Siapa Sih Mahram Kita? Panduan Penting untuk Muslimah dalam Menjaga Batasan

Pernah merasa kebingungan saat sedang kumpul keluarga besar pada momen Lebaran atau acara pernikahan? Tiba-tiba ada paman jauh atau sepupu laki-laki yang datang, lalu kamu ragu, "Eh, di depan dia aku boleh lepas hijab tidak, ya? Boleh salim tangan tidak, nih?"

Ilustrasi pedoman dan panduan keluarga bagi wanita muslimah

Keresahan seperti ini sangat wajar dialami oleh para muslimah, terutama ketika keluarga besar memiliki garis keturunan yang luas dan bercabang. Menjaga aurat dan kehormatan adalah bentuk ketaatan, namun untuk bisa menerapkannya dengan benar, kita tentu harus punya bekal ilmu yang tepat. Mari kita urai bersama-sama tentang batasan ini agar kita bisa berinteraksi dengan nyaman dan tetap sesuai dengan syariat.

Apa Itu Mahram?

Sering kali kita mendengar istilah "kerabat yang tidak boleh dinikahi menurut hukum Islam" diucapkan secara keliru menjadi "muhrim" di masyarakat. Padahal, keduanya memiliki makna yang jauh berbeda. Muhrim adalah orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram (haji atau umrah). Sedangkan mahram, secara etimologi, berasal dari kata 'haram'.

Dalam konteks fikih keluarga, kerabat yang tidak boleh dinikahi menurut hukum Islam adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi oleh seorang wanita. Keharaman ini bisa bersifat selamanya (mu'abbad) karena alasan keturunan, persusuan, atau pernikahan; dan bisa juga bersifat temporer (muaqqat) seperti suami dari saudara perempuan (kakak/adik ipar). Nah, untuk kali ini, kita akan fokus membahas kerabat yang tidak boleh dinikahi menurut hukum Islam dari jalur nasab atau keturunan korban yang berlaku selama-lamanya.

7 Pihak Mahram dari Jalur Nasab

Silakan dicatat baik-baik, ya! Ada 7 pihak laki-laki yang secara penting menjadi kerabat yang tidak boleh dinikahi menurut hukum Islam dari jalur nasab. Golongan ini disebut dengan istilah mahram mu'abbad (mahram selamanya). Artinya, sampai kapan pun, mereka tidak boleh kita nikahi. Siapa saja mereka?

Sebagai catatan tambahan, sepupu laki-laki tidak termasuk dalam daftar mahram. Jadi, meskipun kalian sangat akrab sejak kecil, mereka tetaplah non-mahram (ajnabi) yang mana batasan aurat dan pergaulan tetap berlaku secara utuh di hadapan mereka.

Konsekuensi Hukum Mahram Mu'abbad

Mengetahui siapa saja yang masuk ke dalam lingkaran mahram ini sangatlah penting bagi seorang muslimah. Status kerabat yang tidak boleh dinikahi menurut hukum Islam ini bukan sekadar soal siapa yang boleh dinikahi dan tidak, melainkan membawa konsekuensi hukum yang memengaruhi interaksi sehari-hari kita. Adapun aturan interaksi antara muslimah dengan laki-laki yang berstatus mahram mu'abbad di atas meliputi:

Dalil dari Al-Qur'an

Semua aturan yang indah dan menjaga kehormatan wanita ini tidak dibuat-buat oleh manusia, melainkan bersumber langsung dari ketetapan Allah SWT. Landasan utama mengenai siapa saja pihak yang haram dinikahi karena hubungan nasab telah dirincikan dengan sangat jelas dalam firman-Nya:

"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;..."

— QS. An-Nisa: 23

Dengan memahami ilmu dasar tentang mahram ini, semoga kita bisa lebih percaya diri dan tidak lagi canggung dalam bersikap di tengah keluarga besar. Menjaga batasan memang membutuhkan pembiasaan, namun di sanalah letak penjagaan Islam terhadap kemuliaan seorang wanita.