Anak Jadi 'Raja Kecil'? 👑 Malik Badri dan Bahaya Worldview Hollywood dalam Pengasuhan

"20 tahun lagi negara ini diurus mantan anak manja." Sebuah *alarm* yang harusnya kita dengar hari ini.

Kalimat yang menusuk di awal itu—bahwa banyak orang tua menjadikan anaknya seperti raja, dan dampaknya akan terasa 20 tahun lagi—sebenarnya bukan sekadar curahan hati atau keresahan personal. Ini sudah menjelma menjadi gejala budaya yang mengakar. Sebuah alarm halus yang membunyikan peringatan tentang bagaimana sebuah generasi sedang dibentuk, dan bagaimana generasi itu kelak akan membentuk masa depan bangsa ini.

1. 🧠 Ketika Standar Kebenaran Dirampas Otoritas Asing

Menariknya, keresahan ini sangat sejalan dengan kritik tajam almarhum Prof. Malik Badri, Bapak Psikologi Islam Modern. Beliau adalah sosok yang memahami betul konflik antara dua worldview (pandangan dunia) dalam pengasuhan anak.

Prof. Badri pernah menceritakan sebuah kisah yang membuka mata: seorang ayah yang menghukum anaknya karena tidak sopan pada ibunya. Ayah itu lalu mendapat teguran dari seorang profesor Amerika yang menganjurkan sikap lebih permisif. Alasannya? Kalau tidak, anak manja itu akan menderita neurosis nantinya.

Sang profesor membuat si ayah muda merasa bersalah gara-gara telah menghukum anaknya yang telah berlaku tidak sopan pada ibunya. Ayah itu pulang dengan rasa bersalah, bukan karena ia telah berbuat zalim, tapi karena standar kebenaran yang ia yakini selama ini dirampas oleh "otoritas psikologi modern". — Kisah dari Prof. Malik Badri

Di sinilah letak permasalahannya. Orang tua mulai mempertanyakan intuisi, agama, dan budaya mereka sendiri hanya karena ada label dari "ilmu modern" yang mengancam (seperti neurosis atau trauma).

2. ⏰ Batasan Usia "Raja" dan Pentingnya Disiplin

Dalam banyak tradisi, termasuk panduan Islam klasik, ada periode di mana anak memang diperlakukan seperti raja, yaitu usia balita hingga tamyiz (mampu membedakan), biasanya maksimal 7 tahun. Ini adalah fase kasih sayang, eksplorasi, dan pembentukan ikatan emosional.

Setelahnya? Perlakuan harus berubah. Harus ada disiplin, tanggung jawab, dan batasan. Inilah mengapa di Malaysia, anak-anak sering disebut "budak-budak" (yang artinya anak-anak), karena ada nilai filosofis di sana: setelah usia tertentu, anak harus dididik untuk menjadi budak atau tawanan yang patuh pada perintah dan disiplin orang tua, sebelum kelak menjadi pemimpin.

Ilustrasi anak kecil yang dimanjakan seperti raja, duduk di singgasana

Mendidik anak seperti 'Raja' saat mereka masih balita itu wajar. Tapi memanjakannya tanpa batas setelah mereka memasuki fase tamyiz adalah resep bencana.

3. 🎬 Worldview Hollywood vs. Firman Allah

Prof. Malik Badri mengkritik keras pandangan pengasuhan yang menjadikan worldview Barat sebagai kiblat, sebab konsekuensinya adalah:

Hasilnya, kita melihat banyak remaja yang tumbuh rapuh (tidak tahan tekanan), egois, dan kehilangan adab dasar. Inilah yang disindir oleh Prof. Badri:

"Kalau Anda ingin anak-anak Anda tumbuh seperti remaja dalam film-film Amerika, meletakkan kaki di meja ketika bicara dengan Anda, membantah tanpa rasa bersalah, hidup dengan pola 'my freedom, my choice' dan kelak menitipkan Anda di panti jompo—maka ikutilah psikologi anak versi Amerika itu tanpa kritik." — Prof. Malik Badri

Namun, jika kita masih menghargai firman Allah, meyakini bahwa adab mendahului ilmu, dan percaya bahwa anak adalah amanah bukan pusat orbit keluarga, maka kita harus kembali pada Al-Qur’an.

4. 🕋 Adab adalah Struktur Ruhani Manusia

Lihatlah bagaimana Al-Qur’an menggambarkan posisi orang tua. Anak diperintahkan berkata qawlan karīman (perkataan yang mulia). Ketaatan, kesantunan, dan penghormatan bukan lagi "opsi" untuk dibahasakan secara permisif, melainkan bagian dari struktur ruhani yang harus ditanamkan.

Ayat-ayat Al-Ahqaf, tentang anak yang berdoa agar dikuatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, menjadi landasan peradaban dalam worldview Islam. Ayat yang di dunia Barat bisa jadi dianggap "opresif terhadap otonomi anak", tapi dalam Islam, itulah yang membangun bangsa dan keluarga yang kuat.

5. 💔 Konsekuensi Generasi Manja di Dunia Nyata

Kita memang sedang menuju masa di mana banyak anak dididik menjadi "raja kecil" padahal usianya sudah jauh di atas 7 tahun. Ketika mereka memasuki dunia dewasa, muncullah kebingungan:

  • Dunia Kok Keras? Lingkungan kerja menuntut profesionalisme, dibilang "toxic."
  • Hidup Kok Tak Memanjakan? Bos menuntut, rekan kerja kompetitif, dibilang menekan.

Semua ini terjadi sebab sejak kecil, ia dibentuk dengan paradigma semu bahwa DUNIA BERKEWAJIBAN MEMBUATNYA NYAMAN.

Komentar itu benar: bangsa ini akan diurus oleh generasi yang kita bentuk hari ini.

  • Jika anak dibesarkan sebagai raja padahal tak lagi balita, ia akan tumbuh ingin memerintah tanpa mau melayani.
  • Jika anak dibesarkan tanpa disiplin, ia akan gagal memimpin dirinya sebelum memimpin bangsa.
  • Dan jika orang tua lebih takut anak "mental *drop*" daripada takut anak kehilangan adab, maka tinggal tunggu waktu sebelum rumah-rumah dan akhirnya negara dipimpin oleh "mantan anak manja".

Mendidik anak bukan soal memilih "keras" atau "lembut," tetapi memilih worldview mana yang membentuk standar benar-salah dalam pengasuhan. Keras dan lembut kadang mesti dipakai dua-duanya. Dan sebagai Muslim, kita harusnya tahu. Kita memiliki standar dari Yang Maha Kuasa dan Maha CiptaanNya, bukan dari Hollywood.


Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda setuju dengan kritik Prof. Malik Badri?