantu menentukan kepemimpinan nasional pada awal kemerdekaan.


Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Otto Iskandardinata dipercaya menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Salah satu tugas penting yang diembannya adalah membantu pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR adalah organisasi keamanan yang kemudian berkembang menjadi: Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dengan kata lain, Otto memiliki peran penting dalam awal pembentukan sistem pertahanan negara Indonesia.
Sayangnya, perjalanan hidup Otto Iskandardinata berakhir secara tragis. Pada 19 Desember 1945, ia diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal sebagai “Laskar Hitam.” Ia dibawa ke daerah Pantai Mauk di Tangerang, Banten. Di sana, Otto mengalami penyiksaan sebelum akhirnya dibunuh, dan jenazahnya dibuang ke laut. Hingga hari ini, jasad Otto Iskandardinata tidak pernah ditemukan. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah awal Republik Indonesia.
Meskipun hidupnya berakhir tragis, jasa Otto Iskandardinata tidak pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Pada tahun 1973, pemerintah secara resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya kemudian diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, antara lain: uang kertas Rp20.000, nama jalan di berbagai kota, monumen dan sekolah, Bandara Internasional Kertajati yang sebelumnya bernama Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) juga memakai nama Kertajati Otto Iskandardinata dalam beberapa referensi sejarah daerah.
Kisah hidup Otto Iskandardinata memberikan banyak pelajaran penting bagi generasi muda Indonesia. Ia membuktikan bahwa seorang guru dapat memainkan peran besar dalam perubahan sejarah bangsa. Perjuangannya menunjukkan bahwa: pendidikan adalah dasar kemerdekaan, keberanian adalah kunci melawan ketidakadilan, nasionalisme bisa tumbuh dari berbagai bidang, termasuk pendidikan dan olahraga. Julukan “Si Jalak Harupat” bukan hanya sekadar nama, tetapi simbol keberanian seorang tokoh yang kokoknya mampu membangkitkan semangat bangsa Indonesia. Dari ruang kelas Muhammadiyah hingga panggung proklamasi kemerdekaan, Otto Iskandardinata meninggalkan jejak yang belum tentu hilang dari sejarah Indonesia.