
Masa Kecil dan Kecerdasan Zaid
Madinah punya banyak pemuda keren, salah satunya Zaid bin Tsabit r.a. Sejak kecil, ia sudah pintar baca-tulis, padahal itu kemampuan langka saat itu. Ibunya selalu mendukung, dan seolah Allah memang menyiapkannya untuk sebuah tugas besar.
Awal Perjalanan Keren
Waktu Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Zaid masih seorang remaja. Ibunya dengan bangga mengenalkannya kepada Nabi: “Anakku sudah hafal 17 surah Qur’an, dan bisa menulis!” Nabi pun kagum. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu sekretaris pribadi Rasulullah ﷺ.
Penulis Wahyu, Wali Amanah Qur’an
Zaid sangat ingin ikut Perang Badar, tapi usianya masih terlalu muda. Rasulullah ﷺ tidak mengizinkannya, tapi malah memberinya tugas yang jauh lebih penting: menulis wahyu. Setiap kali ayat turun, Zaid langsung menuliskannya di pelepah kurma, batu, atau kulit. Ia termasuk penghafal Qur’an generasi pertama!
Amanah Berat: Mengumpulkan Al-Qur’an
Setelah Nabi wafat, banyak penghafal Qur’an gugur di Perang Yamamah. Atas usulan Umar bin Khattab r.a., Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menunjuk Zaid sebagai ketua tim pengumpul Al-Qur’an. Dengan sangat teliti, ia memverifikasi setiap ayat, dan akhirnya Al-Qur’an terkumpul dalam satu mushaf utuh.
Era Utsman: Mushaf Standar untuk Dunia
Di zaman Utsman, Islam makin luas dan muncul perbedaan cara baca (qira'at). Lagi-lagi Zaid dipercaya menjadi ketua tim kodifikasi mushaf standar. Salinan mushaf inilah yang dikirim ke berbagai negeri Islam, menyatukan bacaan kaum Muslimin di seluruh dunia.