Bahayanya Memilih Presiden yang Pikun: Sebuah Bedah Medis & Geopolitik

Oleh: Dr. Erta Priadi Wirawijaya, Sp.JP | 22 Januari 2026 | Indonesia

Kita lagi hidup di zaman yang ajaib. Kalau dulu pidato pemimpin negara itu sakral banget, ditimbang tiap katanya, eh sekarang malah kadang berasa kayak baca shitposting di sosmed yang kebablasan. Tapi jujur, ini bukan cuma soal gaya bicara, tapi ada hal medis yang lebih dalam yang perlu kita bahas tuntas. Gak pakai ringkas-ringkas, yuk kita selami bareng! 🌊

Belakangan ini, publik dunia—terutama yang memperhatikan dinamika di Amerika Serikat—mulai sering bertanya-tanya. Kenapa ya, pemimpin negara adidaya itu sering banget ngomong impulsif? Kadang penuh sindiran, kadang berubah-ubah arah kebijakannya dalam hitungan jam, tergantung panggungnya di mana. Efeknya? NATO panas, sekutu gelisah, dan pasar saham naik-turun kayak roller coaster.

Secara medis, kita perlu bertanya: ini tuh strategi jenius yang saking pintarnya kita gak paham, atau justru ada penurunan kemampuan mengendalikan diri? Yang sering disalahpahami masyarakat adalah mengira "pikun" itu cuma soal lupa taruh kunci motor. Padahal, dalam dunia kepemimpinan, kemampuan otak itu soal eksekusi—menahan diri, menjaga alur berpikir, dan peka terhadap konteks sosial.

Ilustrasi medis otak manusia dengan latar belakang peta dunia, menggambarkan hubungan kesehatan kognitif dan geopolitik

Apa yang Sebenarnya Terjadi dan Kenapa Ini Krusial?

Kenapa sih kita harus peduli? Kan itu presiden orang lain? Eits, jangan salah! Pemimpin negara itu bukan cuma simbol, tapi pemegang kendali "bus" besar berisi jutaan nyawa. Kalau "sopirnya" kehilangan rem kognitif, yang celaka bukan cuma dia, tapi semua penumpangnya.

Kesehatan otak pemimpin bukan isu personal—ini isu keselamatan publik. Kita boleh kasihan jika ia sakit, tapi kita tetap tidak akan menyerahkan kemudi bus penuh penumpang pada seseorang yang kontrolnya menurun.

Demensia itu masalah biologis yang nyata, Teman-teman. Bukan kurang pintar, bukan kurang iman, apalagi kurang ibadah. Ini murni soal pembuluh darah dan jaringan otak yang rusak. Risiko ini naik drastis seiring umur, apalagi kalau punya riwayat hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Sebagai dokter jantung (Sp.JP), saya sering banget lihat hubungan antara kesehatan pembuluh darah dan fungsi otak ini.

Dari sisi medis, pasiennya adalah si pemimpin itu sendiri. Tapi dari sisi dampak, seluruh birokrasi dan stabilitas dunia ikut terseret. Ketika pemimpin berbicara tanpa "filter", tim diplomatik harus jungkir balik memadamkan api. Hubungan internasional yang harusnya dibangun di atas kepastian, jadi penuh ketidakpastian.

Di Mana Bahayanya "Kehilangan Rem" Kognitif?

Bahayanya ada di area depan dan samping otak kita. Kita sebut saja ini gangguan Frontotemporal Dementia (FTD). Bedanya apa sama Alzheimer? Kalau Alzheimer itu biasanya "lupa jalan pulang" atau "lupa nama cucu". Tapi kalau FTD, yang hilang itu filter sosialnya.

Orang dengan gejala FTD bisa terlihat:

  • Agresif atau malah dingin tanpa empati.
  • Sangat impulsif.
  • Mudah ngomong kasar atau gak pantas di acara resmi.
  • Gak peka sama batasan sosial.

Di panggung global, "kehilangan rem" ini bisa bikin perang pecah cuma gara-gara salah ucap atau salah ambil keputusan yang ceroboh.

Kapan Harus Waspada dan Bagaimana Menilai?

Sekarang juga! Kita harus mulai bisa membedakan mana "pelupa biasa karena usia" dan mana yang sudah mengarah ke patologis. Pelupa biasa itu kalau diingatkan, dia langsung "oh iya!" dan nyambung lagi. Tapi kalau demensia, apalagi yang tipenya vaskular atau FTD, orangnya bakal sulit memahami konteks dan gagal menjaga konsistensi keputusan.

Sebagai dokter yang berpikir ilmiah, saya mau tegaskan: kita tidak boleh mendiagnosis seseorang cuma dari potongan video TikTok atau cuplikan pidato singkat. Diagnosis medis itu sakral— butuh pemeriksaan langsung, tes kognitif, dan MRI otak.

Tetapi! Masyarakat sebagai pemilih punya hak praktis untuk menilai konsistensi dan kontrol diri. Apakah si calon pemimpin ini masih punya "rem"? Apakah dia masih bisa menimbang kata-katanya? Kalau sinyal yang dikirimkan liar terus-menerus, birokrasi akan sibuk mengurus kekacauan, bukan fokus membangun negara.

Bedah Tipis: Alzheimer vs FTD vs Demensia Vaskular

Berikut perbandingan singkat tiga jenis gangguan kognitif yang paling sering ditemui pada populasi lanjut usia. Memahami perbedaannya membantu kita membaca sinyal yang muncul dari perilaku publik seorang pemimpin.

JenisGejala UtamaEfek pada Kepemimpinan
AlzheimerLupa memori jangka pendek.Bingung jadwal, lupa janji politik.
FTDPerubahan perilaku & karakter.Impulsif, agresif, hilang empati.
VaskularGangguan fokus & langkah.Keputusan melambat & mudah bingung.

Ketiga kondisi ini memiliki manifestasi yang berbeda, namun semuanya berujung pada penurunan kapasitas pengambilan keputusan yang krusial bagi seorang pemimpin negara.

Kesimpulan: Cinta pada Masa Depan Indonesia

Pelajaran besarnya buat kita di Indonesia: Jangan anggap enteng kesehatan mental dan kognitif calon pemimpin. Negara kita bisa kuat menahan musuh dari luar, tapi bisa rontok kalau pemimpinnya sendiri tidak stabil dari dalam. Kewaspadaan saat memilih adalah bentuk cinta kita pada masa depan anak cucu.

Ingat, pemimpin bukan cuma pembuat aturan, tapi Sumber Sinyal. Kalau sinyalnya kacau, seluruh negeri ikut galau. Tetap kritis, tetap sehat, dan jangan lupa jaga kesehatan pembuluh darah biar otak tetap encer sampai tua! 💪✨

EPW — 22 Januari 2026