Kenapa Bukan Pejabat Aja yang Nyumbang Duit? 🤔

Oleh: Nabila Zidane - Jurnalis.
Ilustrasi beban iuran rakyat

Lagi santai ngopi, terus tiba-tiba baca berita ada program iuran baru lagi buat rakyat? Entah itu namanya iuran wajib, sumbangan sukarela tapi dipaksa, atau dalih "dana umat". Di momen itu, pasti terlintas satu pertanyaan kritis di kepala kita: "Kenapa bukan pejabat aja yang ngumpulin duit?"

Jawabannya simpel banget, Sob. Karena sistem hari ini memang tidak didesain untuk membuat pejabat berkorban. Sebaliknya, sistem ini dirancang supaya mereka tetap nyaman di atas sana. Mari kita bedah realitanya secara mendalam menggunakan kacamata 5W+1H. 🧐

Apa (What) yang Sebenarnya Terjadi?

Fenomena ini adalah tentang pergeseran tanggung jawab negara. Harusnya negara itu mengayomi, tapi sekarang justru terlihat seperti "penagih". Program-program besar yang harusnya dibiayai dari hasil bumi atau efisiensi birokrasi, malah dibebankan lagi ke pundak kita, rakyat kecil.

Siapa (Who) yang Paling Diuntungkan?

Mari kita buka-bukaan. Coba lihat posisi pejabat saat ini:

Lalu, ketika ada program "dana umat" atau "iuran pembangunan", siapa yang diminta kontribusi lagi? Ya, rakyat lagi! Ini kan kesannya kayak rakyat setor, negara kelola (katanya), terus rakyat diminta setor lagi. Lingkaran setan, kan? 😂

Kenapa (Why) Ini Terus Berulang?

Ini masalah cara pandang atau ideologi, Sob. Dalam sistem Kapitalisme yang kita jalani sekarang, rakyat itu dianggap sebagai sumber pemasukan utama (object of revenue).

Makanya jangan heran kalau:

  • Pajak jadi andalan utama APBN.
  • Iuran jadi solusi setiap ada masalah dana.
  • Bahkan bantuan pun kadang cuma "bungkus program" yang ujung-ujungnya membebani.

Kapan (When) Logika Sehat Akan Digunakan?

Harusnya, ketika negara butuh dana besar untuk kemaslahatan umum, langkah pertama bukan langsung menoleh ke kantong rakyat. Logika sehatnya, negara harus melakukan "bersih-bersih" internal dulu melalui:

  1. Pemangkasan Fasilitas Pejabat: Potong tunjangan yang tidak perlu, pakai mobil pribadi jika perlu, kurangi perjalanan dinas fiktif.
  2. Pengembalian Uang Korupsi: Kejar oknum terkait sampai tuntas, sita asetnya secara maksimal untuk kas negara.
  3. Optimalisasi Kekayaan Alam: SDA (minyak, gas, tambang) jangan dikasih ke asing. Kelola sendiri!
  4. Efisiensi Proyek: Stop proyek mercusuar yang tidak penting dan cuma buat gaya-gayaan.

Di Mana (Where) Solusi Sebenarnya Berada?

Kalau kita mau bandingkan dengan sistem Islam, cara pandangnya 180 derajat berbeda. Dalam Islam, rakyat itu adalah pihak yang wajib dijamin dan diurus (ma'shum). Negara punya kewajiban mutlak untuk:

Bagaimana (How) Kita Harus Bersikap?

Jadi, wajar banget kalau sekarang banyak yang nanya, "Kenapa tidak pejabat aja?"

Kalau pertanyaan itu dijawab dengan jujur, yang salah itu bukan sekadar orang atau oknumnya, tapi sistemnya. Selama sistemnya masih lebih sering minta ke rakyat daripada berbenah dari dalam, ya ide-ide "iuran versi baru" akan terus muncul dengan nama yang beda-beda.

Bukan rakyat pelit, tapi rakyat sudah mulai sadar: Siapa yang seharusnya ngurus dan siapa yang seharusnya diurus.

Barakallahufikum. Semoga kita makin melek sistem! ✨