
Sering banget ya, kita terjebak dalam 'permainan' siapa-paling-wah. Kita ini manusia, gampang sekali ya, merasa silau.
Buka media sosial, kita lihat teman liburan ke luar negeri, hati kita langsung berdesir, "Kapan ya, aku bisa kayak gitu?" Lihat tetangga ganti mobil baru, kita bergumam, "Enak banget hidupnya."
Tanpa sadar, kita menghabiskan energi kita untuk satu hal: membandingkan. Kita pakai "kacamata dunia", membandingkan materi kita dengan materi orang lain, kesuksesan kita dengan kesuksesan mereka. Hasilnya? Selalu merasa kurang, selalu gelisah, dan seringnya, lupa bersyukur.
Lalu, sebuah nasihat menampar kita dengan lembut:
"Sebelum engkau membandingkan hidupmu dengan orang kaya, bandingkan dahulu ibadahmu dengan orang shalih."
Nasihat ini seperti membalikkan kacamata kita. Kita diajak berhenti melihat rumput tetangga yang lebih hijau, dan mulai melihat ladang amal kita sendiri yang mungkin masih kering kerontang.
Iri yang Salah Alamat
Saat kita iri dengan dunia orang lain, pernahkah kita iri dengan akhirat mereka?
Pernahkah kita melihat seseorang yang rajin shalat malam, lalu kita merasa "iri" dan berkata, "Ya Allah, kenapa aku masih sulit bangun?"
Pernahkah kita melihat orang yang begitu ringan bersedekah, lalu kita resah, "Kenapa tanganku masih berat untuk memberi?"
Kita sibuk membandingkan apa yang kita tidak punya di dunia, tapi jarang membandingkan apa yang kita belum lakukan untuk akhirat.
Inilah penyakit yang sudah Allah sinyalir dari dulu. Kita, manusia, punya kecenderungan untuk salah fokus. Kita terlalu mengagumi panggung dunia yang gemerlap, padahal itu hanya sementara.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
(16) "Tetapi kamu (orang-orang) lebih memilih kehidupan duniawi."
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
(17) "Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal."
— (QS. Al-A’la: 16-17)
Lebih Baik dan Lebih Kekal
Ayat ini adalah intinya. Kita lebih memilih dunia. Kita silau dengan apa yang terlihat sekarang, lupa dengan apa yang pasti menanti nanti. Padahal Allah sudah tegaskan, akhirat itu خَيْرٌ (lebih baik) dan وَأَبْقَىٰ (lebih kekal).
Tentu ini wajar, kita manusia. Dunia itu nyata di depan mata, sementara akhirat itu 'ghaib'. Tapi, ghaib bukan berarti tidak pasti. Justru sebaliknya, dunia ini yang penuh ketidakpastian.

Membandingkan dunia hanya akan melahirkan dengki. Tapi, membandingkan ibadah (untuk memotivasi diri, bukan untuk pamer) akan melahirkan semangat.
- Saat kita membandingkan diri dengan orang kaya, kita merasa miskin.
- Tapi saat kita membandingkan ibadah kita dengan orang shalih, kita sadar betapa miskinnya kita di hadapan Allah.
Jadi, mari kita ganti kacamatanya.
Ini bukan berarti kita tidak boleh kaya atau sukses di dunia. Boleh banget! Tapi, jangan sampai 'mengejar' itu bikin kita lupa 'pulang'. Jadikan dunia di tangan, jangan di hati.
Ganti fokus pertanyaan kita:
Bukan, "Kenapa dia lebih kaya dariku?"
Tapi, "Kenapa dia bisa lebih taat dariku?"
Perbandingan yang pertama membuatmu lelah mengejar dunia yang tak ada habisnya.
Perbandingan yang kedua membuatmu semangat mengejar surga yang abadi.
Gimana cara kita 'kalibrasi' ulang fokus kita hari ini?