AWAS!! Jangan Suka Ngumpat!

Lisan Itu Kayak Pisau, Hati-hati Pakainya!

Naik delman pergi ke kota,
Jangan lupa beli ketupat.
Kalau kamu suka berkata,
Jangan sampai itu ngumpat!
Nanti hatinya jadi berkarat!

Hehehe, intermezo dikit ya, guys! Tapi ini serius lho, pesan dari Allah SWT di Qs. Al Humazah : 1 itu jelas banget:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

(1) "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela."

— (QS. Al-Humazah: 1)

Ilustrasi bahaya mengumpat

Ngeri-ngeri Sedap 'Hati Berkarat'

Istilah "hati berkarat" di pantun tadi itu bukan bercanda. Karat di hati itu beda sama karat di pagar rumah. Karat di pagar bisa diamplas atau dicat ulang, beres. Tapi karat di hati? Susah, bro, hilangnya!

Sekali kita ngumpat, ghibah, atau nyela orang, itu kayak kita nanem satu titik noda hitam di hati kita. Makin sering, makin hitam. Tidak sadar, tiba-tiba kita jadi orang yang gampang suudzon (negatif thinking), gampang benci, dan susah terima nasihat baik. Nah, itu bahayanya. Hatinya jadi keras.

Jadi, daripada ngumpat bikin hati keruh dan dosa nambah, mendingan kita ngopi santai sambil mikirin ide-ide brilian. Atau, kalau lagi kesel banget, coba deh istighfar seribu kali. Dijamin langsung adem kayak di kutub utara! (Oke, mungkin tidak sedingin itu, tapi pasti lebih tenang!)

Ingat ya, lisan itu kayak pisau bermata dua. Bisa buat motong bawang, bisa juga buat motong jari sendiri. Eh, maksudnya, bisa buat bicara yang baik, bisa juga buat nyakitin hati orang.

Ilustrasi lisan bagaikan pisau

Pisau yang dipakai motong bawang (bicara baik) itu bermanfaat, bikin masakan jadi enak. Tapi pisau yang dipakai buat nyakitin (ngumpat, fitnah), itu cuma ninggalin luka. Lukanya mungkin tidak kelihatan, tapi sembuhnya bisa lama banget.

Jadi, pilih yang mana? Pilih yang bikin happy dan berpahala dong!


Yuk, mulai sekarang, kita pasang 'rem' buat lisan kita. Sebelum ngomong, 'saring' dulu di pikiran: Ini nyakitin orang tidak? Ini bermanfaat tidak? Ini bohong tidak? Kalau jawabannya jelek, mending diem.