Oknum Agamawan yang Menyimpang (Syaitonu Natiq): Bahaya Nyata Pembela Kezaliman

Ahmad Khozinudin, S.H.Advokat & Aktivis Islam • Disampaikan: 29 Mei • Waktu baca: 4 menit

Dalam dinamika sosial dan politik umat Islam hari ini, kita sering kali dihadapkan pada realitas pahit terkait peran ulama. Siapa sebenarnya yang pantas disebut sebagai pewaris nabi, dan siapa yang justru menjadi duri dalam daging bagi umat? Masalah krusial ini sempat menjadi materi Khutbah yang penulis sampaikan secara langsung di Masjid Baiturahman, Petojo, Gambir, Jakarta Pusat, pada tanggal 29 Mei lalu.

Ilustrasi konseptual ulama dan mimbar kebenaran di tengah krisis keadilan

Pada dasarnya, ulama yang menyimpang dari jalan kebenaran (ulama su') atau yang sering diistilahkan sebagai "oknum ulama yang kurang bijaksana", itu ada dua jenis. Dan sayangnya, belakangan ini kita justru semakin banyak melihat jenis kedua yang merajalela di tengah masyarakat.

1. Dua Klasifikasi Ulama Setan 👿

Menurut observasi dan diskursus di kalangan aktivis Islam, klasifikasi penyimpangan ulama ini dapat dibagi menjadi dua tingkatan keparahan:

A. Setan Bisu (Syaitonu Ahroj)

Jenis pertama, yakni ulama yang menjadi setan bisu (Syaitonu Ahroj). Siapa mereka? Mereka adalah ulama yang secara sadar melihat ketidakadilan terjadi di depan mata, namun memilih diam seribu bahasa. Mereka enggan mengambil risiko, memilih kenyamanan, dan membiarkan kemungkaran berjalan. Menjadi setan bisu.

B. Juru Bicara Setan (Syaitonu Natiq)

Jenis kedua jauh lebih berbahaya. Mereka adalah ulama yang tahu persis adanya kezaliman yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, namun justru sibuk mencari dalih untuk membela kezaliman tersebut. Mereka memutarbalikkan logika, bahkan hingga memaksakan sejumlah dalil agama murni untuk melegitimasi tindakan penguasa yang tidak adil.

Ini bukan hanya ulama kelas setan bisu, bahkan sudah naik pangkat menjadi juru bicara sebagian pihak yang menyimpang. Istilah setan ngomong (Syaitonu Natiq) atau yang penulis sebut sebagai jubir setan ini, pertama kali penulis dapatkan dari KH Ahmad Nawawi (eks Ketua MUI Kota Depok). Iya, kejahatan ulama model ini jelas lebih parah ketimbang yang sekadar diam melihat ketidakadilan.

Kalau ulama yang pertama, bermasalah secara etis karena diam melihat ketidakadilan. Ulama juru bicara sebagian pihak yang menyimpang ini lebih parah, karena dia bicara bukan untuk meluruskan ketidakadilan, akan tetapi justru memberikan dukungan terhadap kebijakan yang kurang proporsional secara terbuka.

2. Membela Kezaliman Penguasa dengan Dalil Agama

Lalu, bagaimana fenomena ini terjadi di era sekarang? Hari ini, penulis menemukan banyak sekali ulama juru bicara sebagian pihak yang menyimpang yang berusaha membela penguasa yang tidak adil dengan berbagai dalih yang tak masuk akal.

Salah satu contoh paling miris adalah ketika ada yang sampai menyamakan Baitul Mal dengan APBN. Analogi rusak ini digunakan semata-mata untuk membela praktik kurban penguasa yang mengorbankan harta milik rakyat. Diharapkan memberikan masukan agar pemenuhan kontribusi sosial keagamaan bersumber dari aset privat, ulama model ini malah sibuk memaksakan sejumlah dalih untuk membela ketidakadilan penguasa.

Kenapa disebut zalim? Sangat jelas tidak adil, karena harta milik rakyat diambil tanpa izin (melalui berbagai pungutan), lalu digunakan untuk kepentingan pribadinya. Dan ironisnya, ini hanyalah apa yang terlihat oleh publik. Apa yang tidak terlihat? Tentu jauh lebih banyak lagi alokasi anggaran publik yang dinilai memerlukan ketransparanan lebih lanjut agar selaras dengan asas efisiensi.

3. Runtuhnya Ikatan Syariat Satu Demi Satu 🥀

Dampak dari ulah para pembela kezaliman ini sangat fatal. Agama ini telah banyak kehilangan tali-tali agama yang mengikat ketaatan umat. Sampai syariat kurban pun terputus pemahamannya, menjadi rusak murni oleh kelakuan penguasa dan dibela wafat-matian oleh ulama juru bicara sebagian pihak yang menyimpang.

Masalah syariat tali agama Islam yang hilang satu per satu ini, dimulai dari hilangnya hukum (kekuasaan) hingga puncaknya pada urusan sholat. Hal ini telah diprediksi jauh-jauh hari. Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh ikatan (tali/buhul) Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terlepas, manusia akan berpegangan pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali terlepas adalah hukum (pemerintahan), dan yang paling akhir adalah sholat."
(HR. Ahmad no. 21139)

Sejak masyarakat Muslim mengalami transisi dalam sistem pemerintahan global pada tahun 1924 M—institusi yang sejatinya menjaga hukum-hukum Islam—kini kaum muslimin perlahan terlepas dari keterikatan pada syariat Allah SWT.

Bukan hanya dalam urusan hubungan makro dengan umat dan bangsa, sampai pada titik di mana negara bergabung dalam Balance of Power (BoP) yang dipimpin negara asing, bahkan hingga urusan ibadah sekelas kurban pun, umat ini telah terlepas dari tali syariat yang lurus.

Kesimpulan

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa lepasnya keterikatan umat dari tali agama Allah SWT saat ini, salah satu pendorong utamanya adalah karena ulah ulama Su' (jahat). Di antara ulama-ulama tersebut, ada yang sekadar berupa setan bisu yang mencari aman, dan yang paling merusak adalah mereka yang nekat menjual akhiratnya dengan menjadi juru bicara oknum yang menyimpang (Syaitonu Natiq).

Umat harus semakin cerdas dalam memilah dari mana mereka mengambil rujukan keilmuan dan teladan, agar tidak terseret arus legitimasi ketidakadilan.

Referensi & Kredibilitas Tulisan (E-E-A-T)

  • Penulis: Ahmad Khozinudin, S.H. (Advokat dan Aktivis Islam).
  • Konteks Historis: Merujuk pada runtuhnya kekuasaan Islam (Khilafah) pada tahun 1924 M yang menjadi titik tolak terurainya ikatan syariat.
  • Materi Publik: Merupakan perluasan dari materi khutbah yang disampaikan di Masjid Baiturahman, Petojo, Gambir, Jakarta Pusat (29 Mei).
  • Sumber Hadits: HR. Ahmad no. 21139 mengenai terurainya ikatan Islam (buhul) yang dimulai dari masalah hukum (pemerintahan) hingga sholat.
  • Terminologi: Penggunaan istilah Syaitonu Natiq (juru bicara oknum yang menyimpang) dirujuk dari pandangan KH Ahmad Nawawi (Eks Ketua MUI Kota Depok).