Indonesia Tak Punya Tujuan: Refleksi Tahun Baru 1448 H
Saya selalu merasa ada sesuatu yang aneh setiap kali Tahun Baru Islam datang. Masjid penuh dengan ceramah tentang hijrah. Media sosial dipenuhi nasihat tentang perubahan. Orang-orang saling mengucapkan selamat memasuki tahun baru Hijriah dengan harapan menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang mengganggu justru pertanyaan yang tidak pernah muncul: **Hijrah menuju ke mana?**
Kita terlalu sering membicarakan perpindahan, tetapi jarang membicarakan tujuan. Padahal dalam sejarah Islam, hijrah tidak pernah sekadar berarti meninggalkan sesuatu. Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan Makkah karena bosan tinggal di sana. Beliau tidak berhijrah karena ingin suasana baru. Hijrah menjadi peristiwa besar karena ada gambaran yang jelas tentang masyarakat yang hendak dibangun setelah perjalanan itu selesai.
🏙️ Yatsrib Bukan Sekadar Tempat Singgah
Yatsrib bukan sekadar kota tujuan. Di tempat itulah lahir sebuah tata sosial baru. Konflik antarsuku yang telah berlangsung lama diakhiri, masyarakat yang beragam dipersatukan melalui Piagam Madinah, dan fondasi sebuah peradaban mulai dibangun. Hijrah melahirkan arah yang jelas tentang masa depan.
Barangkali karena itulah saya semakin sulit memahami Indonesia. Negeri ini tidak pernah kekurangan program. Setiap beberapa tahun selalu muncul gagasan baru yang dijanjikan akan menjadi jalan keluar. Ada masa ketika kita begitu yakin industrialisasi adalah jawaban. Pada masa lain kita percaya liberalisasi ekonomi akan menyelesaikan masalah. Kemudian datang era pembangunan infrastruktur. Sesudah itu hilirisasi. Kini muncul berbagai program baru yang kembali dijanjikan akan mengubah masa depan bangsa.
Saya tidak sedang mengatakan program-program itu buruk. Yang membuat saya penasaran adalah sesuatu yang lebih mendasar. **Apa sebenarnya bentuk Indonesia yang ingin dibangun?** Pertanyaan itu terdengar sederhana. Anehnya, semakin lama saya mencarinya, semakin sulit menemukan jawabannya.
📊 Antara Target dan Tujuan
Dokumen perencanaan pembangunan dipenuhi angka. Pertumbuhan ekonomi sekian persen. Kemiskinan sekian persen. Investasi sekian triliun. Produksi sekian juta ton. Hampir semua target disajikan dengan sangat rinci. Yang tidak pernah benar-benar rinci adalah gambaran tentang bangsa seperti apa yang sedang diperjuangkan.
Bangsa yang besar biasanya lahir dari obsesi yang besar. Amerika pernah terobsesi menjadi kekuatan global. Jepang terobsesi mengejar ketertinggalan dari Barat. Korea Selatan terobsesi keluar dari kemiskinan dan membangun ekonomi berbasis teknologi. Tiongkok memiliki gagasan besar tentang kebangkitan nasional yang terus dijaga lintas generasi. **Indonesia memiliki apa?**
Pertanyaan itu terasa tidak nyaman karena memaksa kita membedakan antara target dan tujuan. Keduanya sering dianggap sama, padahal berbeda. Target adalah angka. Tujuan adalah arah. Orang yang ingin pergi ke Surabaya mungkin menargetkan kecepatan 80 kilometer per jam. Kecepatan itu target. Surabaya adalah tujuan. Masalahnya, bangsa ini tampak semakin ahli membicarakan kecepatan tanpa pernah menyepakati ke mana kendaraan sedang diarahkan.
🔄 Ganti Presiden, Ganti Mimpi
Mungkin karena itulah setiap pergantian pemerintahan selalu terasa seperti pergantian mimpi. Prioritas bergeser. Istilah berubah. Program berganti nama. Logo diperbarui. Narasi diperbarui. Kita seolah memulai perjalanan baru setiap lima tahun. Padahal peradaban tidak dibangun dengan siklus lima tahunan. Peradaban dibangun oleh gagasan yang mampu bertahan jauh lebih lama daripada masa jabatan seorang presiden.
Saya sering membayangkan bagaimana para sejarawan masa depan akan membaca Indonesia abad ke-21. Mereka mungkin akan menemukan ribuan proyek pembangunan. Mereka akan menemukan jutaan halaman laporan. Mereka akan menemukan angka-angka pertumbuhan yang mengesankan. Mereka akan menemukan begitu banyak rapat, seminar, konferensi, dan pidato. Lalu mereka mungkin mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang sedang kita hindari hari ini: **Sebenarnya bangsa ini sedang menuju ke mana?**
🌌 Krisis yang Tak Disadari
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita memperingati 1 Muharram. Hijrah dalam sejarah Islam bukanlah perpindahan dari satu kesulitan menuju kesulitan yang lain. Hijrah adalah perjalanan menuju sebuah visi yang lebih besar. Karena visinya jelas, setiap pengorbanan memiliki makna. Karena arahnya jelas, setiap langkah dapat diukur keberhasilannya. Karena tujuannya jelas, Nabi mampu menyatukan kelompok-kelompok yang sebelumnya saling bermusuhan ke dalam satu proyek peradaban.
Di titik ini saya mulai bertanya-tanya. Jangan-jangan Indonesia tidak sedang mengalami krisis anggaran. Jangan-jangan Indonesia tidak sedang mengalami krisis sumber daya alam. Jangan-jangan Indonesia tidak sedang mengalami krisis tenaga ahli. **Jangan-jangan yang sedang kita alami adalah krisis tujuan.**
Kita begitu sibuk membangun jalan sehingga lupa menentukan arah perjalanan. Kita begitu bangga dengan banyaknya program sehingga lupa menanyakan hubungan antarprogram itu. Kita begitu terpesona oleh angka-angka sehingga lupa membicarakan imajinasi. Padahal setiap bangsa besar selalu dimulai oleh imajinasi yang besar. Tanpa imajinasi, pembangunan berubah menjadi pekerjaan administratif. Negara hanya sibuk mengelola rutinitas. Pemerintah berganti-ganti memperbaiki atap, mengecat dinding, memindahkan furnitur, memperluas halaman, tetapi tidak pernah menjelaskan bangunan seperti apa yang sebenarnya sedang didirikan.
🔄 Ironi Hijrah di Negeri Tanpa Arah
Mungkin itulah ironi terbesar Tahun Baru Islam di Indonesia. Kita memperingati hijrah setiap tahun, tetapi semakin jarang berbicara tentang tujuan. Kita merayakan perjalanan, tetapi lupa membicarakan arah. Kita memuji perubahan, tetapi tidak pernah benar-benar menyepakati perubahan menuju apa.
Dan sejarah menunjukkan satu hal yang cukup kejam. Bangsa yang kehilangan tujuan sering kali tetap terlihat bergerak. Bahkan sangat sibuk. Bahkan sangat optimistis. Bahkan sangat percaya diri. Sampai suatu hari mereka menyadari bahwa perjalanan panjang yang ditempuh selama puluhan tahun ternyata hanya membentuk sebuah lingkaran besar yang membawa mereka kembali ke titik semula.
Maka, di 1 Muharram 1448 H ini, barangkali sudah waktunya kita berhenti sekadar mengucapkan selamat tahun baru. Kita perlu duduk, baik sebagai warga maupun pemimpin, dan menjawab satu pertanyaan yang paling fundamental: **Hijrah kita kali ini, mau menuju Indonesia seperti apa?**